Internasional
The Economist Pelesetkan “Epic Fury” Trump Menjadi “Operation Blind Fury”

Media ABI, 21 Agustus 2026 — Perang Donald Trump terhadap Iran justru dapat menjadi bumerang bagi kekuatan politiknya sendiri. Penilaian tersebut dimuat The Economist dalam edisi terbarunya, sebagaimana dilaporkan IRNA pada Jumat (21/8/2026) mengutip Arab21.
Sampul edisi mingguan The Economist yang terbit pada 21 Maret menampilkan Trump dalam balutan perlengkapan militer. Helm tempur dengan amunisi menutupi bagian atas kepalanya, sementara bagian mata dibuat tertutup.
Baca juga: Ancaman Perang Ekonomi Trump terhadap Iran Menyimpan Pesan Lain
Sampul tersebut diberi judul “Operation Blind Fury”, sebuah sindiran terhadap nama operasi “Epic Fury” yang digunakan dalam operasi militer terhadap Iran.

Sampul The Economist menyindir operasi “Epic Fury” Trump terhadap Iran melalui judul “Operation Blind Fury”, yang menggambarkan perang tersebut sebagai tindakan penuh kemarahan dan tanpa arah.
Dalam penjelasan mengenai edisi tersebut, The Economist menyebut kampanye Trump terhadap Iran sebagai langkah yang berani namun sembrono. Perang tersebut, menurut majalah itu, justru berpotensi melemahkan Trump dan membuatnya semakin marah ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai.
The Economist mengakui bahwa kekuatan politik Trump tidak mudah diremehkan. Tidak banyak politisi Amerika yang mampu bertahan menghadapi tekanan politik seperti Trump. Bahkan setelah pendukungnya menyerbu Gedung Capitol pada 6 Januari 2021, Trump tetap mampu mempertahankan pengaruh politiknya dan kembali terpilih pada 2024 dengan perolehan suara yang lebih besar.
Namun, majalah tersebut menilai perang terhadap Iran dapat menjadi ujian yang jauh lebih berat bagi periode kedua pemerintahannya. Perang singkat saja disebut mampu mengubah arah kepresidenan Trump. Jika konflik berlangsung selama berbulan-bulan, dampaknya bahkan dapat mengakhiri perjalanan politik tersebut.
Ada tiga kekuatan utama Trump yang dinilai berisiko melemah akibat perang. Pertama, kemampuannya memengaruhi dan memaksakan pandangannya kepada dunia. Kedua, penggunaan kekuasaan serta pengaruh secara agresif. Ketiga, kendalinya terhadap Partai Republik.
Baca juga: Politico: Perang Ekonomi Trump Tak Akan Membuat Iran Menyerah
Menurut The Economist, ketiga kekuatan tersebut sebenarnya sudah berpotensi mengalami penurunan setelah pemilihan paruh waktu. Perang dengan Iran dapat mempercepat proses tersebut.
IRNA melaporkan bahwa konflik bermula dari serangan militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, ketika pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran masih berlangsung dengan mediasi sejumlah negara kawasan.
Setelah serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan terhadap sasaran militer dan keamanan Israel serta sejumlah pangkalan dan fasilitas yang digunakan pasukan Amerika Serikat di kawasan. Pemerintah Iran menyatakan tindakan tersebut merupakan bagian dari hak membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Teheran menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk mencegah berlanjutnya agresi dan memberikan tekanan kepada pihak yang melakukan serangan. Pemerintah Iran juga memperingatkan bahwa setiap serangan lanjutan atau perluasan konflik akan dibalas dengan tindakan yang lebih keras dan lebih luas.
Dalam pandangan The Economist, persoalan Trump pada akhirnya bukan hanya soal memenangkan perang. Konflik tersebut juga berpotensi menggerus tiga modal politik yang selama ini menopang kekuasaannya, terutama jika perang berlangsung lebih lama dari perkiraan. []
Baca juga: Bongkar Borok USS Abraham Lincoln, Penerbit Stars and Stripes Dibidik Pentagon







