Kegiatan ABI
Ketum ABI: Kaderisasi ABI Tak Hanya Menyiapkan Pengurus, tetapi Membentuk Manusia

Jakarta, 30 September 2026 — Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (Ketum ABI) Ustadz Zahir Yahya menegaskan bahwa kaderisasi tidak cukup diarahkan untuk mencetak calon pengurus yang menguasai keterampilan organisasi. Kaderisasi harus membentuk manusia yang memahami, menghayati, dan berkomitmen pada keyakinan, nilai, serta budaya yang menjadi fondasi organisasi.
Pesan tersebut disampaikan dalam Training of Trainers (TOT) Instruktur Pendidikan Tingkat Dasar yang digelar Departemen Kaderisasi DPP ABI di Gedung ICC Jakarta, Sabtu-Minggu (26-27/9/2026). Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Jenderal DPP ABI Sayyid Ali Ridho Assegaf dan Wakil Bendahara Umum DPP ABI Ir. Fatah Masinai, serta diikuti delegasi dari DPW Jateng, DPW Sulsel, DPW Kaltim, Pimnas Pandu, dan Pimnas Muslimah.
Baca juga: Kaderisasi ABI: Menjemput Masa Depan dengan Tiga Pilar
Dalam pembekalannya, Ustadz Zahir menjelaskan bahwa kemampuan manajerial, komunikasi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan tetap penting, tetapi tidak memadai tanpa fondasi keyakinan, nilai, dan budaya organisasi. Nilai-nilai tersebut tidak cukup berhenti sebagai rumusan dalam dokumen, melainkan harus dipahami dan tertanam dalam diri pengurus dan kader.
Karena itu, kaderisasi dipandang sebagai proses panjang yang mencakup identifikasi, rekrutmen, pembinaan, penguatan pemahaman, penugasan, serta monitoring dan evaluasi. Kader pun tidak semata diproyeksikan menjadi pengurus ABI, tetapi dapat mengambil peran di berbagai ruang kehidupan masyarakat sesuai kapasitasnya.
Bagi ABI, kaderisasi juga berkaitan dengan gagasan penantian Imam Zaman afs yang diwujudkan melalui kerja nyata dan pengabdian di tengah organisasi, masyarakat, bangsa, dan negara.

Ketua Umum ABI Ustadz Zahir Yahya saat menyampaikan materi “Penguatan Visi dan Misi” dalam TOT Instruktur Pendidikan Tingkat Dasar DPP ABI di Gedung ICC Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Kaderisasi sebagai Pembentukan Manusia Organisasi
Rangkaian kegiatan dimulai Sabtu pagi dengan registrasi dan upacara pembukaan yang meliputi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lagu Indonesia Raya, Hymne Ahlulbait Indonesia, sambutan, dan doa. Setelah itu, Ustadz Zahir menyampaikan materi “Penguatan Visi dan Misi”.
Ketum ABI mengingatkan agar keterbatasan fasilitas, anggaran, maupun sarana organisasi tidak selalu ditempatkan sebagai penyebab utama kemandekan. Menurutnya, persoalan tersebut dapat dihadapi apabila organisasi memiliki sumber daya manusia yang kuat dalam memahami dan menghayati keyakinan, nilai, serta budaya organisasi.
Dalam kerangka itu, TOT menjadi bagian dari upaya menyiapkan instruktur yang mampu membina kader secara sistematis. Instruktur tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga memahami arah pembentukan kader dan menerjemahkannya dalam proses pendidikan.
Memahami Visi dan Membangun Masyarakat
Dalam materi visi dan misi, Ustadz Zahir menjelaskan bahwa visi ABI adalah membangun umat Islam dan pengikut Ahlulbait di Indonesia secara menyeluruh. Pembangunan tersebut mencakup berbagai bidang kehidupan, antara lain pendidikan, ekonomi, budaya, dan seni.
Menurutnya, masyarakat tidak cukup dipahami sebagai sekumpulan orang dengan identitas keagamaan yang sama. Di dalamnya terdapat kesamaan keyakinan dan nilai, keterhubungan dengan sejarah, gambaran masa depan, visi dan tujuan bersama, serta tatanan kemasyarakatan yang menjelaskan fungsi dan peran setiap unsur.
Visi tersebut membutuhkan manusia yang mampu menerjemahkannya dalam kehidupan nyata. Di titik ini, kaderisasi menjadi jembatan antara visi organisasi dan kerja nyata di tengah masyarakat. Kaderisasi bukan sekadar menyiapkan orang untuk mengisi struktur, tetapi membentuk kader yang memahami arah yang hendak dituju, nilai yang menjadi pijakan, serta peran yang dapat dijalankan untuk mewujudkannya.
Ustadz Zahir menilai fondasi mengenai identitas, sejarah, dan arah masa depan komunitas telah ada. Tantangannya adalah merumuskan pemahaman tersebut secara jelas dan membangun konsistensi, terutama ketika memasuki tema-tema sensitif yang membutuhkan perumusan formal.
Dalam kerangka tatanan masyarakat pengikut Ahlulbait, terdapat sejumlah unsur yang perlu dipahami, yakni keulamaan sebagai rujukan keagamaan, masyarakat umum, lembaga-lembaga yang menjalankan fungsi sosial, serta kader yang memiliki kapasitas, kompetensi, dan komitmen untuk memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.
Dengan posisi tersebut, kader tidak hanya dibutuhkan untuk kepentingan internal organisasi, tetapi juga dipersiapkan untuk mengambil peran di berbagai ruang kehidupan masyarakat.
Baca juga: PTD ABI Garut Perkuat Kaderisasi, Dorong Kader Aktif Mengabdi di Masyarakat

Kaderisasi ABI diarahkan untuk melahirkan kader yang memahami visi organisasi dan mampu menerjemahkannya dalam kerja nyata di masyarakat.
Dari Visi ke Sistem Kaderisasi
Setelah materi visi dan misi, gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam kerangka pendidikan kader. Rangkaian Sabtu pagi dilanjutkan dengan Road Map Kaderisasi oleh Ustadz Jawad serta Diagram Alur dan GBPP Pendidikan Tingkat Dasar oleh Arif Ambari.
Sabtu siang hingga sore, peserta mengikuti materi inti Pendidikan Tingkat Dasar, yakni pengantar Keimanan oleh Ustadz Jawad dan Keislaman oleh Sayyid Abbas Al Hasni. Setiap sesi diikuti diskusi dan sharing untuk memperdalam materi serta penerapannya dalam pendidikan kader.
Suasana pelatihan berlangsung serius sekaligus hangat. Kesungguhan mengikuti pembekalan berjalan beriringan dengan diskusi, sharing, dan interaksi antarpeserta dari berbagai wilayah.
Sabtu malam, pembekalan dilanjutkan dengan materi Patriotisme oleh Ustadz Jawad, disertai diskusi dan sharing, sebelum rangkaian hari pertama berakhir.
Baca juga: DPW ABI Kalimantan Timur Gelar Pendidikan Tingkat Menengah, Perkuat Kaderisasi Organisasi
Memperkuat Materi dan Tata Kelola Pendidikan
Minggu pagi, peserta mengikuti materi Keorganisasian oleh Sayyid Abbas Al Hasni, dilanjutkan Ke-ABI-an oleh Ustadz Jawad. Sesi berikutnya membahas Tata Kelola Pendidikan Tingkat Dasar yang disampaikan Arif Ambari.
Rangkaian tersebut melengkapi lima materi utama Pendidikan Tingkat Dasar yang menjadi bagian dari pembekalan instruktur. Diskusi dan sharing tetap menjadi bagian dari proses pembelajaran dengan suasana yang akrab tanpa mengurangi keseriusan peserta.

Menyiapkan Instruktur di Wilayah
Minggu siang, kegiatan ditutup dengan acara penutupan dan ramah tamah. Dua hari pembekalan diarahkan untuk memperkuat kesiapan instruktur dan mentor dalam merancang serta melaksanakan Pendidikan Tingkat Dasar di berbagai wilayah, termasuk dalam metodologi pendidikan, mentoring, monitoring, dan evaluasi.
Melalui TOT, penyiapan instruktur ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun kaderisasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Proses tersebut tidak hanya menekankan penguasaan materi dan metode, tetapi juga kemampuan menerjemahkan visi, keyakinan, nilai, dan budaya organisasi ke dalam pendidikan kader serta kerja nyata di tengah masyarakat. []
Baca juga: Departemen Kaderisasi DPW ABI DKI Jakarta Gelar Pendidikan Kader 2025







