Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Iran Tak Lagi Memburu Alutsista, tetapi Melumpuhkan Otak Perang Amerika Serikat

Published

on

Pusat komando, radar, dan logistik kini menjadi sasaran utama dalam pola operasi militer terbaru Iran.
Pusat komando, radar, dan logistik kini menjadi sasaran utama dalam pola operasi militer terbaru Iran.

Analisis pola target terbaru menunjukkan Iran memprioritaskan pusat komando, intelijen, radar, dan logistik sebagai sumber ancaman dalam operasi militernya.

Ahlulbait Indonesia, 17 Juli 2026 – Gelombang terbaru serangan rudal dan pesawat nirawak Iran menunjukkan perubahan pola dalam pemilihan sasaran. Berdasarkan analisis terhadap data yang dipublikasikan sumber-sumber resmi Iran, fokus operasi tidak lagi bertumpu pada penghancuran alutsista lawan, melainkan pada pusat komando, pengendalian, intelijen, dan jaringan pendukung yang menjadi sumber lahirnya ancaman.

Dalam doktrin militer modern, pendekatan tersebut dikenal sebagai serangan terhadap pusat gravitasi operasional (Operational Centers of Gravity). Sasaran utamanya bukan platform tempur, melainkan infrastruktur yang merencanakan, mengendalikan, dan menopang operasi militer sehingga mampu menghasilkan dampak yang lebih luas terhadap kemampuan lawan.

Baca juga: Iran Tak Lagi Membidik Pangkalan, Kini Sasar Urat Nadi Operasi Militer Amerika

Berbeda dengan menghancurkan satu pesawat tempur atau drone yang dampaknya relatif terbatas, melumpuhkan pangkalan, pusat komando, fasilitas kendali, atau jaringan logistik dinilai dapat mengganggu keseluruhan siklus operasi. Karena itu, sumber ancaman dipandang memiliki nilai strategis yang lebih tinggi dibanding peralatan tempur yang menjalankan misi.

Salah satu contoh yang dikemukakan adalah serangan di Bandar Abbas. Berdasarkan penilaian intelijen Iran, wahana nirawak yang digunakan dalam operasi tersebut disebut memasuki wilayah Iran melalui poros Bahrain. Atas dasar itu, fasilitas komando, pengendalian, dan dukungan Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain diposisikan sebagai salah satu simpul utama penghasil ancaman. Kerusakan yang dilaporkan terjadi pada jaringan komando dan kendali pangkalan tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi melumpuhkan pusat pengendalian operasi, bukan sekadar menyerang aset tempur.

Kuwait juga disebut memiliki posisi penting dalam perhitungan Iran. Selama beberapa tahun terakhir, negara itu menjadi salah satu lokasi penempatan pesawat nirawak MQ-9 Reaper yang digunakan untuk misi pengintaian, pengawasan, serta pemantauan jalur pelayaran dan Selat Hormuz. Menurut sumber resmi Iran, setelah gencatan senjata sekitar 20 unit MQ-9 ditempatkan di Kuwait. Sebagian di antaranya dilaporkan kembali menjadi sasaran Iran meskipun telah dipindahkan oleh militer Amerika Serikat. Dalam perspektif Iran, pangkalan semacam itu merupakan bagian dari jaringan intelijen dan komando regional, bukan sekadar lokasi penempatan drone.

Baca juga: Dosa Max Blumenthal Hanya Satu: Menjadi Saksi dari Teheran

Analisis serupa juga diarahkan kepada Yordania. Letak geografis negara tersebut dinilai memberikan akses strategis bagi pelaksanaan operasi udara sehingga berbagai fasilitas pendukung penerbangan dipandang sebagai bagian dari infrastruktur yang menopang proyeksi kekuatan militer di kawasan.

Selain pangkalan udara, Iran juga menempatkan jaringan radar dan pertahanan udara sebagai sasaran prioritas. Dalam operasi rudal maupun drone, setiap proyektil harus melewati sistem peringatan dini, radar deteksi, pusat komando pertahanan udara, hingga sistem intersepsi. Melemahkan jaringan tersebut diyakini akan meningkatkan peluang keberhasilan operasi berikutnya.

Dalam doktrin militer, radar jarak jauh, sistem peringatan dini, dan pertahanan udara berlapis termasuk kategori High Value Targets atau sasaran bernilai strategis tinggi. Selain membutuhkan investasi besar, sistem-sistem tersebut memerlukan waktu panjang untuk diproduksi, diintegrasikan, dioperasikan, dan digantikan apabila mengalami kerusakan. Karena itu, dampak serangan terhadap jaringan radar tidak hanya berupa hilangnya sejumlah peralatan, tetapi juga berpotensi menurunkan kemampuan deteksi, pelacakan, dan pertahanan suatu wilayah dalam jangka waktu yang lama.

Secara keseluruhan, pola serangan terbaru Iran menunjukkan pergeseran dari penghancuran platform tempur menuju upaya melumpuhkan rantai produksi ancaman, mulai dari jaringan intelijen, pusat komando, sistem kendali, hingga fasilitas logistik dan pertahanan udara. Dalam konsep perang berbasis jaringan (network-centric warfare), pendekatan tersebut dinilai memberikan efek operasional yang lebih besar dibanding sekadar menghancurkan aset tempur secara terpisah. [MT]

Baca juga: Arab Saudi Bertaruh pada Laut Merah untuk Keluar dari Jerat Selat Hormuz