Opini
Ayatulah Mojtaba Khamenei: Mengalah kepada AS Justru Membuka Jalan bagi Tuntutan Baru

Pemimpin Tertinggi Iran menilai konsesi kepada Washington tidak akan mengakhiri permusuhan, melainkan membuka jalan bagi tuntutan dan tekanan baru. Persatuan nasional, ketahanan pertahanan, dan kemajuan menyeluruh menjadi tumpuan untuk menjaga kedaulatan negara.
Media ABI, 5 November 2026 – Bagi Teheran, persoalan dengan Washington bukan semata-mata tentang bagaimana mengakhiri ketegangan, melainkan juga tentang bagaimana menghadapi permusuhan yang dinilai telah berlangsung selama puluhan tahun. Atas dasar pandangan itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatulah Mojtaba Hosseini Khamenei memperingatkan bahwa mengalah kepada Amerika Serikat (AS) tidak akan membawa permusuhan pada akhirnya. Konsesi, sebaliknya, justru berisiko mengundang tuntutan yang lebih besar, memperluas tekanan, dan membuka jalan bagi agresi baru.
Baca juga: Ketua Umum ABI: Sayyidah Fatimah dan Palestina, Tolok Ukur Kebenaran
Peringatan tersebut disampaikan dalam pesan memperingati Hari Nasional Perjuangan Melawan Arogansi Global, 4 November 2026, yang dipublikasikan melalui Khamenei.ir. Di tengah konfrontasi dengan AS, pesan itu tidak hanya berbicara tentang ancaman dari luar, tetapi juga menempatkan persatuan nasional, penguatan pertahanan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan rakyat sebagai penopang ketahanan Iran.
Untuk menjelaskan sikap tersebut, Ayatulah Mojtaba membawa ingatan pada sejarah intervensi AS di Iran, terutama kudeta terhadap pemerintahan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh pada 19 Agustus 1953. Peristiwa itu menjadi salah satu titik penting dalam hubungan kedua negara, sekaligus pengalaman historis yang terus membayangi cara Teheran memandang kebijakan Washington. Kudeta tersebut, dalam pembacaan yang disampaikan, memperlihatkan campur tangan kekuatan asing dalam menentukan arah politik Iran dan mempertahankan pemerintahan yang bergantung kepadanya.
Ingatan sejarah itu kemudian dirangkaikan dengan berbagai peristiwa setelah Revolusi Islam 1979. Dalam pesannya, Ayatulah Mojtaba menyebut dukungan terhadap kelompok separatis dan pelaku rencana kudeta, sokongan kepada organisasi Mujahidin-e Khalq (MEK), serta bantuan kepada rezim Baath Irak selama perang Iran-Irak pada 1980–1988. Ia juga menyinggung penembakan pesawat penumpang sipil Iran oleh militer AS, penerapan sanksi berkepanjangan, dukungan terhadap kerusuhan dan distribusi senjata, pembunuhan Komandan Pasukan Quds Qassem Soleimani, hingga penyitaan aset Iran di luar negeri.
Rangkaian pengalaman tersebut menjadi dasar bagi penilaiannya bahwa permusuhan terhadap Republik Islam tidak bergantung pada siapa yang menduduki Gedung Putih. Pergantian presiden maupun partai yang berkuasa, menurut pesan itu, tidak dengan sendirinya mengubah arah kebijakan Washington. Karena itu, harapan bahwa perubahan politik di AS akan otomatis menghadirkan hubungan yang lebih baik dinilai tidak cukup untuk dijadikan sandaran strategis Iran.
Pesan tersebut juga menyoroti serangan militer langsung AS terhadap Iran dan korban yang ditimbulkannya. Ayatulah Mojtaba menyebut korban dari kalangan masyarakat sipil, termasuk anak-anak, bayi, dan lanjut usia, serta para ilmuwan dan komandan militer. Terbunuhnya Ayatulah Sayid Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, turut disinggung dalam uraian mengenai serangan dan kehilangan yang dialami negara itu. Peristiwa-peristiwa tersebut diposisikan sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kedaulatan di tengah tekanan militer.
Baca juga: Iran Lebih Siap Hadapi Perang Baru
Lebih dari sekadar melemahkan kemampuan pertahanan atau menekan pemerintahan, ambisi AS terhadap Iran digambarkan dalam pesan itu sebagai upaya yang jauh lebih mendasar: memecah belah negara, menundukkan rakyat, meruntuhkan sistem politik Republik Islam, bahkan menghancurkan peradaban Iran. Dalam kerangka pemikiran tersebut, konsesi tidak dipandang sebagai jaminan keamanan, sebab persoalan yang dihadapi dianggap menyentuh keberadaan dan kemandirian negara itu sendiri.
Selat Hormuz dan risiko meluasnya konflik
Ketegangan dengan Washington tidak dapat dilepaskan dari posisi strategis Iran di Teluk Persia, terutama di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Dalam pesan tersebut, Ayatulah Mojtaba menegaskan posisi Iran dalam menghadapi kehadiran militer AS di kawasan, seraya memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan Amerika dapat menjadi sasaran pembalasan. Kemampuan merespons serangan ditempatkan sebagai bagian dari pertahanan dan upaya mencegah lawan melanjutkan agresi.
Peringatan itu membawa konsekuensi yang melampaui hubungan bilateral. Konfrontasi militer di sekitar Iran berpotensi menjalar ke kawasan yang lebih luas, dengan implikasi terhadap keamanan regional dan jalur perdagangan strategis. Selat Hormuz dan keberadaan pangkalan militer AS karena itu menempati posisi penting dalam kalkulasi yang disampaikan Teheran. Adapun pernyataan mengenai kendali Iran atas selat tersebut dan kemampuan menghancurkan pangkalan-pangkalan AS merupakan klaim dalam pesan Ayatulah Mojtaba, bukan konfirmasi independen mengenai keadaan militer di lapangan.
Pandangan mengenai perubahan keseimbangan kekuatan kawasan juga mencakup Palestina, Lebanon, Irak, dan Yaman. Kelompok-kelompok perlawanan di wilayah tersebut ditempatkan sebagai bagian dari dinamika yang menantang dominasi AS dan Israel. Dari perkembangan itu, Ayatulah Mojtaba menarik pandangan yang lebih luas tentang munculnya tatanan dunia baru, yang menurutnya akan menggeser dominasi kekuatan-kekuatan Barat.
Dalam pembacaan tersebut, kekuatan dan pengaruh AS disebut sedang mengalami kemunduran yang tidak dapat dipulihkan. Penilaian itu mencerminkan keyakinan bahwa dominasi Washington kian menghadapi tantangan di tingkat regional maupun internasional. Namun, perubahan keseimbangan global tersebut tidak dipandang akan mengubah dengan sendirinya sikap AS terhadap Iran. Pergantian pemerintahan di Washington, dalam pandangan yang disampaikan, tidak menyentuh akar persoalan.
Persatuan nasional sebagai fondasi ketahanan
Penolakan terhadap konsesi menjadi salah satu garis tegas dalam pesan Ayatulah Mojtaba. Ia menilai tujuan AS pada akhirnya adalah memaksa Iran menyerah tanpa syarat. Dalam logika itu, setiap langkah mengalah bukan penutup perselisihan, melainkan awal dari tuntutan berikutnya. Tekanan yang tidak berhenti pada satu konsesi berpotensi berkembang menjadi agresi baru dan kembali menyeret kedua negara ke dalam konflik.
Baca juga:
- Perang terhadap Iran Renggut Kendali Senat dari Trump
- Texas dan Carolina Selatan Bergejolak, Demokrat Guncang Basis Politik Republik
- IRGC Hancurkan Empat Kapal Tanker dan Drone MQ-9 ke-56 di Selat Hormuz
Menghadapi keadaan tersebut, ketahanan nasional tidak cukup ditopang oleh kekuatan militer. Persatuan masyarakat, kapasitas pemerintahan, dan kemampuan negara menjawab kebutuhan rakyat sama pentingnya. Pelayanan publik, peningkatan kesejahteraan, serta pemeliharaan kemandirian nasional menjadi bagian dari upaya memperkuat daya tahan Iran. Negara yang mampu menjaga kehidupan warganya, dalam kerangka pesan tersebut, memiliki landasan lebih kokoh untuk menghadapi tekanan dari luar.
Perhatian khusus juga diberikan kepada generasi muda dan mahasiswa. Masa depan Iran, menurut Ayatulah Mojtaba, bergantung pada kualitas generasi yang dipersiapkan hari ini. Pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, keteguhan iman, akhlak, kedisiplinan, serta kerja keras disebut sebagai unsur penting dalam membangun kekuatan bangsa. Generasi muda tidak hanya mewarisi hasil perjuangan sebelumnya, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk memastikan kemajuan dan kemandirian negara.
Landasan tersebut, dalam pesan itu, tidak dipisahkan dari Islam dan prinsip-prinsip Revolusi Islam. Imam Ruhollah Khomeini dan Ayatulah Sayid Ali Khamenei dihadirkan sebagai figur teladan dalam menjaga arah perjuangan dan identitas Republik Islam. Rujukan kepada kedua tokoh tersebut menegaskan kesinambungan ideologis yang hendak dipertahankan di tengah tekanan politik, ekonomi, dan keamanan.
Pada bagian penutup, Ayatulah Mojtaba menyampaikan harapan agar Iran meraih kemenangan, kesejahteraan, dan kemajuan menyeluruh dengan pertolongan Tuhan serta doa Imam Mahdi. Harapan itu berjalan beriringan dengan keyakinan akan semakin cepatnya kemunduran pihak yang disebut sebagai “Setan Besar”, sebutan yang merujuk kepada Amerika Serikat.
Pesan tersebut ditutup dengan kutipan Al-Qur’an, Surah Al-Ma‘arij ayat 6–7: “Sesungguhnya mereka memandangnya jauh, sedangkan Kami memandangnya dekat.” Sebuah penutup yang merangkum keyakinan politik dan religius dalam pesan itu: perubahan yang dianggap masih jauh oleh sebagian pihak diyakini justru semakin dekat. []
Baca juga: Filsuf Rusia: Iran Menang, Baal Kalah







