Internasional
Bessent Ramal Iran Akan Ambruk, Qalibaf Balik Hitung Nasib Amerika

MEDIA ABI, 1 Oktober 2026 — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent memperkirakan ekonomi Iran akan runtuh dalam dua pekan ke depan. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf merespons ramalan tersebut dengan cara yang agak tidak biasa. Alih-alih sibuk menghitung hari menuju keruntuhan ekonomi Iran, ia justru mengajak Bessent melihat kembali persoalan yang sedang menekan keuangan Amerika Serikat.
Melalui akun pribadinya di platform X pada Kamis (1/10/2026), Qalibaf mengatakan pemerintah Amerika Serikat pada masa lalu memperoleh pinjaman dalam jumlah besar dengan tingkat suku bunga yang hampir nol. Kini, ketika utang-utang tersebut memasuki masa pembayaran, pemerintah Amerika harus menerbitkan utang baru dengan bunga yang jauh lebih tinggi untuk memenuhi kewajiban sebelumnya.
Baca juga: Rusia Peringatkan NATO soal Kaliningrad, Sebut Senjata Nuklir sebagai Opsi
Dengan kata lain, ketika Washington sedang menghitung kapan ekonomi Iran akan ambruk, Qalibaf mengingatkan bahwa ada hitungan lain yang tidak kalah penting, yakni berapa mahal biaya yang harus dibayar Amerika untuk membiayai kembali utangnya sendiri.
Menurut Qalibaf, persoalan tersebut tidak berdiri sendiri. Ia mengaitkannya dengan harga energi, Selat Hormuz, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika.
Ia menyebut posisi Iran dalam mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan menjaga harga energi tetap tinggi ikut menambah tekanan terhadap Departemen Keuangan Amerika Serikat. Kenaikan imbal hasil obligasi, menurutnya, turut memperbesar beban yang sedang dihadapi Washington.
Karena itu, Qalibaf menilai Amerika Serikat tidak akan mampu keluar dari tekanan ekonomi tersebut sebelum persoalan yang berkaitan dengan Iran diselesaikan melalui penghormatan terhadap hak-hak bangsa Iran.
Pembeli Obligasi Mulai Menjauh
Qalibaf juga menyoroti perubahan pada sisi permintaan surat utang pemerintah Amerika Serikat. Ia mengatakan kemampuan dan minat para pembeli obligasi untuk menyerap penerbitan baru terus mengalami penurunan.
China dan Jepang disebut sebagai contoh. Kedua negara tersebut merupakan pemegang besar surat utang Amerika Serikat, tetapi menurut Qalibaf kini menunjukkan minat yang lebih rendah untuk membeli obligasi baru maupun mempertahankan surat utang yang telah mereka miliki.
Masalahnya sederhana, setidaknya secara teori. Ketika pembeli tidak lagi terlalu bersemangat menyerap surat utang, pemerintah Amerika harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi agar obligasi tersebut tetap menarik. Dan semakin tinggi bunga, semakin mahal pula biaya pemerintah untuk membiayai utangnya.
Baca juga: Iran: Sanksi Tak Hentikan Pengembangan Kemampuan Dalam Negeri
Bagi Qalibaf, perkembangan ini menjadi bagian dari tekanan yang semakin besar terhadap keuangan pemerintah Amerika. Jadi, sebelum terlalu sibuk menghitung keruntuhan ekonomi negara lain, ada baiknya kalkulator di Washington juga dipakai untuk menghitung tagihan sendiri.
Fars News Agency melaporkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 30 tahun pada hari sebelumnya mencapai tingkat tertinggi sejak 2002. Dengan tren yang berlangsung saat ini, tingkat tersebut bahkan berpotensi kembali mendekati level yang pernah tercatat pada dekade 1990-an dan sebelumnya.

Bessent meramal ekonomi Iran ambruk, Qalibaf justru membalas dengan menyoroti utang dan tekanan keuangan Amerika Serikat.
Zervos dan Lelucon Baru di Pasar
Dalam unggahan yang sama, Qalibaf turut menampilkan gambar David Zervos, penasihat baru Bessent yang baru ditunjuk sehari sebelumnya.
Nama Zervos dikenal di kalangan pasar keuangan karena sejumlah pernyataannya yang tidak biasa. Bertahun-tahun lalu, ia pernah mengatakan akan berhenti memotong rambut dan mencukur janggut sampai Federal Reserve menurunkan suku bunga.
Penunjukan Zervos sebagai penasihat Bessent kemudian menjadi bahan candaan di kalangan pelaku pasar keuangan. Dunia pasar memang memiliki cara sendiri untuk menyambut pejabat baru, terutama ketika rekam jejak pernyataannya sudah lebih dulu menyediakan bahan lelucon.
Pernyataan Qalibaf pada akhirnya menggeser arah perdebatan. Dari ramalan tentang kapan ekonomi Iran akan ambruk, pembicaraan bergerak ke persoalan utang pemerintah Amerika Serikat, biaya pembiayaan kembali, harga energi, imbal hasil obligasi, dan posisi strategis Selat Hormuz.
Setidaknya dari sudut pandang Qalibaf, persoalan ekonominya tidak sesederhana menghitung berapa hari Iran dapat bertahan. Ada tagihan lain yang sedang berjalan di Washington, dan bunga atas tagihan itu terus bergerak. []
Baca juga: IRGC Sebut Hormuz Jadi “Medan Perburuan” Drone Laut AS







