Opini
The Guardian: Perang Iran, Kesalahan Trump yang Paling Misterius
![Patrick Wintour menyoroti konsekuensi perang terhadap Iran bagi ekonomi global, hubungan transatlantik, dan tatanan keamanan internasional. [Morteza Nikoubazl/NurPhoto/Shutterstock]](https://ahlulbaitindonesia.or.id/wp-content/uploads/2026/10/Tump.png)
Media ABI, 31 Oktober 2026 – Perang terhadap Iran menjadi blunder strategis Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan konsekuensi yang meluas jauh melampaui Timur Tengah. Konflik ini mengguncang ekonomi dunia, memperuncing perpecahan dengan Eropa, dan menimbulkan pertanyaan baru mengenai arah keamanan internasional.
Baca juga: Rusia: NATO Tingkatkan Aktivitas Militer di Kawasan Baltik
Dalam analisis berjudul “As Trump fans the flames of a world on fire, can diplomacy take back control?” yang diterbitkan The Guardian pada Sabtu (31/10), editor diplomatik Patrick Wintour menyoroti bagaimana perang terhadap Iran justru memperumit persoalan yang hendak diselesaikan Washington. Dampaknya menjalar ke berbagai kawasan, mempertemukan krisis energi, ketegangan geopolitik, dan melemahnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Amerika Serikat.
Tom Barrack, utusan Trump untuk Turki sekaligus penasihat presiden untuk Timur Tengah, mengakui bahwa perang tersebut melahirkan konsekuensi yang tidak diperkirakan. Berbicara di Doha, ia menggambarkan dampaknya seperti api unggun yang berubah menjadi kebakaran hutan. Ia juga mengibaratkan Timur Tengah sebagai kubus Rubik: satu perubahan dapat mengacaukan keseluruhan susunan. Barrack turut menyinggung pengalaman Irak, Libya, dan Afghanistan, ketika intervensi dan pergantian rezim tidak membawa hasil sebagaimana diharapkan. Pengalaman itu menjadi peringatan mengenai keterbatasan kekuatan militer dalam membentuk tatanan politik baru.
Perang yang Memperbesar Ketidakpastian
Keputusan menyerang Iran menjadi semakin problematis karena perang berlangsung ketika jalur perundingan nuklir masih terbuka. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang menjadi mediator perundingan Iran-AS pada Februari, mengingatkan bahwa kesepakatan mengenai pokok persoalan program nuklir Iran sebenarnya sudah berada dalam jangkauan sebelum pemboman dimulai. Prospek tersebut menempatkan pilihan Washington untuk berperang dalam sorotan, terutama karena konflik justru memperbesar risiko yang sebelumnya hendak dikendalikan.
Di Iran, perang tidak serta-merta menghasilkan situasi yang lebih terkendali. Wintour menyoroti menguatnya kelompok garis keras setelah kematian Ali Larijani pada hari pertama perang. Perkembangan politik tersebut, disertai penyesuaian doktrin pertahanan Iran, menambah ketidakpastian mengenai arah konflik. Kekhawatiran juga muncul terkait masa depan sikap Teheran terhadap senjata nuklir.
Dampak perang segera merembet ke pasar energi. Harga minyak Brent mencapai 117 dolar AS per barel, sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, sementara inflasi global diperkirakan mencapai 4 persen. Gangguan di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia, memperlihatkan bagaimana konflik di Teluk dapat menekan perekonomian negara-negara jauh dari medan perang.
Arab Saudi turut menghadapi tekanan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan perekonomian kerajaan itu mengalami kontraksi 3,3 persen, berbalik dari proyeksi pertumbuhan sebelumnya. Riyadh juga menaikkan perkiraan defisit anggaran 2026 menjadi 65,3 miliar dolar AS. Bagi negara yang tengah menjalankan agenda diversifikasi ekonomi melalui Visi 2030, ketidakpastian keamanan dan perdagangan menjadi beban serius.
Washington dan Eropa Kian Berjarak
Perang Iran turut memperburuk hubungan Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya di Eropa. Perbedaan sikap terhadap Rusia dan Ukraina, ditambah lonjakan harga energi dan tekanan biaya hidup, memperlebar jurang kepercayaan terhadap Washington. Bagi negara-negara Eropa, Rusia tetap dipandang sebagai ancaman keamanan utama. Karena itu, pendekatan Trump terhadap Moskow dan sikapnya terhadap Kyiv memicu kecemasan, terutama ketika berbagai konflik semakin terkait dengan agenda politik Gedung Putih.
Tekanan tersebut juga berimbas pada politik domestik Eropa. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengakui mahalnya harga bahan bakar bagi masyarakat, seraya menyindir Trump yang justru menjadi tokoh pujaan sebagian oposisi politik di negaranya.
Baca juga:
- Lonjakan Harga BBM AS Jadi Tantangan Trump Menjelang Pemilu
- Jerman Siapkan Pasukan Khusus untuk Perang Melawan Rusia
- Iran Ancam Sasar Fasilitas Produksi Minyak di Kawasan jika Infrastruktur Diserang
Persoalan Eropa tidak berhenti pada perbedaan sikap politik. Ketergantungan pada persenjataan, komunikasi, dan teknologi Amerika Serikat kini ikut dipertanyakan. Pesawat tempur F-35, sistem komunikasi militer, hingga infrastruktur satelit memperlihatkan besarnya pengaruh Washington terhadap kapasitas pertahanan sekutunya.
Pengalaman Ukraina dengan Starlink menjadi pengingat bahwa kendali atas infrastruktur teknologi swasta dapat bersinggungan langsung dengan kepentingan keamanan negara. Ketika sistem komunikasi satelit berperan dalam operasi militer, keputusan perusahaan penyedia layanan pun dapat membawa konsekuensi geopolitik. Bagi Eropa, persoalan ini memperkuat dorongan untuk mengurangi ketergantungan strategis pada Amerika Serikat.
Hubungan Washington dan Kyiv sendiri terus dibayangi ketegangan. Trump mengaitkan tekanan energi dengan serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia dan kembali melontarkan kritik terhadap Presiden Volodymyr Zelenskyy. Sikap tersebut, bersama pendekatan Trump terhadap Moskow, menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan Amerika. Dalam analisis Wintour, perang Iran berkelindan dengan konflik Ukraina dan persaingan pengaruh global, bukan berdiri sebagai krisis yang terpisah.
Oman Membuka Jalan Diplomasi
Di tengah krisis, Oman mendorong pembentukan pakta keamanan Teluk yang melibatkan Iran. Usulan Menteri Luar Negeri Badr Albusaidi itu menawarkan pendekatan berbeda dari tatanan keamanan yang selama ini bertumpu pada Amerika Serikat. Prakarsa tersebut bukan perkara mudah. Negara-negara Teluk memiliki kepentingan dan tingkat kepercayaan yang berbeda terhadap Teheran, tetapi perang kembali mengangkat pertanyaan mengenai efektivitas jaminan keamanan eksternal.
Wintour memandang prakarsa Oman berpotensi membawa perubahan besar, bahkan membandingkannya dengan momentum runtuhnya Tembok Berlin. Perbandingan tersebut menggambarkan besarnya kemungkinan perubahan yang dibayangkan, meskipun jalan menuju kesepakatan regional masih panjang. Gagasan ini sekaligus menantang pola keamanan kawasan yang menempatkan Amerika Serikat sebagai penjamin utama.
Pertaruhan yang dihadapi dunia kini melampaui soal siapa yang unggul secara militer. Perang yang dimulai ketika perundingan masih berpeluang berhasil telah memunculkan tekanan ekonomi, keretakan aliansi, dan ketidakpastian keamanan yang meluas. Konflik yang saling berkelindan membuat penyelesaian satu krisis semakin sulit dipisahkan dari perkembangan di kawasan lain.
Wintour menyerukan tindakan kolektif dan diplomasi untuk merebut kembali kendali atas situasi global. Seruan itu menjadi inti analisisnya: ketika keputusan perang memperbesar lingkaran krisis, penyelesaian tidak cukup bertumpu pada keunggulan senjata, tetapi membutuhkan kemauan politik untuk memulihkan diplomasi dan kerja sama internasional. []
Baca juga: Tanggapi Mesir, Yaman Tentukan Sikap terhadap Pendukung Agresi Saudi







