Opini
Iran Tak Lagi Membidik Pangkalan, Kini Sasar Urat Nadi Operasi Militer Amerika

Ahlulbait Indonesia, 15 Juli 2026 — Rangkaian Operasi Nasr-2 yang dijalankan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersama Operasi Sha’eqeh oleh Angkatan Darat Republik Islam Iran memperlihatkan perubahan pola dalam strategi serangan Iran terhadap Amerika Serikat di Asia Barat. Menurut analisis yang dipublikasikan Fars News Agency pada Rabu (15/7/2026), sasaran operasi difokuskan pada simpul-simpul yang menopang keseluruhan jaringan operasi militer Amerika Serikat, mulai dari pusat komando dan kendali, jaringan komunikasi, logistik, pertahanan udara, hingga infrastruktur udara.
Baca juga: Pete Hegseth Ultimatum Irak: Pilih Iran atau Amerika Serikat
Peninjauan terhadap sasaran di Bahrain, Kuwait, dan Yordania menunjukkan target dipilih bukan karena nilai simbolisnya, melainkan karena fungsi strategisnya dalam menjaga kesiapan tempur, sistem komando, dan kesinambungan operasi militer Amerika Serikat. Sasaran tersebut meliputi pusat komando dan kendali (C2), fasilitas logistik, gudang amunisi dan bahan bakar, sistem pertahanan udara, hanggar pesawat tempur, hingga lokasi penempatan pesawat nirawak strategis.
Gelombang Ketiga: Menekan Infrastruktur Udara dan Laut
Dalam gelombang ketiga Operasi Nasr-2 dengan sandi “Ya Zainal Abidin (a.s,)”, IRGC menyerang secara bersamaan Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain dan Pangkalan Ali Al-Salem di Kuwait. Gudang persenjataan, komponen kapal dan pesawat militer di Sheikh Isa disebut dihancurkan, sementara lokasi penempatan pesawat nirawak MQ-9 Reaper di Ali Al-Salem diklaim mengalami kerusakan. Menurut Fars, kedua sasaran tersebut merupakan bagian penting dari jaringan dukungan operasi udara, pengintaian, dan serangan presisi Amerika Serikat di kawasan.
Gelombang Keempat: Memukul Simpul Logistik
Gelombang keempat dengan sandi “Ya Aba Abdillah Al-Husain (a.s,)” menyasar pusat logistik KJL di Mina Abdullah, Kuwait. Fasilitas ini disebut menjadi pusat penyimpanan perlengkapan, distribusi logistik, dukungan teknis, serta penyediaan suku cadang bagi satuan militer Amerika Serikat di Asia Barat. Menurut Fars, gangguan terhadap simpul logistik akan berdampak langsung pada kemampuan pasukan mempertahankan kesinambungan operasi.
Baca juga: Dosa Max Blumenthal Hanya Satu: Menjadi Saksi dari Teheran
Gelombang Kelima: Menargetkan Jantung Armada Kelima
Dalam gelombang kelima Operasi Nasr-2 dengan sandi “Ya Ali bin Abi Thalib (a.s,)”, IRGC menyerang pusat manajemen NSI, fasilitas komando dan kendali (C2), gudang logistik, serta tangki penyimpanan bahan bakar Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain. Fars menyebut fasilitas-fasilitas tersebut sebagai elemen utama koordinasi, pengendalian, dan dukungan logistik armada, sehingga penargetannya berdampak langsung pada kecepatan respons dan kesinambungan operasi maritim.
Gelombang Keenam: Menekan Kemampuan Udara
Gelombang keenam dengan sandi “Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah” menyasar Pangkalan Al-Azraq di Yordania. Hanggar pesawat tempur F-15, F-16, dan F-35, serta lokasi penempatan pesawat nirawak MQ-9 Reaper, menjadi sasaran serangan rudal. Menurut Fars, Al-Azraq merupakan salah satu pangkalan udara terpenting Amerika Serikat di kawasan karena menjadi pusat persiapan, pemeliharaan, persenjataan, dan dukungan operasional bagi pesawat tempur serta drone strategis.
Gelombang Ketujuh: Mengganggu Jaringan Pertahanan
Dalam gelombang ketujuh dengan sandi “Ya Rasulullah (SAW)”, IRGC menyerang pusat komunikasi satelit, radar pertahanan udara dan rudal, sistem pertahanan Patriot, fasilitas logistik militer Amerika Serikat di Kuwait, serta peluncur rudal HIMARS. Menurut Fars, fasilitas-fasilitas tersebut merupakan bagian dari jaringan komando, peringatan dini, pertahanan udara, dan kemampuan serangan cepat Amerika Serikat, sehingga penargetannya berdampak langsung terhadap kemampuan pertahanan maupun respons operasional pasukan.
Baca juga: Netanyahu Ancam Balas Serangan Iran dengan Kekuatan Lebih Besar
Operasi Sha’eqeh Berlanjut
Secara paralel, Angkatan Darat Republik Islam Iran melanjutkan Operasi Sha’eqeh melalui dua gelombang serangan berturut-turut ke Pangkalan Al-Azraq. Sasaran yang diserang meliputi hanggar pesawat tempur F/A-18, gudang logistik, fasilitas pendukung, dan bangunan tempat tinggal personel. Menurut Fars, serangan berulang terhadap pangkalan yang sama menunjukkan upaya mengikis kemampuan operasional dengan menghambat pemulihan kesiapan tempur dan memperlambat kembalinya satuan udara ke medan operasi.
Strategi Menyerang Simpul Operasi
Pada bagian akhir analisisnya, Fars menyimpulkan bahwa rangkaian Operasi Nasr-2 dan Sha’eqeh menunjukkan pergeseran strategi Iran dari memperbanyak sasaran menuju penargetan simpul-simpul utama jaringan operasi militer Amerika Serikat. Dalam terminologi militer, pendekatan tersebut dikenal sebagai serangan terhadap “simpul-simpul vital jaringan operasional” (critical operational nodes), yakni strategi yang bertujuan melemahkan efektivitas sistem tempur lawan melalui gangguan terhadap rantai komando, komunikasi, logistik, pertahanan, dan dukungan operasi. []
Baca juga: Citra Satelit Tunjukkan Kerusakan Fasilitas Strategis AS akibat Serangan Iran







