Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Arab Saudi Bertaruh pada Laut Merah untuk Keluar dari Jerat Selat Hormuz

Published

on

Arab Saudi mempercepat jalur ekspor minyak melalui Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
Arab Saudi mempercepat jalur ekspor minyak melalui Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz

Ahlulbait Indonesia, 16 Juli 2026 — Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker minyak, Arab Saudi mempercepat diversifikasi jalur ekspor energinya melalui Laut Merah. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Riyadh pada Hormuz, meski jalur alternatif tersebut masih dinilai rentan apabila konflik regional terus bereskalasi.

Menurut laporan Farsnews Agency pada Rabu (15/7/2026), strategi tersebut bertumpu pada pengembangan jaringan pelayaran di Laut Merah serta optimalisasi Pipa Timur–Barat (East–West Pipeline) yang menghubungkan ladang minyak di Provinsi Timur dengan Pelabuhan Yanbu di pesisir barat Arab Saudi.

Pada 29 Juni 2026, Arab Saudi meluncurkan layanan Red Sea Express, sebuah rute pelayaran reguler yang menghubungkan Pelabuhan Yanbu dengan Jeddah, Aqaba (Yordania), dan Ain Sokhna (Mesir). Layanan ini memiliki kapasitas awal sekitar 1.100 TEU dan melayani pengangkutan peti kemas serta komoditas industri nonmigas melalui Laut Merah.

Baca juga: Serangan Iran Hancurkan Infrastruktur Pendukung Pangkalan Militer AS

Meski tidak dirancang sebagai jalur ekspor minyak mentah, data internasional menunjukkan aktivitas pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu pada Juni 2026 mencapai level tertinggi dalam satu dekade. Peningkatan itu menunjukkan upaya Riyadh memperbesar ekspor melalui Laut Merah sebagai alternatif bagi Selat Hormuz.

Strategi yang Berakar dari Perang Iran-Irak

Strategi pengalihan ekspor energi sebenarnya bukan kebijakan baru. Akar kebijakan tersebut dapat ditelusuri hingga dekade 1980-an ketika Perang Iran-Irak memperlihatkan tingginya risiko pelayaran di Teluk Persia.

Sebagai respons, Arab Saudi membangun Pipa Timur–Barat sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang menghubungkan kawasan ladang minyak di Provinsi Timur dengan Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Infrastruktur ini memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel minyak per hari dan hingga kini menjadi jalur utama ekspor minyak Saudi di luar Selat Hormuz.

Pemerintah Saudi bahkan tengah mengkaji peningkatan kapasitas pipa tersebut sebesar 1–2 juta barel per hari untuk memperkuat fleksibilitas ekspor apabila gangguan terhadap pelayaran di Teluk Persia terus berlanjut.

Namun demikian, kapasitas tersebut dinilai belum mampu menggantikan seluruh volume ekspor yang sebelumnya melewati Selat Hormuz.

Ekspor Belum Pulih

Sebelum konflik pecah pada Februari 2026, Arab Saudi memproduksi sekitar 10,9 juta barel minyak per hari, dengan volume ekspor berkisar 6–7 juta barel per hari.

Setelah penutupan Selat Hormuz, ekspor minyak Saudi mengalami penurunan tajam. Berdasarkan data Joint Organisations Data Initiative (JODI), ekspor minyak mentah Arab Saudi turun menjadi sekitar 4,97 juta barel per hari, sekitar 2 juta barel per hari lebih rendah dibandingkan periode sebelum perang.

Hal itu menunjukkan bahwa jalur Laut Merah belum mampu menggantikan sepenuhnya peran strategis Selat Hormuz. Keterbatasan kapasitas pipa membuat sebagian ekspor minyak, produk kilang, dan petrokimia dari pesisir timur masih terdampak penutupan jalur tersebut.

Baca juga: IRGC kepada Rakyat Yordania: Tanah Suci Para Nabi Bukan Tempat bagi Pelaku Kejahatan Internasional

Jalur Alternatif yang Tetap Rentan

Farsnews menilai terdapat sedikitnya tiga tantangan utama yang membayangi efektivitas jalur Laut Merah sebagai alternatif ekspor energi.

Pertama, kapasitas operasional Pipa Timur–Barat masih belum memadai untuk menampung seluruh volume ekspor minyak Arab Saudi. Kondisi ini menyebabkan sebagian ekspor tetap tidak dapat dialihkan dari Selat Hormuz.

Kedua, keamanan jalur Laut Merah tetap bergantung pada stabilitas Selat Bab el-Mandeb. Apabila serangan Angkatan Bersenjata Yaman terhadap pelayaran di Laut Merah kembali terjadi, ekspor melalui Pelabuhan Yanbu juga berpotensi mengalami gangguan serius sehingga Bab el-Mandeb dapat berubah menjadi titik rawan kedua setelah Selat Hormuz.

Ketiga, keamanan fasilitas energi Arab Saudi di pesisir Laut Merah masih sangat bergantung pada perlindungan militer Amerika Serikat. Dalam situasi eskalasi konflik yang lebih luas, keberadaan pangkalan dan dukungan militer AS di kawasan dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi tersebut.

Negara-Negara Teluk Ikut Mencari Jalur Alternatif

Diversifikasi jalur ekspor juga menjadi perhatian negara-negara Teluk lainnya. Kuwait dilaporkan menjajaki penggunaan jaringan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk menyalurkan ekspor minyaknya.

Qatar, sebagai eksportir utama LNG dunia, turut mengevaluasi berbagai jalur distribusi alternatif setelah meningkatnya risiko keamanan pelayaran, termasuk menyusul serangan terhadap kapal LNG Qatar yang menunjukkan bahwa jalur tersebut juga rentan terhadap gangguan.

Sementara itu, Bahrain menghadapi tantangan yang lebih besar karena belum memiliki infrastruktur alternatif untuk mengekspor energi tanpa melalui Selat Hormuz. Apabila penutupan Selat Hormuz terus berlanjut, ekspor minyak negara itu diperkirakan akan mengalami gangguan serius sehingga meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

Selat Hormuz Masih Sulit Digantikan

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa meskipun Arab Saudi telah mengembangkan Pelabuhan Yanbu, memperluas layanan Red Sea Express, dan mengandalkan Pipa Timur–Barat untuk mengalihkan sebagian ekspor energinya ke Laut Merah, langkah tersebut belum mampu menggantikan posisi strategis Selat Hormuz. Keterbatasan kapasitas infrastruktur serta kerentanan keamanan di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb menunjukkan bahwa negara-negara Teluk tetap menghadapi tantangan besar dalam mencari jalur ekspor alternatif apabila konflik regional terus bereskalasi. []

Baca juga: Analis Zionis: Keruntuhan Israel Hanya Tinggal Menunggu Waktu dan Dimulai dari Militer