Opini
Media, Internet, dan Tanggung Jawab Dakwah di Era Digital

Oleh: Hasan Zakaria, Ph.D.
Wakil Ketua Departeman Kaderisasi Dewan Pimpinan Wilayah ABI Jawa Barat
Ahlulbait Indonesia | 4 Juni 2026 — Di antara banyak pernyataan penting yang pernah disampaikan Rahbar Syahid Imam Khamenei, ada satu ungkapan yang terus relevan ketika kita berbicara tentang media dan ruang digital. Dalam sebuah pertemuan dengan para guru, ustadz, dan budayawan pada 11 Oktober 2012, beliau mengatakan,
اگر من امروز رهبر انقلاب نبودم، رئیس فضای مجازی کشور میشدم
“Kalau sekarang saya tidak menjadi Pemimpin Revolusi Islam Iran, saya pasti akan memilih menjadi pemimpin media dan internet negara.”
Kemudian Rahbar menambahkan,
“Komputer, laptop, telepon genggam, ilmu jurnalistik, dan segala sarana yang menghubungkan Anda dengan media sosial dan internet harus dikuasai. Menulislah dengan kata-kata Anda sendiri. Kata-kata itu dapat menjangkau jutaan manusia yang tidak Anda kenal, tetapi pesan Anda sampai kepada mereka.
Ini adalah kesempatan yang luar biasa dan tidak boleh disia-siakan. Jika kesempatan ini hilang dari tangan kita, maka kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.”
Baca juga: Orang Desa Memang Tidak Menggunakan Dolar
Kalimat tersebut tidak lahir dari ruang hampa. Di baliknya terdapat pembacaan yang tajam tentang arah perubahan zaman. Pengaruh tidak lagi bertumpu pada mimbar, ruang kelas, atau lembaga formal semata. Hari ini pengaruh bergerak melalui informasi, narasi, dan komunikasi yang melintasi batas geografis dalam hitungan detik.
Karena itulah Rahbar memberi perhatian besar pada media dan ruang siber. Komputer, telepon genggam, media sosial, dan kemampuan menulis bukan lagi alat bantu tambahan. Semuanya telah berubah menjadi jalan yang memungkinkan seseorang berbicara kepada jutaan manusia sekaligus. Sulit mencari padanannya dalam sejarah manusia. Belum pernah ada ruang komunikasi yang begitu luas, murah, dan mudah diakses seperti hari ini.
Akibatnya, ruang digital tidak lagi bisa dianggap sebagai pelengkap kehidupan sosial. Sebagian besar opini publik justru dibentuk di sana. Dalam banyak kasus, yang menentukan perhatian masyarakat bukan lagi redaksi media atau guru di ruang kelas, melainkan algoritma yang memilih informasi apa yang muncul di layar mereka setiap hari. Dari situlah cara pandang terhadap agama, politik, budaya, bahkan realitas kehidupan sehari-hari perlahan terbentuk.
Buktinya ada di depan mata. Apa yang pagi hari hanya dikenal di satu daerah, pada malam harinya bisa menjadi perbincangan nasional. Lagu, video, bahkan satu kalimat pendek dapat menyebar ke seluruh Indonesia dalam hitungan jam.
Baca juga: Ketika Metode Kalah dari Tekanan
Jika direnungkan lebih jauh, yang sedang ditekankan Rahbar bukanlah internetnya dan bukan pula media sosialnya. Yang beliau tekankan adalah tanggung jawab. Jangan sampai kita hidup pada zaman yang menyediakan begitu banyak sarana komunikasi, tetapi gagal memanfaatkannya untuk menyampaikan kebenaran.
Tidak perlu melihat jauh-jauh. Indonesia sendiri menunjukkan bagaimana perubahan itu berlangsung di depan mata kita. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan tingkat penggunaan internet yang sangat tinggi, hampir setiap rumah terhubung dengan ruang digital. WhatsApp, Telegram, Facebook, Instagram, TikTok, dan X bukan lagi sesuatu yang asing. Semua itu telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dalam kaitan ini, peringatan Ayatullah Husein Yekta layak menjadi bahan renungan. Menurutnya, pernyataan Rahbar bukan hanya ajakan untuk mengenal teknologi, tetapi juga seruan untuk hadir dalam medan pembentukan opini publik.
“Perkataan Rahbar ini sangat tegas dan lugas menjelaskan kepada kita untuk ikut andil dalam media sebagai alat pencerahan. Ya, karena musuh sebagai pembuat jejaring internet dan media sosial memiliki program besar untuk menguasai opini publik. Ya, setiap dari mereka, memiliki data valid satu-persatu tentang kita dan masyarkat kita yang berjumlah 70-80 juta jiwa.”
Pandangan tersebut lahir dari kesadaran bahwa ruang digital bukanlah ruang yang benar-benar netral. Di dalamnya berlangsung persaingan gagasan, perebutan perhatian, dan upaya memengaruhi cara pandang masyarakat.
Cara membaca persoalan ini tentu bisa berbeda-beda. Namun satu kenyataan sulit diabaikan, ruang digital kini telah menjadi salah satu arena paling penting dalam pembentukan opini publik.
Baca juga: Kemajuan Iran dan Pendidikan Perempuan
Hari ini hampir setiap orang membawa media di genggamannya sendiri. Karena itu persoalannya bukan lagi soal ada atau tidaknya pengaruh media sosial. Persoalannya adalah siapa yang paling aktif membentuk percakapan di dalamnya.
Dalam situasi seperti ini, dakwah tidak cukup hanya hadir di mimbar dan majelis. Tantangannya bukan memproduksi konten sebanyak-banyaknya. Tantangannya adalah menghadirkan konten yang jujur, bermutu, dan dapat dipertanggungjawabkan. Setiap tulisan, video, unggahan, dan komentar akan meninggalkan jejaknya sendiri di tengah masyarakat.
Padahal umat Islam memiliki tradisi intelektual yang panjang. Pada masa media cetak berjaya, banyak orang rela menyisihkan waktu dan biaya untuk memperoleh karya-karya Syahid Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, maupun Muhammad al-Tijani. Buku-buku tersebut melahirkan kesadaran, membentuk cara berpikir, dan menggerakkan pencarian intelektual.
Ironisnya, ketika sarana komunikasi menjadi jauh lebih mudah dan murah, sebagian dari kita justru belum memanfaatkannya secara maksimal. Padahal satu tulisan hari ini dapat menjangkau pembaca yang jumlahnya melampaui oplah banyak buku pada masa lalu.
Karena itu, tantangan generasi sekarang bukan kekurangan sarana. Tantangannya adalah kemauan untuk menggunakan sarana yang sudah tersedia. Tidak semua orang harus menjadi jurnalis, penulis, atau kreator konten. Namun setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya. Ada yang menulis, ada yang membuat video, ada yang mengelola media, dan ada yang membantu menyebarkan informasi yang bermanfaat.
Sebab ruang digital telah menjadi salah satu medan pembentukan peradaban. Mengabaikannya berarti membiarkan pihak lain menentukan arah percakapan publik, sementara kita hanya menjadi penonton.
Baca juga: Jihad Tabyin Menuntut Kolaborasi Media Islam
Rahbar sesungguhnya sedang mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki medannya sendiri. Jika generasi terdahulu berjuang melalui buku, mimbar, dan majelis ilmu, maka generasi hari ini juga dituntut hadir di ruang digital dengan ilmu, akhlak, dan tanggung jawab yang sama.
Barangkali karena alasan itulah Rahbar pernah mengatakan bahwa jika beliau bukan Pemimpin Revolusi Islam, beliau akan memilih memimpin ruang siber. Bukan karena media adalah tujuan. Media hanyalah jalan. Namun pada zaman ini, salah satu jalan yang paling menentukan arah masyarakat justru melewati ruang media. []
Baca juga: Antara Seattle dan Jakarta – Menghapus Kill Line dengan Keadilan Islam







