Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Barat Kian Tercekik Dampak Perang terhadap Iran

Published

on

Perang terhadap Iran dan gangguan di Selat Hormuz memperburuk tekanan harga BBM di AS menjelang pemilu paruh waktu.
Gangguan pasokan energi dan pelayaran di Selat Hormuz akibat perang terhadap Iran meningkatkan tekanan ekonomi Barat, memicu lonjakan harga bahan bakar dan gejolak pasar keuangan.

Media ABI, 2 November 2026 – Pengakuan para pemimpin Eropa dan Amerika Serikat mengenai besarnya kerugian ekonomi akibat perang terhadap Iran menyingkap satu kenyataan: dampak konflik tidak berhenti di medan perang, tetapi menjalar ke perekonomian global. Iran, dalam dinamika tersebut, dipandang bukan hanya sebagai aktor militer, melainkan juga kekuatan yang memengaruhi percaturan ekonomi dunia. Inilah posisi strategis yang disoroti Mayor Jenderal Mohsen Rezaei.

Baca juga: IRGC Akan Ungkap Kapasitas dan Target Baru jika Kembali Diserang

Kantor Berita Farsnews pada Minggu (1/11/26) melaporkan, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa perhatian internasional terhadap perang melawan Iran dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dunia berkaitan dengan perlawanan rakyat Iran, kemenangan yang diklaim telah diraih, serta posisi Iran dalam peta ekonomi global. Lantas, di mana letak kekuatan ekonomi tersebut hingga, menurut Rezaei, Presiden Prancis, Kanselir Jerman, bahkan Presiden Ukraina turut mengakuinya?

Jerman Akui Beban Ekonomi Perang

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa kenaikan harga energi akibat perang terhadap Iran selama delapan bulan telah menimbulkan tambahan beban biaya bagi Eropa lebih dari 100 miliar euro. Merz kini menyerukan penyelesaian diplomatik untuk mengakhiri perang dan menegaskan bahwa konflik tersebut tidak dapat diselesaikan melalui cara militer.

Pernyataan itu kontras dengan sikapnya pada awal perang yang pecah pada Juni 2025. Dalam wawancara dengan stasiun televisi ZDF di sela-sela KTT G7 di Kanada, Merz ketika itu mengatakan, “Ini pekerjaan kotor yang dilakukan Israel untuk kita semua.”

Gejolak Hormuz Memicu Kemarahan di Jalanan Prancis

Di Prancis, gelombang protes telah berlangsung selama satu setengah bulan. Demonstran turun ke jalan mengeluhkan tingginya biaya hidup akibat kenaikan harga bahan bakar. Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya menyatakan, “Kita sedang hidup dengan konsekuensi penutupan Selat Hormuz.”

Dua pekan lalu, ketika eskalasi kekerasan dalam aksi protes meningkat, Macron secara resmi menyampaikan melalui pidato televisi bahwa para demonstran berhak merasa kecewa atas “kenaikan harga bahan bakar akibat perkembangan di Teluk Persia”. Dalam delapan bulan terakhir, sejak serangan koalisi Israel-Amerika Serikat, harga bensin dilaporkan meningkat 30 persen, sedangkan solar sekitar 46 persen. Dana Moneter Internasional (IMF) juga menyatakan dalam laporan terbarunya bahwa pertumbuhan ekonomi Prancis selama setahun terakhir turun 0,5 persen.

Baca juga: 

Tekanan ekonomi itu turut tercermin dalam terganggunya rantai pasok. Sepuluh hari lalu, saat meninggalkan Qatar, Macron mengeluhkan gangguan distribusi barang akibat situasi di kawasan Teluk. Di hadapan wartawan, ia mengatakan biaya transportasi telah meningkat hingga sepuluh kali lipat.

Zelensky dan Dampak Krisis Hormuz

Pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang disinggung Rezaei merujuk pada pernyataan sekitar 22 hari sebelumnya, ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina. Dalam sebuah video, Zelensky mengatakan, “Berbicara mengenai harga dan mengaitkannya dengan Ukraina merupakan hal yang lebih mudah. Semua orang di seluruh dunia tahu bahwa harga-harga naik akibat perang di Timur Tengah (perang terhadap Iran).”

Ekonomi AS Tertekan Krisis Selat Hormuz

Amerika Serikat, yang juga menjadi salah satu pihak penyerang Iran, tidak luput dari dampak konflik. Washington turut menghadapi konsekuensi penutupan Selat Hormuz dan perlawanan Iran terhadap tekanan perang. Perusahaan-perusahaan AS yang tercatat di Wall Street kehilangan sekitar 1,8 triliun dolar AS dari total kapitalisasi pasar pada hari perdagangan terakhir pekan tersebut. Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga mencatat kinerja harian terburuk dalam lima bulan terakhir.

Penurunan tersebut tidak semata-mata mencerminkan kekhawatiran terhadap perang dan perusahaan minyak. Pasar juga tengah memperhitungkan dampak ekonomi dari gangguan di Selat Hormuz, yang melalui kenaikan biaya energi, inflasi, dan suku bunga, menekan perekonomian AS secara keseluruhan. Saat laporan ini diterbitkan, harga bensin di AS tercatat sekitar 38 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum serangan terhadap Iran, sementara harga solar melonjak lebih dari 71 persen. Harga bensin telah mencapai 4,17 dolar AS per galon, melampaui level 3,50 dolar yang disebut sebagai ambang sensitif secara politik bagi pemerintahan Trump.

Baca juga: Senator AS: Washington Tak Mampu Melindungi Pasukannya dari Serangan Iran

Sementara itu, harga minyak masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel setelah 26 hari, dengan harga dalam transaksi terakhir menembus 114 dolar. Lonjakan harga energi tersebut menempatkan Federal Reserve (The Fed) dalam posisi sulit. Di satu sisi, kenaikan inflasi membatasi ruang untuk menurunkan suku bunga dengan cepat. Di sisi lain, mempertahankan suku bunga tinggi berisiko memperparah tekanan resesi terhadap perekonomian.

Pada akhir September, bank sentral AS menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, dengan alasan kenaikan inflasi. Keputusan itu, menurut laporan ini, bertentangan dengan janji kampanye Trump. Kenaikan suku bunga tersebut disebut tidak hanya gagal meredam inflasi, tetapi juga diikuti tekanan ekonomi yang berat. Di tengah mendekatnya pemilu, The Fed kini mempertahankan suku bunga tetap. Namun, perkiraan para analis menunjukkan bahwa kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama, bahkan kembali naik, semakin diperhitungkan oleh pasar. []

Baca juga: The Guardian: Perang Iran, Kesalahan Trump yang Paling Misterius

Continue Reading
Click to comment

Tinggalkan Balasan