Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Setengah Abad Dominasi AS, Teluk Persia Justru Jadi Medan Konflik

Published

on

Pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia
Pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia menjadi sorotan setelah gagal menghadirkan stabilitas dan justru memicu eskalasi konflik regional. (Dok. Mehrnews Agency)

Ahlulbait Indonesia | 31 Mei 2026 — Kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia gagal menghadirkan stabilitas bagi negara-negara Arab kawasan. Sebaliknya, pangkalan-pangkalan tersebut justru berubah menjadi sasaran strategis dalam konflik regional dan memperbesar ancaman serangan terhadap negara tuan rumah. Demikian analisis Mehr News Agency yang terbit pada Minggu, 31 Mei 2026.

Baca juga: 28 Juta ‘Janfada’ dan Salah Baca Trump atas Iran

Ekspansi militer Amerika di Teluk Persia dimulai setelah Inggris menarik diri dari kawasan timur Terusan Suez pada 1971. Namun, titik balik utamanya terjadi pasca invasi Irak ke Kuwait pada 1990, ketika Washington memperluas jaringan pangkalan militernya di Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, hingga Arab Saudi.

Jaringan tersebut mencakup Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Al Dhafra di Uni Emirat Arab, Armada Kelima AS di Bahrain, serta Pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi. Selama puluhan tahun, Washington menjual kehadiran militernya sebagai jaminan keamanan bagi negara-negara Teluk. Namun, analisis Mehr menilai strategi itu justru menempatkan negara-negara tuan rumah dalam posisi semakin rentan.

Konsep “membeli keamanan” dari Washington disebut membebani negara-negara Teluk dengan biaya politik dan ekonomi yang besar tanpa menghadirkan perlindungan efektif terhadap ancaman nyata di kawasan.

Sebagai contoh, kajian tersebut menyinggung serangan terhadap fasilitas minyak Aramco Saudi pada 2019 yang sempat melumpuhkan hampir separuh produksi minyak negara itu. Meski kawasan dipenuhi sistem pertahanan dan pangkalan militer AS, serangan tersebut tetap tidak dapat dicegah.

Kritik terhadap efektivitas kehadiran militer Amerika semakin menguat setelah perang 2026 yang melibatkan Iran dan sekutunya. Mengutip laporan Washington Post berdasarkan citra satelit, Mehr menyebut serangan Iran menyebabkan kerusakan terhadap pangkalan-pangkalan AS yang jauh lebih besar dibanding pengumuman resmi Washington.

Baca juga: F-35 AS Pancarkan Sinyal Darurat 7700 di Selat Hormuz, Tiga Insiden dalam Sepekan Guncang Kawasan

Analisis itu menyebut pangkalan militer AS kini tidak lagi dipandang sebagai perisai pertahanan, melainkan “magnet serangan” yang menyeret negara-negara tuan rumah ke dalam eskalasi konflik regional. Dalam perang 2026, Iran dilaporkan menyerang sejumlah pangkalan AS di negara-negara Teluk sebagai respons atas keterlibatan Washington di kawasan.

Di tengah meningkatnya kritik terhadap strategi keamanan berbasis kehadiran militer asing, Iran mendorong pembentukan arsitektur keamanan regional yang tidak bergantung pada Amerika Serikat. Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, bahkan menyerukan penutupan pangkalan-pangkalan AS di kawasan karena dinilai gagal menghadirkan stabilitas dan perdamaian.

Pada saat yang sama, wacana pengurangan hingga penarikan pasukan AS dari Teluk Persia mulai berkembang di kalangan analis Barat. Sejumlah pengamat menilai tujuan utama kehadiran militer Amerika bukan semata melindungi negara-negara Arab, melainkan menjaga kepentingan strategis Washington dan keamanan Israel di kawasan.

Baca juga: IRGC Balas Serangan AS Usai Agresi di Sekitar Bandara Bandar Abbas

Negara-negara Teluk kini juga mulai mencari formula keamanan baru yang tidak sepenuhnya bergantung pada Washington. Menurut laporan tersebut, Arab Saudi dan Iran tengah menjajaki gagasan pembentukan pakta nonagresi regional sebagai bagian dari upaya membangun stabilitas jangka panjang di Timur Tengah.

Di tengah menurunnya kepercayaan terhadap payung militer Amerika, negara-negara Teluk kini menghadapi pertanyaan yang selama puluhan tahun dihindari: apakah keamanan kawasan akan terus disandarkan pada pangkalan asing, atau dibangun melalui kesepahaman regional dengan para tetangganya sendiri. []

Baca juga: Selat Hormuz: Sejarah, Geografi, dan Tantangan Ekonomi Global