Perspektif ABI
Dari Karbala untuk Indonesia: Ustadz Zahir Yahya Tegaskan Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa

Peringatan Syahadah Imam Husain a.s. di Jakarta mengingatkan bahwa melawan kezaliman hanyalah tujuan antara, tujuan akhirnya adalah memerdekakan manusia dan menjaga kedaulatan bangsa dari segala bentuk tekanan.
Jakarta, 27 Juni 2026 — Apakah Imam Husain a.s. bangkit semata-mata untuk melawan kezaliman? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk Ustadz Zahir Yahya ketika menyampaikan ceramah pada peringatan Syahadah Imam Husain a.s. yang diselenggarakan Lembaga Komunikasi Ahlul Bayt (LKAB) Jakarta, Jumat (26/6/2026). Di hadapan ribuah hadirin yang memadati majelis bertema “Inspirasi Abadi Kemanusiaan dan Perlawanan terhadap Ketidakadilan”, Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI) tersebut justru mengajukan sebuah tesis yang menggugah.
Menurutnya, melawan kezaliman hanyalah salah satu bagian dari perjuangan Imam Husain. Tujuan yang jauh lebih besar adalah menjaga kemuliaan dan martabat manusia.
Tangisan Nabi dan Kabar dari Langit
Gagasan itulah yang kemudian mengalir sepanjang ceramah. Ustadz Zahir tidak memulai pembahasannya dari peristiwa peperangan di Padang Karbala, melainkan dari kedudukan Imam Husain di sisi Rasulullah SAW. dan perhatian nabi terhadap syahadah cucu Nabi tersebut.
“Hari ini kita bersama umat Islam di dunia memperingati tragedi gugurnya Abu Abdillah al-Husain, yang merupakan tragedi terbesar dalam sejarah kehidupan umat manusia,” ujarnya mengawali ceramah.
Menurutnya, keagungan tragedi Karbala tidak hanya tampak dari besarnya pengorbanan yang terjadi pada hari Asyura, tetapi juga dari cara Rasulullah SAW. menyikapi peristiwa itu jauh sebelum terjadi. Berbagai riwayat yang terdapat dalam literatur Syiah maupun Sunni sama-sama menggambarkan kesedihan Rasulullah SAW. ketika Malaikat Jibril menyampaikan kabar bahwa Imam Husain kelak akan gugur di Karbala.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Dari Ghadir ke Perlawanan dalam Menjaga Risalah Kepemimpinan Ilahi
Di antara riwayat yang paling dikenal adalah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Tirmidzi, al-Hakim, dan sejumlah ulama hadis lainnya. Dalam riwayat tersebut diceritakan bahwa ketika Imam Husain kecil berada di pangkuan Rasulullah SAW., Malaikat Jibril datang membawa kabar yang menggetarkan.
“Atuhibbuhu?” “Apakah engkau mencintainya?”
Rasulullah SAW. menjawab, “Ya, aku mencintainya.”
Jibril kemudian berkata, “Sesungguhnya umatmu akan membunuh cucumu ini. Jika engkau menghendaki, aku akan menunjukkan kepadamu tempat ia akan gugur.”
Sebagai tanda atas peristiwa itu, Jibril menyerahkan segenggam tanah merah dari Karbala kepada Rasulullah SAW. Tanah tersebut kemudian dipercayakan kepada Ummu Salamah seraya berpesan agar disimpan. Rasulullah SAW. bersabda, apabila suatu hari tanah itu berubah menjadi darah, saat itulah Imam Husain telah gugur sebagai syahid.
Bagi Ustadz Zahir, riwayat tersebut tidak dimaksudkan semata-mata untuk membangkitkan kesedihan. Ada pesan yang jauh lebih besar yang hendak dipahami umat.
“Perhatian para nabi terdahulu dan juga Nabi Muhammad SAW. terhadap peristiwa syahidnya Imam Husain menunjukkan keagungan peristiwa tersebut di mata para nabi dan tentu juga di mata Allah SWT.”
Ustadz Zahir mengajak hadirin menarik sebuah kesimpulan mendasar. Jika syahadah Imam Husain telah diberitakan kepada para nabi dan mendapat perhatian sedemikian besar dari Rasulullah SAW., maka pengorbanan yang terjadi di Karbala pasti mengandung tujuan yang sama agungnya.
“Peristiwa pengorbanan agung yang terjadi di Karbala tidak mungkin terjadi kecuali untuk sebuah tujuan dan pelajaran yang juga agung.”
Menurutnya, terlalu sederhana apabila tragedi Karbala dipahami hanya sebagai ajakan melawan kezaliman. Nilai itu memang ada, tetapi bukan inti dari seluruh pengorbanan Imam Husain.
“Allah tidak mungkin merelakan kekasih-Nya, Al-Husain, terbantai dengan cara yang begitu tragis apabila tujuannya hanya untuk menyampaikan konsep sederhana yang bahkan telah dipahami umat Islam, seperti keharusan melawan kezaliman.”
Kalimat itu menjadi titik balik seluruh ceramahnya. Dengan intonasi yang tenang namun tegas, Ustadz Zahir kemudian menyampaikan tesis yang menjadi benang merah pembahasan selanjutnya.
“Ketahuilah, melawan kezaliman hanyalah bagian kecil dari tujuan kebangkitan Imam Husain.”
Karbala: Perjuangan Martabat, Bukan Semata-mata Perlawanan
Pernyataan tersebut menggeser cara pandang terhadap Asyura. Tragedi Karbala tidak lagi ditempatkan semata sebagai kisah heroik melawan tirani, tetapi sebagai gerakan besar untuk mempertahankan sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu kemuliaan dan martabat manusia.
Ustadz Zahir membawa hadiri memasuki inti pemikirannya. Mengapa Imam Husain memilih syahadah daripada tunduk kepada Yazid? Mengapa beliau mempersilakan para sahabat meninggalkan dirinya pada malam Asyura? Dan mengapa pesan Karbala tetap relevan bagi kehidupan bangsa-bangsa modern?
Seluruh pertanyaan itu, menurutnya, hanya dapat dijawab apabila Karbala dipahami sebagai perjuangan untuk menjaga kemerdekaan manusia dari segala bentuk kehinaan dan dominasi.
Pembahasan mengenai hal itulah yang kemudian menjadi poros utama ceramah Ustadz Zahir Yahya.
Jika Karbala bukan semata-mata perlawanan terhadap kezaliman, lalu apa tujuan terbesar yang diperjuangkan Imam Husain?
Pertanyaan itulah yang kemudian disampaikan oleh Ustadz Zahir dengan membawa ribuan hadiri memasuki inti peristiwa Asyura. Menurutnya, seluruh pengorbanan Imam Husain bermuara pada satu tujuan yang jauh lebih mendasar daripada hanya menggulingkan seorang penguasa zalim, yakni menjaga kemuliaan dan martabat manusia.
“Bulan Muharram, khususnya hari Asyura, adalah bulan kemuliaan, bulan martabat manusia,” ujarnya.
“Imam Husain gugur dan dibantai demi menegakkan kemuliaan dan martabat manusia.”
Kalimat itu menjadi fondasi argumentasi yang terus di bangun. Ustadz Zahir mengajak hadiri membaca kembali sejarah Karbala secara utuh, bukan hanya melalui akhir tragedinya. Menurutnya, Imam Husain tidak pernah menjadikan peperangan sebagai tujuan. Sejarah menunjukkan bahwa beliau masih membuka berbagai jalan untuk menghindari pertumpahan darah selama kehormatan manusia tetap terjaga.
Situasi berubah ketika pasukan Yazid memaksakan satu pilihan yang tidak lagi menyisakan ruang bagi kebebasan nurani. Imam Husain hanya dihadapkan pada dua kemungkinan: tunduk melalui baiat kepada Yazid atau mempertahankan kehormatan dengan segala konsekuensinya.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Perang Iran Hari Ini, dari Sabda Imam Ali ke Strategi Imam Ridha
Dalam keadaan seperti itulah Imam Husain mengucapkan kalimat yang kemudian bergema sepanjang sejarah. “Hayhāt minnā al-dhillah.” Jauh dari kami menerima kehinaan.
Menurut Ustadz Zahir, kalimat tersebut bukan hanya slogan perjuangan, melainkan deklarasi tentang hakikat manusia. Imam Husain menolak segala bentuk ketundukan yang lahir dari paksaan karena kehormatan manusia tidak dapat dipertukarkan dengan keselamatan sesaat.
“Al-Husain bangkit dan gugur untuk menegakkan kehormatan, kemuliaan, dan martabat manusia,” tegasnya.
Ustadz Zahir kemudian mengingatkan agar pesan Karbala tidak dipersempit hanya menjadi simbol jihad atau amar makruf nahi mungkar. Semua dimensi itu memang hadir dalam perjuangan Imam Husain, tetapi bukan alasan utama mengapa beliau dibunuh.
“Benar, dalam kebangkitan ini ada unsur jihad. Ada unsur amar makruf nahi mungkar. Ada unsur perlawanan terhadap kezaliman. Semua itu benar. Namun musuh-musuh Al-Husain tidak membunuh beliau karena tujuan-tujuan tersebut.”
Mereka, lanjutnya, membantai Imam Husain karena satu alasan yang sangat jelas.
“Mereka membunuh beliau karena beliau menolak menerima kehinaan ketika dipaksa berbaiat kepada Yazid.”
Dari sinilah Ustadz Zahir menghubungkan tragedi Karbala dengan ungkapan lain yang hidup dalam khazanah perjuangan Imam Husain.
“Al-mawtu awlā min rukūbi al-‘ār.” Kematian lebih mulia daripada menanggung kehinaan.
Ustadz Zahir juga menjelaskan bahwa ungkapan tersebut bukan ajakan mengagungkan kematian. Yang dimuliakan adalah keberanian mempertahankan kehormatan ketika manusia dipaksa memilih antara martabat dan ketundukan.
“Melawan kezaliman hanyalah tujuan antara,” ujarnya. “Tujuan akhirnya adalah memerdekakan dan memuliakan manusia.”
Untuk menjelaskan gagasan itu, Ustadz Zahir mengajukan pertanyaan yang sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. “Mengapa kita melawan kezaliman? Mengapa kita melawan agresor?”
Jawabannya, menurutnya, bukan semata karena kezaliman itu buruk, melainkan karena setiap bentuk kezaliman selalu berusaha merampas kebebasan manusia. “Orang zalim hendak merampas kemerdekaan kita. Agresor hendak merampas kemerdekaan dan martabat sebuah bangsa.”
Karena itulah Imam Husain menentang kezaliman dalam rangka membebaskan manusia dari segala bentuk penghinaan. Perjuangannya bukan hanya memenangkan peperangan, tetapi mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang merdeka.
Malam Asyura: Deklarasi Kemerdekaan Manusia
Ustadz Zahir mengajak hadirin memperhatikan satu peristiwa yang menurutnya merupakan pelajaran paling berharga dari seluruh rangkaian tragedi Karbala, yakni malam Asyura.
Sepanjang perjalanan dari Madinah menuju Makkah hingga akhirnya tiba di Karbala, Imam Husain mengajak kaum Muslimin bergabung bersama rombongannya. Akan tetapi, ketika peperangan tinggal menunggu waktu, beliau justru melakukan sesuatu yang tidak lazim.
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Panji Perjuangan Imam Ali Khamenei Tak Boleh Jatuh
Beliau mempersilakan seluruh sahabat dan anggota keluarganya meninggalkan perkemahan. Tidak ada ancaman. Tidak ada tekanan. Tidak ada tuntutan agar mereka tetap bertahan.
Bahkan, menurut berbagai riwayat, Imam Husain memadamkan lampu-lampu di perkemahan agar siapa pun yang hendak pergi dapat meninggalkan tempat itu tanpa merasa sungkan. “Bukankah ini sesuatu yang luar biasa?” ujar Ustadz Zahir.
Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan bahwa Imam Husain tidak menghendaki pengikut yang bertahan karena rasa malu, loyalitas buta, ataupun tekanan pemimpin. Beliau menghendaki manusia-manusia yang memilih jalan perjuangan dengan kesadaran penuh. “Al-Husain hendak memastikan bahwa para pembelanya membela beliau bukan karena alasan apa pun selain karena mereka adalah manusia-manusia merdeka yang bermartabat, yang mengambil keputusan dari dirinya sendiri.”
Menurut Ustadz Zahir, letak pelajaran terbesar dari malam Asyura. Bahkan ketika seseorang berada di jalan yang benar, bahkan ketika ia membela Imam Husain sekalipun, keputusan itu harus lahir dari kebebasan berpikir, kebebasan bersikap, dan kebebasan bertindak.
“Al-Husain hendak menyampaikan kepada umat manusia bahwa kemerdekaan adalah segala-galanya.”
“Martabat yang berdiri di atas kemerdekaan, ketika manusia memutuskan sendiri jalan hidupnya, itulah yang harus dijaga.”
Malam Asyura akhirnya bukan hanya dikenang sebagai malam terakhir sebelum peperangan. Di tangan Imam Husain, malam itu menjelma menjadi deklarasi tentang kebebasan manusia. Tidak ada kemuliaan tanpa kemerdekaan, dan tidak ada kemerdekaan tanpa keberanian mempertahankan martabat.
Dari Individu ke Bangsa: Martabat Kolektif
Pelajaran yang dipetik dari malam Asyura tidak berhenti pada kebebasan individu dalam menentukan pilihan hidupnya. Dari situ Ustadz Zahir memperluas cakrawala pembahasannya. Jika kemerdekaan menjadi syarat tegaknya martabat seorang manusia, apakah prinsip yang sama juga berlaku bagi kehidupan sebuah bangsa?
Pertanyaan itu dijawabnya dengan mengajak hadirin kembali kepada fitrah manusia. Menurutnya, setiap insan sejak awal diciptakan dengan kecenderungan untuk mencintai kemuliaan. Kehormatan bukanlah sesuatu yang dipelajari kemudian, melainkan dorongan yang telah ditanamkan Allah dalam diri setiap manusia.
“Manusia bukan hanya makhluk yang dimuliakan oleh Tuhannya,” ujarnya, “tetapi juga diberi kecenderungan untuk meraih kemuliaan dan kehormatan.”
Dorongan itu, lanjutnya, dapat terlihat dalam berbagai bentuk. Ada yang mengejar kemuliaan melalui ilmu pengetahuan, pengabdian, dan amal kebajikan. Namun tidak sedikit pula yang mencarinya melalui jabatan, pangkat, kekayaan, atau banyaknya pengikut. Jalan yang ditempuh boleh berbeda, tetapi tujuan yang hendak dicapai tetap sama, yakni memperoleh penghormatan dan martabat.
Bagi Ustadz Zahir, hukum yang berlaku pada individu juga berlaku pada sebuah bangsa. Bangsa bukan sekadar kumpulan manusia yang tinggal di wilayah yang sama. Ia merupakan entitas yang dibentuk oleh sejarah, budaya, bahasa, cita-cita, dan kesadaran untuk hidup terhormat di tengah bangsa-bangsa lain.
“Sebagaimana setiap manusia mendambakan kemuliaan, setiap bangsa pun mendambakan kehormatan dan martabat.”
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: “Trump Ingin Ganti Rezim Iran, Bahkan Slogan Rakyat Tak Berhasil Diubah
Ceramah Ustadz Zahir mulai bergerak dari wilayah etika menuju pemikiran kebangsaan. Ustadz Zahir mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan suatu bangsa sering kali terjebak pada indikator-indikator yang bersifat material. Kemajuan ekonomi, kekuatan militer, besarnya pendapatan per kapita, maupun luasnya hubungan internasional memang penting, tetapi semuanya tidak otomatis melahirkan bangsa yang bermartabat.
“Sebagaimana kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh hartanya, pangkatnya, jabatannya, atau banyaknya pengikutnya,” katanya, “demikian pula kemuliaan sebuah bangsa tidak ditentukan hanya oleh pertumbuhan ekonominya atau luasnya hubungan internasionalnya.”
Menurutnya, bangsa yang benar-benar bermartabat bukanlah bangsa yang sekadar tampak kuat dari luar, melainkan bangsa yang memiliki kebebasan menentukan arah hidupnya sendiri.
Ustadz Zahir menyampaikan salah satu gagasan paling penting dalam keseluruhan ceramahnya. “Kehormatan, kemuliaan, dan martabat sebuah bangsa ditentukan ketika bangsa itu mampu menentukan seluruh kebijakannya sendiri, merencanakan seluruh programnya sendiri, dan menjadikan kepentingan nasional sebagai satu-satunya pertimbangan.”
Dengan kata lain, kemerdekaan tidak berhenti pada pengakuan politik atau simbol-simbol kenegaraan. Kemerdekaan memperoleh maknanya ketika suatu bangsa benar-benar memiliki kedaulatan dalam mengambil keputusan tanpa tekanan, paksaan, ataupun dikte dari kekuatan lain.
“Seluruh prestasi yang dicapai sebuah bangsa tidak akan mengantarkannya kepada kehormatan apabila prestasi itu lahir karena pengaruh, tekanan, atau bahkan dikte dari pihak asing.”
Kalimat tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan tragedi Karbala dengan realitas kehidupan bangsa-bangsa modern. Jika Imam Husain menolak tunduk kepada Yazid demi menjaga martabat manusia, maka bangsa-bangsa pada setiap zaman juga dituntut menjaga martabatnya dengan mempertahankan kemandirian dalam menentukan masa depannya sendiri.
Tauhid dan Penolakan terhadap Thaghut
Bagi Ustadz Zahir, prinsip itu bukan hanya pandangan politik, namun berakar langsung pada ajaran tauhid yang dibawa seluruh nabi. “Kemuliaan dan martabat yang dicari oleh setiap manusia dan setiap bangsa pada hakikatnya juga merupakan perintah agama.”
Ustadz Zahir kemudian mengutip firman Allah Swt. dalam Surah An-Nahl ayat 36:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat untuk menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'” (QS. An-Nahl [16]: 36)
Menurut Ustadz Zahir, ayat tersebut memuat benang merah yang menyatukan seluruh risalah kenabian. Semua nabi datang membawa dua seruan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu mengesakan Allah dan membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada-Nya.
Tauhid, dengan demikian, bukan hanya persoalan akidah yang berkaitan dengan hubungan manusia dan Tuhan. Tauhid juga melahirkan konsekuensi sosial, politik, dan peradaban. Seseorang yang mengakui hanya Allah sebagai satu-satunya Tuhan tidak sepatutnya menyerahkan kemerdekaan dirinya kepada kekuatan lain yang hendak menguasai hati, pikiran, ataupun keputusan hidupnya.
Prinsip yang sama, lanjut Ustadz Zahir, berlaku pula bagi sebuah bangsa. Bangsa yang menjadikan tauhid sebagai fondasi kehidupannya dituntut untuk menjaga kebebasan dalam menentukan arah kebijakannya sendiri. Sebab kemerdekaan bukan hanya hak politik, melainkan bagian dari amanah keimanan.
Ustadz Zahir mengantarkan hadirin kepada pembahasan berikutnya mengenai makna thaghut. Menurutnya, memahami konsep tersebut secara benar akan membantu umat membaca berbagai bentuk dominasi yang terus berubah dari zaman ke zaman, sekaligus memahami mengapa Al-Qur’an menjadikan penolakan terhadap thaghut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari seruan tauhid.
Pembahasan mengenai thaghut, menurut Ustadz Zahir, tidak dapat dilepaskan dari misi besar para nabi. Setelah memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah, Al-Qur’an secara bersamaan memerintahkan agar manusia menjauhi thaghut. Kedua perintah itu bukanlah dua ajaran yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan yang membentuk fondasi kemerdekaan manusia.
Namun, Ustadz Zahir mengingatkan bahwa makna thaghut tidak boleh dipersempit hanya pada berhala atau simbol-simbol penyembahan masa lampau. Dalam pandangannya, thaghut adalah setiap bentuk kekuasaan yang melampaui batas, mengambil hak yang bukan miliknya, lalu memaksa manusia atau bangsa lain tunduk kepada kehendaknya.
“Thaghut bisa berupa manusia, bisa berupa pemerintah, bisa berupa kekuatan politik, bisa berupa sistem kekuasaan, bahkan bisa berupa kekuatan adidaya internasional yang melampaui batas dan menerjang kemerdekaan orang lain,” ujarnya.
Menurutnya, akar kata thaghut berasal dari thughyan, yaitu sikap melampaui batas. Ketika seseorang, sebuah lembaga, atau suatu negara merasa berhak mengendalikan kehidupan pihak lain, memaksakan kehendaknya, atau mencabut kebebasan mereka dalam menentukan pilihan, di situlah praktik thughyan berlangsung.
Karena itu, lanjut Ustadz Zahir, perintah Al-Qur’an untuk menjauhi thaghut bukan sekadar larangan teologis, melainkan seruan pembebasan.
“Ketika Allah memerintahkan umat manusia menjauhi thaghut, artinya Allah memerintahkan kita menjadi manusia yang merdeka dan bangsa yang merdeka.”
Baginya, menolak thaghut berarti menolak segala bentuk dominasi yang merendahkan martabat manusia. Penolakan itu tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui keberanian menjaga kebebasan berpikir, kebebasan menentukan sikap, dan kebebasan menetapkan arah kehidupan tanpa dikendalikan oleh kepentingan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.
Untuk memperkuat pandangannya, Ustadz Zahir mengutip salah satu wasiat paling terkenal dari Imam Ali bin Abi Thalib a.s.
لَا تَكُنْ عَبْدَ غَيْرِكَ وَقَدْ جَعَلَكَ اللَّهُ حُرًّا
“Janganlah engkau menjadi budak orang lain, padahal Allah telah menjadikanmu seorang yang merdeka.”
Menurutnya, kalimat singkat itu merupakan manifestasi ajaran tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan bukan sekadar hak yang diberikan negara atau diakui oleh hukum, melainkan fitrah yang telah dianugerahkan Allah kepada setiap manusia. Oleh sebab itu, setiap bentuk penghambaan kepada selain Allah, baik kepada individu, kekuasaan, kepentingan politik, maupun tekanan ekonomi, pada hakikatnya merupakan penyimpangan dari tujuan penciptaan manusia.
Karbala: Warisan Universal untuk Seluruh Umat Manusia
Setelah meletakkan fondasi teologis tersebut, Ustadz Zahir membawa hadirin melihat Karbala dari sudut pandang yang lebih luas. Baginya, kebangkitan Imam Husain tidak pernah dimaksudkan menjadi milik satu kelompok atau satu mazhab. Nilai-nilai yang diperjuangkan di Padang Karbala telah melampaui batas-batas identitas keagamaan dan menjadi inspirasi bagi banyak tokoh dunia.
“Kebangkitan Imam Husain seharusnya bukan hanya menjadi milik orang-orang Syiah. Bahkan bukan semata-mata menjadi milik umat Islam,” ujarnya.
Ia kemudian mengutip pandangan penulis Kristen asal Lebanon, Antoine Bara, yang melalui karyanya Al-Husayn fi al-Fikr al-Masihi (Imam Husain dalam Pemikiran Kristen) menyimpulkan bahwa Imam Husain merupakan simbol universal bagi seluruh umat manusia. Setelah mengkaji perjalanan hidup cucu Rasulullah SAW. itu, Bara memandang bahwa perjuangan Karbala berbicara tentang nilai-nilai yang melampaui batas agama, suku, dan kebangsaan.
Ustadz Zahir mengutip salah satu pernyataan Antoine Bara yang paling dikenal.
“Seandainya Al-Husain berasal dari kalangan kami, niscaya kami akan mengibarkan panji-panjinya di setiap negeri, mendirikan mimbar-mimbar untuk mengenangnya, dan mengajak manusia kepada ajaran yang dibawanya.”
Bagi Ustadz Zahir, pandangan tersebut menunjukkan bahwa pesan Karbala mampu menyentuh hati siapa pun yang menghargai keadilan dan kemanusiaan.
Ustadz Zahir kemudian menyebut nama Presiden pertama India, Rajendra Prasad, sebagai contoh lain. Dalam pandangan tokoh yang dikenal sebagai salah seorang arsitek kemerdekaan India itu, pengorbanan Imam Husain telah melampaui batas geografis maupun agama. Karbala mewariskan satu pelajaran yang tetap relevan bagi setiap bangsa, yaitu bahwa kebenaran dan martabat manusia harus ditempatkan di atas kepentingan hidup itu sendiri.
Dengan menghadirkan pandangan tokoh-tokoh lintas agama dan bangsa, Ustadz Zahir ingin menunjukkan bahwa Asyura tidak hanya berbicara kepada umat Islam. Karbala berbicara kepada siapa pun yang menolak ketidakadilan, menghargai kebebasan, dan meyakini bahwa martabat manusia tidak boleh diperjualbelikan oleh kekuasaan.
Di titik inilah benang merah seluruh ceramah mulai tampak semakin jelas. Dari kisah tangisan Rasulullah SAW., penolakan Imam Husain terhadap baiat kepada Yazid, pelajaran malam Asyura, hingga konsep thaghut, semuanya bermuara pada satu gagasan besar, yaitu menjaga kemerdekaan dan martabat manusia sebagai amanah Ilahi.
Gagasan tersebut, menurut Ustadz Zahir, tidak boleh berhenti sebagai refleksi sejarah ataupun renungan spiritual. Nilai-nilai yang diwariskan Imam Husain harus hadir dalam kehidupan nyata, termasuk dalam cara sebuah bangsa memaknai kemerdekaannya.
Karena itulah, setelah menguraikan dimensi teologis, historis, dan universal dari Karbala, Ustadz Zahir mengajak hadirin menoleh kepada Indonesia. Bangsa yang telah memproklamasikan kemerdekaan lebih dari delapan dekade silam, menurutnya, memerlukan keberanian yang sama untuk menjaga kedaulatan, menentukan masa depannya sendiri, dan menolak segala bentuk tekanan yang menggerus martabat nasional.
Bagi Ustadz Zahir, di sinilah pesan Asyura menemukan relevansinya bagi Indonesia. Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa yang diperingati setiap tahun, melainkan amanah yang harus terus dijaga agar bangsa ini tetap berdiri dengan kepala tegak, bebas menentukan jalannya sendiri, dan tidak kehilangan kehormatan di hadapan bangsa-bangsa lain.
Indonesia dan Relevansi Asyura
Dari pembacaan atas sejarah Karbala, pelajaran malam Asyura, hingga konsep tauhid dan penolakan terhadap thaghut, Ustadz Zahir akhirnya mengajak hadirin mengarahkan pandangan kepada Indonesia. Baginya, nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain tidak berhenti sebagai warisan sejarah yang dikenang setiap Muharram. Nilai-nilai itu menuntut keberanian untuk diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Jika umat lain dari berbagai agama mampu mengambil inspirasi dari Al-Husain,” ujarnya, “maka sudah saatnya bangsa Indonesia juga mengambil pelajaran dari perjuangan dan pengorbanan Imam Husain untuk mengokohkan posisinya sebagai bangsa yang merdeka dan bermartabat.”
Menurut Ustadz Zahir, kemerdekaan Republik Indonesia bukanlah hadiah yang diberikan oleh penjajah. Kemerdekaan merupakan buah dari pengorbanan para pendiri bangsa dan jutaan rakyat yang rela mempertaruhkan harta, tenaga, air mata, bahkan darah demi lahirnya sebuah negeri yang berdaulat.
Karena itu, kemerdekaan tidak boleh dimaknai hanya sebagai peristiwa historis yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Proklamasi memang melahirkan negara, bendera, lagu kebangsaan, dan Undang-Undang Dasar 1945, tetapi semua itu, menurutnya, belum otomatis menjamin tegaknya martabat bangsa.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai bangsa yang telah merdeka?” tanyanya kepada hadirin.
“Apa yang harus kita lakukan agar kemerdekaan itu tetap terjaga dan bangsa ini terus hidup bermartabat di hadapan bangsa-bangsa lain?”
Pertanyaan itu dijawabnya dengan sebuah penegasan yang menjadi salah satu inti ceramahnya. Martabat bangsa, menurut Ustadz Zahir, tidak dibangun oleh retorika politik ataupun simbol-simbol diplomasi, melainkan oleh kemampuan sebuah bangsa menentukan arah kehidupannya sendiri.
“Jawaban untuk menjaga martabat bangsa tidak akan pernah ditemukan dalam pidato-pidato retoris para politisi,” ujarnya. “Martabat bangsa dijaga ketika kita tidak lagi hidup di bawah tekanan, pemaksaan, ataupun campur tangan kekuatan asing dalam bentuk apa pun.”
Tekanan tersebut, lanjutnya, tidak selalu hadir dalam bentuk agresi militer. Di era modern, dominasi dapat muncul melalui pengaruh politik, ketergantungan ekonomi, tekanan finansial, hingga berbagai mekanisme yang secara perlahan mengurangi kemandirian sebuah negara dalam menentukan kebijakannya.
Baca juga: Ustadz Zahir: Spiritualitas Ramadan Harus Melahirkan Kepedulian Sosial
Karena itu, Ustadz Zahir menegaskan bahwa kemerdekaan yang sejati setidaknya memiliki tiga unsur yang saling berkaitan:
Pertama, kemampuan merumuskan sendiri seluruh kebijakan dan arah pembangunan bangsa.
Kedua, kemampuan melaksanakan kebijakan tersebut berdasarkan kekuatan dan kehendak sendiri.
Ketiga, kedaulatan penuh sehingga setiap keputusan negara terbebas dari tekanan, intervensi, maupun dikte pihak lain.
“Apabila kita mampu merumuskan kebijakan dalam dan luar negeri, menyusun program pembangunan di berbagai bidang, dan melaksanakannya tanpa tekanan dari kekuatan mana pun, saat itulah kita dapat berbangga sebagai bangsa yang benar-benar merdeka dan bermartabat.”
Sebaliknya, apabila berbagai keputusan strategis masih ditentukan oleh kepentingan di luar kepentingan nasional, maka kemerdekaan yang dimiliki belum sepenuhnya menghadirkan martabat.
“Secara politik kita mungkin telah merdeka, tetapi dalam banyak bidang kita masih bergantung kepada bangsa-bangsa lain.”
Bagi Ustadz Zahir, kenyataan itu bukan alasan untuk berputus asa, melainkan panggilan bagi seluruh komponen bangsa untuk terus memperkuat kemandirian nasional. Ia berharap para pemimpin Indonesia mampu menjaga kehormatan bangsa dengan tidak mempertaruhkan kedaulatan negara demi kepentingan sesaat ataupun tekanan dari kekuatan mana pun.
Hayhāt minnā al-dhillah
Menjelang akhir ceramah, suasana majelis kembali hening. Setelah membawa hadirin menelusuri perjalanan panjang dari Madinah hingga Karbala, dari tragedi Asyura hingga makna kemerdekaan sebuah bangsa, Ustadz Zahir menutup seluruh argumentasinya dengan satu refleksi yang mengikat seluruh pembahasan.
“Kita mungkin sanggup menghadapi berbagai kesulitan ekonomi,” ujarnya.
“Kita mungkin mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.”
“Tetapi sebagai pengikut Abu Abdillah al-Husain, kita tidak akan pernah sanggup menanggung kehinaan.”
Kalimat itu bukan hanya penutup ceramah. Kalimat itu menjadi simpul dari seluruh gagasan yang dibangun sejak awal. Bagi Ustadz Zahir, Asyura mengajarkan bahwa kehormatan manusia tidak boleh ditukar dengan rasa aman yang lahir dari ketundukan. Kemerdekaan bukan sekadar status politik, melainkan kemampuan menjaga martabat di tengah berbagai bentuk tekanan dan dominasi.
Karena itulah semboyan yang lahir di Padang Karbala lebih dari empat belas abad lalu tetap hidup hingga hari ini.
هَيْهَاتَ مِنَّا الذِّلَّةُ
*Hayhāt minnā al-dhillah. *
Jauh dari kami menerima kehinaan.
Di tangan Imam Husain, semboyan itu menjadi penolakan terhadap baiat yang dipaksakan. Semboyan yang sama menjelma menjadi prinsip moral yang melampaui ruang dan waktu. Ustadz Zahir mengingatkan bahwa kemuliaan manusia hanya dapat dipertahankan apabila kebebasan tetap dijaga, kehormatan tidak diperjualbelikan, dan kedaulatan tidak diserahkan kepada siapa pun selain Allah.
Itulah sebabnya Karbala tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Karbala terus hidup setiap kali manusia memilih mempertahankan martabat daripada tunduk kepada ketidakadilan. Karbala terus relevan setiap kali sebuah bangsa berusaha berdiri di atas keputusan dan kepentingannya sendiri. Dan Karbala akan terus menjadi inspirasi, selama masih ada manusia yang meyakini bahwa kemerdekaan adalah amanah, sedangkan kehinaan bukanlah pilihan.
Di penghujung majelis, seruan Hayhāt minnā al-dhillah kembali menggema. Bukan hanya sebagai slogan Asyura, melainkan sebagai ikrar untuk menjaga kemerdekaan, kehormatan, dan martabat manusia, nilai-nilai yang, sebagaimana ditegaskan Ustadz Zahir Yahya, menjadi pesan abadi perjuangan Imam Husain a.s. bagi umat manusia sepanjang zaman. []
Baca juga: Ketum ABI: Asyura dan Arbain, Momentum Strategis Penyampaian Risalah Imam Husain a.s.






