Ikuti Kami Di Medsos

Persatuan

Ayatullah Mojtaba: Musuh Iran Kini Menargetkan Persatuan Nasional setelah Gagal di Medan Militer

Published

on

Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei.
Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia | 28 Mei 2026 — Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei, menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel berupaya menciptakan perpecahan sosial dan politik di dalam negeri setelah gagal mencapai tujuan mereka melalui tekanan militer dan ekonomi.

Ancaman Perpecahan Pascaperang

Dalam pesan resminya yang dipublikasikan Kamis (28/5), Ayatullah Mojtaba Khamenei mengatakan strategi tekanan terhadap Teheran kini diarahkan untuk melemahkan persatuan nasional dari dalam, setelah konfrontasi terbuka di medan militer tidak menghasilkan hasil yang diharapkan Washington dan Tel Aviv.

Baca juga: Pandangan Ayatullah Nouri Hamedani Terhadap Ayatullah Mojtaba: Faqih Mendalam dan Visioner

“Rencana dan intrik buta musuh, menyusul perang yang dipaksakan, tekanan ekonomi, propaganda, dan pengepungan, adalah untuk menabur perselisihan dan perpecahan sosial guna mengimbangi kekalahan mereka di medan militer dan membuat bangsa ini bertekuk lutut,” ujar Sayyid Mojtaba Khamenei.

Ia menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat Iran, khususnya elite politik dan intelektual, memiliki tanggung jawab menjaga solidaritas nasional dan mencegah perbedaan pandangan berkembang menjadi konflik internal.

“Perlu bagi setiap pihak yang hatinya berdenyut demi Islam, Revolusi, serta kemerdekaan dan kejayaan Iran untuk menjaga persatuan barisan rakyat dan tidak mengubah perbedaan, baik yang tidak berdasar maupun yang berdasar sekalipun, menjadi pertikaian dan perpecahan,” katanya.

Baca juga: Pesan Ayatullah Mojtaba di Hari Buruh dan Guru: Kemajuan Negara Bertumpu pada Guru dan Pekerja

Berdirinya Majelis dan Peran Parlemen

Pesan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan sesi pertama Majelis Permusyawaratan Islam Iran yang secara resmi diresmikan pada 28 Mei 1980, sekaligus menandai dimulainya tahun ketiga masa kerja parlemen Iran ke-12.

Dalam pembukaan pesannya, Ayatullah Mojtaba Khamenei menyampaikan ucapan selamat Idul Adha kepada rakyat Iran dan para anggota parlemen, serta memberikan apresiasi terhadap para legislator Iran, khususnya Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf.

Menurutnya, parlemen Iran sebagai “inti sari bangsa, perwujudan demokrasi beragama, dan pilar hukum serta legislasi Republik Islam” yang memainkan peran penting dalam menjalankan kehendak rakyat.

Ketahanan Nasional Pascaperang

Menurut Ayatullah Mojtaba, pengalaman perang dan tekanan eksternal dalam beberapa bulan terakhir telah memperlihatkan ketahanan masyarakat Iran di tengah situasi sulit.

“Sekarang, setelah berlalu tiga bulan dari Pertahanan Suci Ketiga, keteguhan moral dan daya tahan rakyat Iran dalam iman, harapan, dan tindakan telah terbukti di hadapan kawan maupun lawan,” ujarnya.

Ditambahkannya, kondisi tersebut menjadi momentum penting bagi parlemen Iran untuk meningkatkan kualitas legislasi, pengawasan, dan arah pembangunan nasional.

Baca juga: Panggilan Telepon dan Potret Kesederhanaan di Lingkar Kekuasaan Ayatullah Mojtaba Khamenei

Parlemen sebagai “Parit Garis Depan”

Ayatullah Mojtaba Khamenei juga menggambarkan kursi parlemen sebagai “parit garis depan transformasi dalam jalur kemajuan negara” dan meminta anggota parlemen meningkatkan kerja sama dengan pemerintah serta lembaga negara lainnya, sambil tetap menjaga independensi lembaga legislatif.

Ekonomi dan Agenda Rekonstruksi

Pemimpin Revolusi Iran juga menekankan pentingnya fokus pada persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Ia meminta parlemen memprioritaskan pengendalian inflasi, stabilisasi ekonomi, penguatan produksi nasional, penciptaan lapangan kerja, peningkatan sektor ilmu pengetahuan dan industri, pemberantasan korupsi finansial, serta pengurangan kemiskinan.

“Keputusan-keputusan Majelis harus memiliki hubungan langsung dan nyata dengan persoalan utama negara dan kebutuhan rakyat, serta diarahkan pada penciptaan harapan dan pembangunan masa depan negara,” katanya.

Menurutnya, masyarakat di negara itu membutuhkan tanda-tanda harapan, jalur yang stabil, dan prospek masa depan yang jelas, agar mampu menyusun perencanaan hidup dan aktivitas ekonomi secara lebih pasti.

Dalam konteks kebijakan nasional Iran tahun 1405 kalender Persia (2026 Masehi), ia juga menyoroti agenda “Ekonomi Perlawanan dalam Naungan Persatuan Nasional dan Keamanan Nasional” sebagai fokus strategis negara.

Ia meminta parlemen memusatkan perhatian pada stabilisasi ekonomi nasional melalui pengendalian inflasi, penguatan produksi domestik, penciptaan lapangan kerja, serta percepatan rekonstruksi pascaperang.

Baca juga: Pidato Wakil Ketua Umum ABI: Idul Adha, Tauhid, dan Jalan Persatuan Umat

Diplomasi dan Posisi Baru Republik Islam

Selain isu ekonomi, Ayatullah Mojtaba turut menekankan pentingnya diplomasi parlementer, keberanian menghadapi tekanan negara-negara Barat, dan perhatian terhadap posisi baru Republik Islam di tingkat regional maupun global.

“Di antara tuntutan penting saat ini adalah keberanian dan penyampaian sikap yang jelas dan tegas dalam menghadapi keserakahan kekuatan-kekuatan arogan,” ujarnya.

Persatuan Nasional sebagai Benteng Utama

Ayatullah Mojtaba juga memperingatkan bahwa menjaga persatuan nasional merupakan salah satu faktor utama kemenangan Iran dalam menghadapi tekanan eksternal.

Ia menyebut solidaritas rakyat Iran sebagai “nikmat besar” yang terbentuk di bawah panji Republik Islam dan menjadi salah satu faktor terpenting dalam menghadapi apa yang ia sebut sebagai “Setan Besar”, istilah yang selama ini digunakan pejabat Iran untuk merujuk kepada Amerika Serikat.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan otoritas Iran memandang ancaman utama pascakonflik tidak lagi semata berasal dari tekanan militer eksternal, tetapi juga dari potensi fragmentasi sosial dan politik di dalam negeri. []

Baca juga: Pesan Haji Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Mujtaba Khamenei 9 Dzulhijjah 1447 H