Opini
Reuters: Iran Terluka, tetapi Tidak Kalah

Media ABI, 27 Agustus 2026 — Enam bulan setelah Amerika Serikat dan rezim Zionis melancarkan serangan terhadap Iran, perang yang oleh Presiden AS Donald Trump semula disebut sebagai “urusan singkat” belum juga berakhir. Konflik tersebut justru berubah menjadi kebuntuan berkepanjangan yang mulai menimbulkan dampak politik bagi Washington dan tekanan terhadap perekonomian dunia.
Fars News Agency melaporkan pada Kamis (27/8/26), Reuters dalam laporan terbarunya menyebut perang pilihan Trump terhadap Iran kini menghadapi jalan buntu. Iran belum menyerah, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih terganggu parah, sementara jalur yang jelas untuk mengakhiri konflik belum terlihat.
Baca juga: The Economist Mengulas Alasan Ansharullah Sulit Ditundukkan
Trump sebelumnya memperkirakan perang akan selesai dalam waktu empat pekan. Kini, Washington tampaknya mulai melihat bahwa serangan militer tambahan belum tentu mampu memaksa Teheran memberikan konsesi. Amerika Serikat kembali mengandalkan tekanan ekonomi dengan harapan dapat melemahkan pemerintah Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan telah mengatakan kepada sekutu Washington bahwa Amerika kemungkinan tidak akan melancarkan serangan baru terhadap Iran “untuk saat ini”.
Meski arah konflik berikutnya masih belum jelas, Reuters menilai sejumlah dampak jangka panjang perang tersebut sudah mulai terlihat.
Trump Mulai Menanggung Beban Politik
Perang dengan Iran sejak awal tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat Amerika. Penolakan terhadap konflik tersebut kini semakin meningkat.
Jajak pendapat Reuters dan Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump turun dari 40 persen menjadi 33 persen sejak perang dimulai. Kenaikan harga bensin turut memperburuk keadaan dan melemahkan janji kampanye Trump pada 2024 untuk menurunkan biaya hidup masyarakat Amerika.
Trump memenangkan dukungan politik dengan janji mengakhiri perang. Namun, setelah serangan terhadap Iran dimulai, dia beralasan bahwa perkembangan kemampuan rudal dan program nuklir Iran membuat tindakan militer diperlukan. Alasan tersebut belum mampu meyakinkan mayoritas pemilih.
Baca juga: Layang-layang Anak Gaza Dicap Aktivitas Bersenjata
Hanya 31 persen warga Amerika yang menyatakan mendukung perang tersebut. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan dukungan publik terhadap sejumlah perang Amerika sebelumnya dalam periode yang sama. Perang Afghanistan, misalnya, pernah mendapat dukungan lebih dari 50 persen selama beberapa tahun.
Kenaikan harga juga menjadi persoalan bagi Partai Republik. Dalam pemilu sela November, partai yang dipimpin Trump harus mempertahankan mayoritas tipis di kedua kamar Kongres.
Perang dengan Iran turut memperlebar perbedaan di kalangan Republik. Sebagian menginginkan konflik segera diakhiri, sementara kelompok lain menilai Trump harus mempertahankan tekanan militer terhadap Teheran.
Selat Hormuz Mengguncang Ekonomi Dunia
Dampak perang tidak berhenti di Amerika dan Iran. Serangan AS dan rezim Zionis sejak awal telah memicu kekhawatiran di pasar global.
Selat Hormuz menjadi titik paling rawan. Pada bagian tersempit, jalur laut tersebut hanya memiliki lebar sekitar 34 kilometer dan menjadi jalur bagi hampir seperlima pasokan energi dunia.
Gangguan terhadap lalu lintas kapal mendorong harga minyak melonjak dan meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan resesi global. Biaya ekonomi akibat konflik juga terus bertambah.
Iran Terluka, tetapi Terus Melawan
Kemampuan militer dan perekonomian Iran mengalami kerusakan berat akibat perang. Namun, Teheran masih memiliki kemampuan menyerang dan mempertahankan gangguan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz.
Komandan senior militer AS di Timur Tengah Brad Cooper mengatakan kepada Kongres pada Mei bahwa pasukan Amerika telah menghancurkan 161 kapal militer Iran dan melumpuhkan 82 persen sistem pertahanan udara negara tersebut.
Cooper juga mengklaim Angkatan Udara Iran, yang sebelum perang mampu melakukan hingga 100 sorti penerbangan setiap hari, kini tidak lagi menjalankan operasi.
Reuters mencatat bahwa Iran masih memiliki drone dan rudal serta mampu menyerang kapal dan fasilitas militer Amerika di kawasan.
Baca juga: Pelaut AS Mencoba Bunuh Diri di USS Abraham Lincoln, Hadapi Hukuman Disipliner
Dalam laporan pada Maret, Reuters menyebut Amerika Serikat dapat memastikan dengan tingkat keyakinan tinggi bahwa sekitar sepertiga dari persediaan rudal Iran telah dihancurkan.
Nasib sekitar sepertiga lainnya belum diketahui. Sejumlah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa serangan udara kemungkinan merusak, menghancurkan, atau mengubur sebagian rudal yang disimpan di dalam terowongan dan tempat perlindungan bawah tanah.
Timur Tengah Makin Tidak Stabil
Amerika Serikat dan Israel menyatakan serangan terhadap Iran bertujuan memastikan negara tersebut tidak lagi menjadi ancaman bagi kawasan. Namun, serangan balik Iran justru memperluas gangguan keamanan di kawasan.
Serangan rudal dan drone Iran terhadap negara-negara Arab di kawasan Teluk yang menjadi sekutu Amerika, serta terhadap fasilitas militer dan diplomatik AS, telah mengganggu perjalanan udara.
Di laut, serangan Iran terhadap kapal-kapal yang berupaya melewati Selat Hormuz dengan melanggar aturan turut meningkatkan risiko pelayaran. Situasi tersebut diperburuk oleh serangan Ansarullah Yaman terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah.
Akibatnya, biaya asuransi dan transportasi di kawasan ikut meningkat.
Nasib Program Nuklir Iran Belum Terjawab
Reuters menilai aktivitas nuklir Iran mungkin mengalami kemunduran untuk sementara waktu. Namun, kondisi sebenarnya program nuklir tersebut masih belum dapat dipastikan.
Para pengawas Perserikatan Bangsa-Bangsa belum kembali ke lokasi-lokasi nuklir Iran. Badan Energi Atom Internasional atau IAEA juga belum dapat memverifikasi keberadaan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen sejak serangan pada 2025.
Ketidakmampuan melakukan verifikasi tersebut membuat gambaran mengenai kondisi program nuklir Iran tetap tidak lengkap.
Baca juga: Pasukan AS Keluar dari Irak, Pengaruh Washington Belum Berakhir
Kesiapan Militer AS Ikut Tertekan
Perang juga menguras kemampuan militer Amerika Serikat.
Reuters melaporkan bahwa sejumlah drone dan pesawat AS hilang selama konflik, baik akibat serangan Iran maupun kecelakaan. Laporan Pusat Riset Kongres AS pada Mei menyebut 42 pesawat militer Amerika telah hilang dalam perang tersebut.
Persediaan amunisi menjadi persoalan lain. Menurut Reuters, militer AS telah menggunakan hampir seluruh persediaan global untuk sejumlah jenis rudal presisi.
Perkiraan Center for Strategic and International Studies menunjukkan bahwa hingga Juli, Amerika Serikat telah menggunakan sekitar 65 persen persediaan rudal pencegat Patriot dan sedikitnya 38 persen persediaan pencegat sistem THAAD.
Washington juga memindahkan pesawat tempur, kapal perang, dan peralatan militer lainnya dari Eropa serta kawasan Asia-Pasifik menuju Asia Barat. Pengalihan tersebut memperpanjang masa penempatan pasukan dan memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan militer Amerika di kawasan lain.
Kapal induk USS Gerald R. Ford telah menjalani penugasan selama lebih dari satu tahun. Menurut laporan tersebut, masa penempatan ini merupakan yang terlama bagi kapal tersebut sejak Perang Vietnam.
Kondisi USS Abraham Lincoln juga mendapat perhatian para legislator Amerika setelah kapal itu berada di laut selama 200 hari berturut-turut.
Baca juga: Pasukan AS Keluar dari Irak, Pengaruh Washington Belum Berakhir
Pekan lalu, USS Abraham Lincoln digantikan oleh kapal induk yang sebelumnya ditempatkan di Samudra Pasifik. Pergantian tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai besarnya tekanan perang terhadap sumber daya dan kemampuan militer Amerika.
Kini Washington kembali mengandalkan tekanan ekonomi setelah mengurangi kemungkinan serangan militer baru. Namun, Reuters menilai belum ada kepastian bahwa strategi tersebut akan mampu memaksa Teheran menerima tuntutan Amerika Serikat.
Enam bulan setelah perang dimulai, Iran memang mengalami kerusakan besar. Namun, seperti disimpulkan Reuters, kerusakan tersebut belum berubah menjadi kekalahan. []
Baca juga: Dokumen Rahasia Netanyahu Diburu MI6, Kini Berada di Tangan Iran







