Kegiatan ABI
Ustadz Ammar Fauzi: Jangan Buru-buru Sebut Informasi Hoaks atau Fakta

Jakarta, 30 September 2026 — Tidak semua informasi yang beredar harus segera diberi label hoaks atau fakta. Sebelum sampai pada kesimpulan, informasi perlu dipahami lebih dahulu dengan melihat gejalanya, mengajukan pertanyaan, mengidentifikasi persoalan, memeriksa informasi, lalu menarik kesimpulan. Gagasan tersebut menjadi inti pemaparan Ustadz Ammar Fauzi, Ph.D., dalam Seri 2 Training Kompetensi Digital yang digelar Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) DPP Ahlulbait Indonesia.
Training bertajuk “Hoax atau Fakta? Simulasi Literasi Media di Era Post-Truth” itu berlangsung Sabtu (26/9/2026) di Ruang Meeting Lantai 2 Kantor DPP ABI dan diikuti sekitar 23 peserta secara luring dan daring. Ustadz Ammar Fauzi merupakan Direktur Indonesia Berfilsafat sekaligus staf pengajar Program Magister Filsafat Islam STFI Sadra.

Ustadz Ammar Fauzi mengajak peserta memahami informasi secara bertahap sebelum menyebutnya hoaks atau fakta.
Baca juga: PSDM ABI Gelar Sosialisasi Hukum Anti-Perundungan di MA Shiddiqah Zahra
Dalam pelatihan tersebut, Ustadz Ammar Fauzi mengajak peserta tidak terburu-buru memberikan label hoaks atau fakta terhadap sebuah informasi. Menurut dia, kedua label tersebut baru dapat diberikan setelah informasi dipahami. “Antara hoaks dan fakta itu masih pada tahapan pemahaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, informasi yang diterima perlu diperlakukan terlebih dahulu sebagai gejala. Setelah ditanggapi, gejala tersebut diidentifikasi menjadi masalah, dianalisis, dicari pemecahannya, kemudian baru ditarik konklusi. Menurut dia, sesuatu yang terlihat di permukaan belum tentu merupakan persoalan yang sebenarnya.
“Sering kali kita menganggap sesuatu sudah menjadi masalah, padahal sebenarnya masih berupa gejala,” ujarnya.
Dalam konteks digital, kehati-hatian tersebut semakin penting karena informasi yang belum jelas dapat dengan cepat diteruskan melalui media sosial dan berdampak kepada orang lain.
“Kalau debu vulkanik, yang celaka matanya sendiri. Tapi kalau informasi, bukan hanya dia yang bisa celaka. Orang lain juga bisa terdampak karena informasi itu dibicarakan dan disebarkan di media sosial,” kata Ustadz Ammar Fauzi.
Karena itu, ia meminta peserta peka terhadap informasi yang terasa janggal atau mengganjal, bukan dengan langsung mengambil kesimpulan, melainkan dengan menyadari bahwa informasi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut.
“Kalau ada sesuatu yang mengusik pikiran atau mengganjal di hati, tanggapi. Jangan langsung diabaikan begitu saja,” ujarnya.
Dimulai dari Pertanyaan “Apakah?”
Salah satu cara yang diperkenalkan Ustadz Ammar Fauzi adalah memulai proses berpikir dengan pertanyaan sederhana: “apakah?” Menurut dia, pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk sebelum seseorang bergerak kepada pertanyaan lain seperti mengapa, bagaimana, kapan, atau di mana.
“Mulainya dari apakah, kemudian adakah, lalu mengapa,” katanya.
Baca juga: DPP ABI Gelar Rapat Pleno Nasional, Dewan Syura Luncurkan Dua Lembaga Strategis
Pertanyaan tersebut membantu seseorang menempatkan informasi dalam posisi netral. Informasi belum dianggap benar, tetapi juga belum dianggap salah.
“Tempatkan dulu sesuatu itu di titik nol. Bukan negatif, juga bukan positif,” ujarnya.
Sikap tersebut penting ketika seseorang berhadapan dengan isu sensitif karena pemahaman, pengalaman, atau keyakinan sebelumnya dapat memengaruhi cara menerima informasi. Akibatnya, proses memahami dapat berubah menjadi upaya membenarkan apa yang sejak awal sudah diyakini.
Jangan Langsung Lompat ke Kesimpulan
Ustadz Ammar Fauzi menjelaskan, kesalahan dalam memahami informasi sering terjadi ketika seseorang melewatkan tahapan berpikir dan langsung menarik kesimpulan.
“Kalau ada lompatan, gejalanya tidak kita pelajari, langsung saja masuk ke pemecahan masalah atau bahkan langsung ke kesimpulan,” katanya.
Menurut dia, proses memahami perlu dilakukan sebelum menentukan apakah sesuatu benar atau tidak. Kejelasan informasi juga perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum masuk pada tahap inferensi.
“Kalau sudah jelas dan pemahaman kita sudah jelas, tahap berikutnya adalah menentukan benar atau tidak. Itu istilahnya inferensi,” jelasnya.
Karena itu, kemampuan mendefinisikan istilah menjadi bagian penting dalam proses berpikir. Seseorang tidak dapat menilai sebuah pernyataan jika kata-kata yang digunakan di dalamnya belum dipahami secara jelas.
Media Sosial Memerlukan Ketelitian
Tantangan tersebut semakin besar di era digital karena masyarakat menerima informasi dalam jumlah besar melalui media sosial, grup percakapan, video, dan berbagai platform lainnya. Ustadz Ammar Fauzi mengingatkan agar pembaca berpegang pada kata-kata yang benar-benar disampaikan dan tidak menambahkan makna dari pemahamannya sendiri.
“Kalau ada berita di media sosial, jadilah kita seperti pelaku media, seperti wartawan. Jangan ditambah-tambahin,” katanya.
Baca juga: DPP ABI Gelar Pelatihan Keamanan Data dan Ancaman Siber
“Maknailah setiap kata,” ujarnya.
Menurut dia, kebiasaan tersebut dapat membantu masyarakat menghindari tafsir yang berlebihan dan kesimpulan yang terburu-buru ketika berhadapan dengan informasi digital.
Literasi Digital Dimulai dari Diri Sendiri
Pelatihan tersebut juga menekankan pentingnya memeriksa diri sendiri sebelum menilai informasi atau mengkritik orang lain. Menurut Ustadz Ammar Fauzi, seseorang perlu memastikan terlebih dahulu apakah dirinya benar-benar memahami informasi yang diterima.
“Jangan kita ngomongin orang lain dulu. Jangan kita urusin media dulu. Kita dulu. Kita paham atau tidak?” ujarnya.
Ia menilai kebiasaan bertanya kepada diri sendiri dapat menjadi langkah awal membangun budaya berpikir kritis. Dalam sesi tanya jawab, peserta juga mengangkat persoalan mengenai cara membedakan fakta, opini, dan asumsi.
Ustadz Ammar Fauzi menjelaskan bahwa kecenderungan mengambil kesimpulan dengan cepat berkaitan dengan shortcut dalam berpikir. Ketika seseorang ingin menggunakan energi berpikir seminimal mungkin, ia cenderung mengambil jalan pintas dalam memahami sebuah gejala.
Baca juga: DPP ABI Gelar Pelatihan Komunikasi Efektif dan Negosiasi: Perkuat Tradisi Dialog Sehat
Melalui Seri 2 Training Kompetensi Digital tersebut, Departemen PSDM DPP Ahlulbait Indonesia tidak hanya mengajak peserta mengenali hoaks, tetapi juga memperkenalkan cara berpikir ketika berhadapan dengan informasi yang belum jelas.
Pesan utama yang disampaikan Ustadz Ammar Fauzi adalah bahwa informasi tidak harus segera ditempatkan sebagai “hoaks” atau “fakta”. Ada proses yang perlu dilalui: mengenali gejala, menanggapinya dengan bertanya, mengidentifikasi, memeriksa, lalu menarik kesimpulan.
Literasi media, dengan demikian, tidak berhenti pada kemampuan menerima atau menolak informasi, tetapi juga pada kemampuan memahami sebelum menyimpulkan. []
Baca juga: Wawancara Eksklusif | Fahmi Shahab: Komunikasi dan Negoisasi Efektif, Jalan Dialog Sehat







