Internasional
Layang-layang Anak Gaza Dicap Aktivitas Bersenjata

Media ABI, 27 Agustus 2026 — Layang-layang yang diterbangkan dari Gaza kini ikut menjadi sasaran perdebatan politik. Seorang pejabat Dewan Perdamaian, lembaga yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan bertugas memantau pelaksanaan gencatan senjata di Gaza, menyebut penerbangan layang-layang sebagai bagian dari “aktivitas bersenjata” yang harus dihentikan.
Pernyataan itu muncul setelah Israel mempersoalkan sejumlah layang-layang yang dalam beberapa pekan terakhir terbang dari Gaza menuju wilayah pendudukan di sekitarnya. Namun, tidak ada laporan yang menunjukkan bahwa layang-layang tersebut membawa bahan peledak ataupun bahan yang mudah terbakar.
Baca juga: PTD ABI Garut Perkuat Kaderisasi, Dorong Kader Aktif Mengabdi di Masyarakat
Fars News Agency pada Rabu (26/8/26) melaporkan bahwa Dewan Perdamaian menyatakan seluruh “aktivitas bersenjata di Gaza, termasuk penerbangan layang-layang, harus dihentikan”. Pada saat yang sama, seorang pejabat lembaga tersebut mengatakan Israel juga wajib mematuhi gencatan senjata dan tindakan militernya tidak boleh melampaui apa yang disebut sebagai respons terhadap “ancaman nyata dan segera”.
Persoalan itu mencuat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Perang Israel Yisrael Katz mengancam memperluas serangan ke Gaza jika layang-layang, balon, atau drone yang diarahkan ke wilayah pendudukan tidak dihentikan.
Keduanya juga mengancam akan membunuh orang-orang yang mereka tuduh bertanggung jawab serta mengevakuasi penduduk dari kawasan yang disebut sebagai lokasi peluncuran benda-benda tersebut.
Seorang pejabat keamanan Israel, tanpa menunjukkan bukti, turut menuduh Hamas mendorong warga Gaza menerbangkan layang-layang untuk “memprovokasi Israel”. Namun, seorang pejabat Hamas dalam wawancara dengan Reuters membantah tuduhan tersebut dan mengatakan Israel sedang mencari alasan untuk melanjutkan perang.
Anak-anak Gaza Diminta Berhenti Bermain Layang-layang
Ancaman Israel kemudian berdampak langsung pada anak-anak Gaza.
Komite Rakyat Gaza meminta para orang tua melarang anak-anak mereka bermain layang-layang. Imbauan itu dikeluarkan untuk menghindarkan anak-anak dari kemungkinan menjadi sasaran serangan, bukan karena layang-layang tersebut dianggap sebagai senjata.
Baca juga: Pembersihan Para Jenderal Guncang Puncak Komando Angkatan Darat AS
Bagi anak-anak Gaza, persoalannya menjadi ironis. Di tengah kehidupan yang terus dibayangi perang, bermain layang-layang merupakan salah satu dari sedikit ruang yang masih tersisa bagi mereka untuk menikmati masa kanak-kanak.
Puluhan anak kemudian menggelar aksi dengan melemparkan layang-layang mereka ke laut. Sambil meneriakkan seruan seperti “Hentikan perang” dan “Kami punya hak untuk bermain”, mereka menyampaikan protes kepada lembaga-lembaga internasional, termasuk Dewan Perdamaian.
Peringatan kepada para orang tua tersebut juga tidak serta-merta membenarkan klaim Israel mengenai penggunaan layang-layang untuk kepentingan militer. Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa layang-layang yang menjadi persoalan tersebut merupakan mainan anak-anak.
Layang-layang di Tengah Gencatan Senjata
Perdebatan mengenai layang-layang muncul ketika serangan Israel terhadap Gaza masih terus berlangsung, meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.280 warga Palestina telah gugur sejak gencatan senjata dimulai.
Dalam situasi seperti itu, pihak Palestina khawatir isu layang-layang akan digunakan sebagai alasan baru untuk memperluas serangan, melakukan pembunuhan, dan memaksa penduduk meninggalkan kawasan permukiman di Gaza.
Bagi warga Gaza, persoalannya bukan hanya tentang ke mana sebuah layang-layang terbang. Yang dipertaruhkan adalah apakah bahkan ruang kecil untuk bermain masih dianggap berbahaya di tengah perang yang belum benar-benar berhenti. []
Baca juga: Pentagon Kembali Perbarui Data Korban Perang Iran, Total Capai 776 Orang







