Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Mengapa Bara Api Konflik Yaman–Arab Saudi Kembali Memanas?

Published

on

Eskalasi terbaru Yaman–Arab Saudi
Eskalasi terbaru Yaman–Arab Saudi. (Foto: AI)

Oleh: Abdillah Al Habsyi (Aktivis dan Pengamat Timur Tengah)

Ahlulbait Indonesia, 17 Juli 2026 – Apa yang sebenarnya sedang terjadi di Yaman saat ini? Mengapa hubungan Yaman–Arab Saudi yang sempat mendingin kini kembali membara?

Untuk memahami kekacauan ini, kita harus melihat gambaran besarnya. Semua ini erat kaitannya dengan dinamika geopolitik di Teluk Arab, Selat Hormuz, dan runtuhnya nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang selama ini menjaga perdamaian semu.

Ada skenario besar untuk memperluas eskalasi perang di kawasan. Intinya adalah menyeret kembali Yaman ke medan tempur, menutup Selat Bab al-Mandab, dan memicu konflik antarsaudara antara Kerajaan Arab Saudi dan faksi-faksi di Yaman terkait siapa yang sebenarnya berhak memegang kendali atas Sana’a.

Baca juga: Langit Najaf Bergetar, Bumi Karbala Menangis Lepas Kepergian Sang Syahid

Pemakaman Khamenei: Pemicu yang Dinanti?

Pemanasan mesin perang ini memuncak pasca-prosesi pemakaman Pemimpin Agung Iran. Delegasi Pemerintah Sana’a (Houthi/Ansar Allah) bertolak ke Teheran untuk menyampaikan belasungkawa. Masalahnya, tidak ada maskapai sipil yang dapat mengangkut mereka akibat blokade udara ketat di Bandara Sana’a yang telah berlangsung sejak awal perang pada 2015.

Satu-satunya pihak yang berani dan berhasil menembus blokade tersebut adalah pesawat milik Iran.

Di sisi lain, kita melihat anomali politik yang unik.

  1. Pemerintah Yaman (versi pengasingan): Berkedudukan di hotel-hotel mewah di Riyadh. Rapat-rapat kabinet mereka bahkan dilakukan secara daring melalui aplikasi konferensi virtual. Bisa dibilang, jika koneksi internet mereka terputus, runtuh pula pemerintahan ini.
  2. Realitas di Lapangan: Secara praktis, pemerintah pengasingan ini sama sekali tidak menguasai Yaman Utara. Di wilayah Selatan pun kekuasaan mereka sangat simbolis, itu pun berkat sokongan suku-suku lokal yang dekat dengan Saudi, di tengah perebutan pengaruh yang sengit dengan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab (UEA).

Kekacauan ini merupakan warisan malam panjang yang diderita Yaman sejak gelombang Arab Spring, yang alih-alih membawa musim semi, justru menjadi malapetaka layaknya kanker bagi negara-negara Arab yang terdampaknya.

Drama Udara dan Standar Ganda

Kembalinya pesawat Iran yang membawa delegasi Sana’a menyulut kemarahan. Pemerintah pengasingan yang didukung Saudi mengklaim telah membom Bandara Sana’a guna mencegah pesawat tersebut mendarat, dengan dalih “menjaga kedaulatan negara”.

Namun, aksi ini menyisakan dua pertanyaan kritis yang sulit dikesampingkan.

  1. Jika Anda begitu peduli terhadap kedaulatan Yaman, mengapa Anda diam, bahkan mendukung, ketika jet tempur Amerika Serikat dan Israel membombardir wilayah Yaman serta menewaskan ratusan warga sipil?
  2. Jika Anda memiliki kekuatan udara yang cukup tangguh untuk membom Sana’a, mengapa kekuatan itu tidak pernah digunakan untuk menghalau jet tempur Amerika Serikat atau Israel?

Pada akhirnya, pesawat Iran tersebut tetap melakukan pendaratan darurat di Bandara Hodeidah. Ansar Allah pun mendeklarasikan kemenangan taktis. Mereka berhasil menjebol blokade udara yang telah mencekik mereka selama 11 tahun.

Baca juga: Melampaui Air Mata Duka: Ketika Kematian Menjelma Menjadi Roh Identitas Nasional

Bandara Dibayar Bandara

Eskalasi tidak berhenti di situ. Mengingat pemerintah pengasingan di Riyadh tidak memiliki armada tempur sendiri—dan jet yang membom Sana’a bukanlah milik Yaman—Houthi langsung mengarahkan serangan balasan ke Bandara Abha di Arab Saudi.

Ansar Allah kini menetapkan aturan main baru yang berbahaya: bandara dibalas bandara.

Mau Dibawa ke Mana Akhir Konflik Ini?

Yaman kini berada di persimpangan jalan menuju perang regional yang lebih luas. Eskalasi ini hanya dapat diredam jika pihak-pihak yang bertikai, terutama Yaman dan Arab Saudi, memilih jalan diplomasi. Solusinya sebenarnya sudah tersedia di atas meja.

  1. Menyelesaikan sengketa operasional Bandara Sana’a melalui meja perundingan.
  2. Menghidupkan kembali kesepakatan gencatan senjata tahun 2022 yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
  3. Menjaga semangat rekonsiliasi Riyadh–Teheran tahun 2023 yang sebelumnya dimediasi oleh China.

Inilah rangkuman singkat benang kusut yang tengah terjadi antara Yaman dan, menurut sudut pandang penulis, Arab Saudi yang dipandang sebagai boneka kekaisaran Amerika. []

Baca juga: Kebangkitan Jiwa Iran: Martir, Ketahanan, dan Kedaulatan