Opini
The Economist Mengulas Alasan Ansharullah Sulit Ditundukkan

Media ABI, 27 Agustus 2026 — Ansharullah dinilai tetap menjadi lawan yang sulit ditundukkan meski menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat, Israel, dan koalisi yang didukung Arab Saudi. Dalam laporan terbarunya, majalah The Economist menguraikan sejumlah faktor yang membuat gerakan tersebut mampu bertahan, mulai dari kemampuan membangun kembali persenjataan hingga medan geografis yang menguntungkan.
Fars News Agency pada Kamis (27/8/26) melaporkan, The Economist meninjau perkembangan di Yaman setelah ketegangan kembali meningkat. Menurut laporan tersebut, gencatan senjata rapuh yang telah bertahan selama empat tahun kini berakhir.
Baca juga: Layang-layang Anak Gaza Dicap Aktivitas Bersenjata
Ansharullah menuduh pasukan yang didukung Arab Saudi sedang mempersiapkan serangan besar. Pada 30 Juli, pemimpin Ansharullah Abdul-Malik al-Houthi mengatakan pasukannya akan memberikan respons jika pihak lawan melakukan eskalasi penuh.
Sepanjang Agustus, Ansharullah melancarkan serangan drone dan rudal terhadap posisi pasukan yang bersekutu dengan Arab Saudi dan mendukung pemerintahan yang telah mengundurkan diri. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan puluhan tentara bayaran.
Sejak pertengahan Juli, Angkatan Bersenjata Yaman juga menyerang kapal-kapal yang berafiliasi dengan Arab Saudi di Laut Merah, selain pelabuhan, bandara, dan kilang minyak. Data perusahaan Kpler yang dikutip The Economist menunjukkan hampir tidak ada kapal tanker minyak Saudi yang melewati Selat Bab al-Mandab pada bulan ini.
Menurut The Economist, eskalasi terbaru memiliki dua tujuan utama bagi Ansharullah. Pertama, menekan Arab Saudi agar membayar gaji pegawai pemerintah Yaman serta mencabut blokade penerbangan dan pelabuhan. Kedua, mengambil inisiatif lebih dahulu jika Saudi dan sekutunya benar-benar berniat melancarkan serangan.
Sulit Dipatahkan Meski Terus Diserang
Laporan The Economist menunjukkan bahwa Ansharullah telah melewati sejumlah gelombang serangan tanpa kehilangan kemampuan untuk kembali membangun kekuatannya.
Pada 20 Agustus, Abdullah al-Alimi, anggota Dewan Kepresidenan Yaman yang dibentuk dengan dukungan pemerintah Saudi, mengatakan bahwa merebut kembali Sanaa merupakan sesuatu yang “pasti”. Sejumlah pejabat yang dekat dengan pemerintahan Yaman yang mengundurkan diri juga menjadikan jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah pada 2024 sebagai gambaran tentang kemungkinan nasib Ansharullah.
Baca juga: PTD ABI Garut Perkuat Kaderisasi, Dorong Kader Aktif Mengabdi di Masyarakat
Namun, The Economist menilai situasi di Yaman tidak mudah disamakan dengan Suriah. Pemerintahan yang bergantung pada Riyadh disebut bahkan belum mampu mempertahankan kendali atas ladang minyak Ma’rib dan kini berada dalam posisi pasif.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa Ansharullah pernah bertahan dari serangan yang lebih besar dan lebih terarah. Pada musim panas tahun lalu, serangan Israel menewaskan sebagian besar anggota pemerintahan sipil gerakan tersebut, termasuk perdana menteri. Namun, Ansharullah disebut mampu memulihkan kekuatannya dalam waktu relatif cepat.
Karena itu, laporan tersebut menilai pembunuhan terhadap Abdul-Malik al-Houthi sekalipun belum tentu mengubah keadaan secara signifikan. Abdul-Malik mengambil alih kepemimpinan setelah saudaranya, Hussein, tewas dalam pertempuran pada 2004.
The Economist menyimpulkan bahwa mengalahkan Ansharullah bukan perkara mudah. Majalah tersebut menyebut kelompok itu dikenal di antara sekutu Iran karena keberaniannya.
Ketika Amerika Serikat menyerang Ansharullah pada 2025, gerakan tersebut dilaporkan berhasil menembak jatuh tujuh drone MQ-9 Reaper milik AS dan hampir mengenai beberapa pesawat tempur. Bulan lalu, mereka juga dilaporkan menembak jatuh drone Bayraktar buatan Turki yang digunakan Arab Saudi.
Membangun Senjata dari Komponen yang Lebih Sederhana
Salah satu alasan Ansharullah mampu bertahan adalah kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan tekanan militer.
Menurut laporan The Economist, Ansharullah kini memiliki drone yang menggunakan serat optik sehingga tidak mudah diganggu melalui jamming. Teknologi tersebut membantu mereka menyerang pasukan pemerintah yang didukung Saudi di garis depan. Jaringan pasokan yang fleksibel juga memungkinkan mereka mempertahankan cadangan persenjataan.
The Economist menyebut, jika sebelumnya Ansharullah mengimpor senjata siap pakai dari Iran, kini sebagian besar persenjataan mereka dibangun dari komponen-komponen kecil yang diselundupkan melalui Oman dan Uni Emirat Arab. Sebagian komponen lainnya disebut disamarkan di kapal layar yang berlayar dari kawasan Tanduk Afrika.
Baca juga: Pasukan AS Keluar dari Irak, Pengaruh Washington Belum Berakhir
Beberapa drone yang digunakan Ansharullah bahkan kini dapat dibuat hampir seluruhnya tanpa suku cadang asing. Menurut laporan tersebut, kemampuan ini membuat serangan yang bertujuan menguras persediaan senjata mereka menjadi jauh lebih sulit mencapai hasil yang diharapkan.
Peter Salisbury dari Universitas Columbia di New York mengatakan Ansharullah mampu membangun kembali kemampuan militernya yang rusak atau hancur jauh lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya.
Medan Yaman Menjadi Keuntungan
Geografi juga menjadi faktor penting. Wilayah dataran tinggi yang dikuasai Ansharullah relatif mudah dipertahankan. Kondisi itu diperkuat dengan penggunaan ranjau darat secara luas serta keberadaan jaringan gua dan tempat perlindungan yang berasal dari masa militer Yaman di bawah pemerintahan Ali Abdullah Saleh.
Menurut The Economist, citra satelit menunjukkan jaringan tersebut terus berkembang. Pasukan yang bersekutu dengan Saudi di Yaman juga baru-baru ini menyita peralatan penggalian terowongan yang dikirim menuju pelabuhan yang dikuasai Ansharullah.
Kombinasi medan pegunungan, jaringan perlindungan, kemampuan produksi senjata, dan jalur pasokan yang fleksibel membuat upaya untuk menghancurkan kemampuan militer Ansharullah menjadi jauh lebih rumit.
Biaya Besar untuk Kemenangan yang Belum Pasti
The Economist memperingatkan bahwa kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian bagi sekutu Saudi di Yaman.
Dukungan Arab Saudi dan Amerika Serikat mungkin dapat memperkuat posisi mereka di lapangan. Presiden AS Donald Trump juga pernah mengancam Ansharullah dengan “hukuman militer yang besar”. Namun, laporan tersebut menilai biaya yang harus dikeluarkan akan sangat besar dan dukungan dari Washington maupun Riyadh tidak otomatis menghasilkan kemenangan cepat.
Di tengah semua tekanan itu, Ansharullah tetap bertahan dengan memanfaatkan kemampuan adaptasi, kondisi geografis, serta jaringan pasokan yang sulit diputus.
The Economist menutup laporannya dengan mengutip kebanggaan Ansharullah terhadap reputasi Yaman sebagai “kuburan bagi para agresor”. Menurut majalah tersebut, bukan tidak mungkin reputasi itu kembali terbukti. []
Baca juga: Pentagon Kembali Perbarui Data Korban Perang Iran, Total Capai 776 Orang







