Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Bloomberg Sebut Kemajuan Ansarullah di Yaman Persempit Pilihan Strategis Saudi

Published

on

Mohammed bin Salman dua kali meminta serangan udara AS terhadap posisi Ansarullah di Yaman, tetapi Donald Trump disebut menolak kedua permintaan itu.
Kemajuan Ansarullah di Yaman menuju kawasan Selat Bab al-Mandab meningkatkan ancaman terhadap jalur pelayaran dan ekspor minyak Arab Saudi, sekaligus mempersempit pilihan strategis Riyadh.

Media ABI, 25 Oktober 2026 – Kemajuan Houthi (Ansarullah) di Yaman semakin mempersempit pilihan strategis Arab Saudi. Setelah bertahun-tahun mengerahkan kekuatan militer untuk menundukkan kelompok tersebut, Riyadh kini menghadapi ancaman yang kian besar terhadap jalur pelayaran dan kepentingan ekspor minyaknya. Perang Amerika Serikat dan Iran memperburuk situasi, menempatkan kerajaan dalam tekanan keamanan yang semakin kompleks.

Baca juga: Senator AS Peringatkan Trump: Perang dengan Iran Berpotensi Jadi Perang Tanpa Akhir

Laporan Bloomberg berjudul “Houthi Gains Leave MBS With Few Good Options in Yemen“, yang diterbitkan pada 11 September 2026 dan ditulis Simon Marks, Peter Martin, serta Veena Ali-Khan, menggambarkan dilema Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Riyadh dihadapkan pada pilihan sulit: meningkatkan kembali operasi militer yang selama bertahun-tahun gagal menundukkan Houthi atau menerima bertambahnya daya tawar kelompok tersebut atas jalur pelayaran strategis di Laut Merah.

Kemajuan Houthi Mengancam Jalur Energi

Menurut Bloomberg, pasukan Houthi bergerak ke selatan di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, mendekati Selat Bab al-Mandab. Mereka dilaporkan memperluas penguasaan di sekitar Mokha dan Pulau Mayyun, sementara serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi memaksa sejumlah fasilitas energi menghentikan operasinya.

Kemajuan tersebut berlangsung ketika Iran menghambat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz setelah pecahnya perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Situasi ini meningkatkan arti strategis Laut Merah bagi ekspor minyak Saudi, terutama ketika jalur tersebut semakin penting sebagai alternatif distribusi energi. Bloomberg melaporkan, ekspor minyak Arab Saudi turun sekitar sepertiga pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi sekitar 3 juta barel per hari. Bertambahnya kendali Houthi di sekitar Bab al-Mandab berpotensi memperbesar kemampuan kelompok itu mengganggu pelayaran, menambah tekanan terhadap harga minyak, serta mempersulit upaya Riyadh melindungi perekonomiannya dari dampak konflik regional.

Ancaman tersebut bukan hanya persoalan perdagangan. Gangguan berkepanjangan terhadap jalur energi dapat menekan pendapatan kerajaan dan memperbesar ketidakpastian ekonomi, termasuk terhadap ambisi Saudi membangun dirinya sebagai pusat bisnis dan investasi regional. Bloomberg juga menyinggung serangan terhadap infrastruktur sistem pipa minyak Saudi. CNN, dengan mengutip dua pejabat Amerika Serikat, melaporkan bahwa proyektil menghantam stasiun pompa di sepanjang jalur pipa tersebut. Ketika laporan Bloomberg diterbitkan, belum diketahui apakah pipa itu sendiri mengalami kerusakan.

Kegagalan Strategi Militer Mempersempit Pilihan Riyadh

Arab Saudi memimpin operasi militer terhadap Houthi sejak intervensinya di Yaman pada 2015. Namun, bertahun-tahun serangan udara dan pengerahan sumber daya militer gagal menyingkirkan kelompok tersebut ataupun mematahkan cengkeramannya atas wilayah yang dikuasai. Pada 2022, MBS berupaya meredakan konflik dan memperbaiki hubungan dengan Iran. Perkembangan terbaru di Yaman, bagaimanapun, kembali menempatkan kerajaan dalam tekanan keamanan yang sulit dihindari.

Baca juga: Al Jazeera Soroti Gelombang Demonstrasi di Eropa: Negeri-Negeri yang Gemar Mendikte Dunia Diuji Rakyatnya Sendiri

Bloomberg mengutip Ahmed Nagi, analis senior Yaman di International Crisis Group, yang menilai dukungan Arab Saudi saja mungkin tidak cukup untuk membalikkan situasi di medan perang. Riyadh masih dapat meningkatkan dukungan militer dan keuangan kepada pemerintah Yaman serta memperkuat pasukan yang memerangi Houthi, tetapi langkah tersebut belum tentu menghasilkan perubahan berarti. Pasukan Yaman yang didukung Saudi menghadapi perpecahan internal dan kesulitan menghentikan kemajuan Houthi. Situasi ini menunjukkan bahwa sumber daya finansial dan persenjataan tidak otomatis menghasilkan efektivitas militer, terutama ketika kekuatan lokal yang menjadi tumpuan operasi tidak memiliki koordinasi dan kepentingan politik yang sejalan.

Amr el-Bidh, perwakilan khusus Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC), kelompok separatis di Yaman selatan, menyatakan bahwa Riyadh kehilangan keunggulan strategis setelah membubarkan STC yang didukung Uni Emirat Arab pada Januari tanpa menyiapkan pengganti yang memadai. Ia juga memperingatkan bahwa masyarakat Yaman selatan tidak dapat diharapkan terus bertempur mempertahankan wilayah utara demi pemerintah yang tidak memberi mereka kepastian mengenai masa depan mereka sendiri.

Perpecahan tersebut memperumit strategi Saudi. Riyadh bukan hanya menghadapi kemajuan Houthi, tetapi juga persoalan koordinasi dan legitimasi di antara kekuatan-kekuatan lokal yang diandalkannya. Akibatnya, dukungan militer tambahan sekalipun belum tentu cukup untuk mengubah keseimbangan kekuatan di lapangan.

Trump Menghadapi Dilema Front Baru

Di tengah tekanan tersebut, MBS dilaporkan dua kali menghubungi Presiden AS Donald Trump pada Kamis untuk mendesaknya menyerang Houthi. Axios melaporkan informasi itu dengan mengutip dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Namun, Washington sejauh ini belum terlibat langsung dalam pertempuran terbaru melawan kelompok tersebut.

Trump memiliki alasan untuk berhati-hati. Amerika Serikat telah terlibat dalam perang dengan Iran, sementara serangan terhadap Houthi berisiko membuka front tambahan ketika Washington berupaya membatasi dampak ekonomi dan politik konflik. Amerika Serikat sebelumnya pernah melancarkan serangan udara terhadap Houthi, termasuk pada 2024 dan tahun berikutnya. Namun, pengalaman tersebut belum menghilangkan ancaman kelompok itu.

Baca juga: The Guardian: Israel Gunakan Taser Buatan AS untuk Menyiksa Tahanan Palestina

Nadwa al-Dawarsi, peneliti dan analis konflik di Middle East Institute, menilai serangan udara AS saja tidak akan banyak mengubah keadaan. Menurutnya, pasukan yang terkait dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional harus mampu merebut kembali dan mempertahankan wilayah agar ancaman Houthi dapat dibendung. Pandangan tersebut menyoroti keterbatasan pendekatan militer yang bertumpu pada serangan udara tanpa dukungan kekuatan darat yang efektif. Bagi Washington, keterlibatan lebih jauh juga membawa risiko eskalasi dan tambahan beban dalam perang yang telah menyerap sumber daya besar.

Keretakan Regional Memperumit Pertahanan Saudi

Persoalan keamanan Saudi semakin rumit akibat memburuknya hubungan dengan Uni Emirat Arab. Kedua negara sebelumnya bersama-sama memerangi Houthi, tetapi belakangan semakin berseberangan dalam sejumlah konflik regional, termasuk persaingan pengaruh di Yaman. Ketegangan tersebut mempersempit ruang bagi pembentukan respons regional yang terpadu, padahal menghadapi ancaman di sekitar Bab al-Mandab membutuhkan koordinasi politik dan keamanan, terutama ketika kepentingan negara-negara kawasan tidak selalu sejalan.

Saudi berupaya memperkuat perlindungannya melalui Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah dengan Turki dan Pakistan, yang ditandatangani pada Agustus. Perjanjian tersebut menetapkan prinsip bahwa serangan terhadap satu pihak dipandang sebagai serangan terhadap seluruh pihak. Pakistan dilaporkan menyatakan bahwa serangan Houthi berpotensi memicu klausul pertahanan bersama tersebut. Namun, hingga laporan Bloomberg diterbitkan, belum ada keputusan ketiga negara untuk mengaktifkan mekanisme itu menyusul serangan terbaru.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Riyadh menghadapi kenyataan bahwa kemitraan pertahanan dan dukungan eksternal tidak otomatis menghapus kerentanan strategisnya. Ketika kepentingan regional terpecah dan dukungan militer tidak menjamin perubahan di medan perang, ruang gerak Saudi semakin terbatas.

Baca juga: Iran Siapkan Dewan Perang Ekonomi untuk Menghadapi AS

Saudi Menghadapi Kerugian Strategis

Kemajuan Houthi memperlihatkan betapa sulitnya Saudi mempertahankan kepentingannya. Meningkatkan operasi militer berisiko memperpanjang konflik yang selama ini gagal menghasilkan kemenangan menentukan. Sebaliknya, membiarkan Houthi memperluas pengaruh di sekitar Bab al-Mandab dapat memperbesar ancaman terhadap perdagangan dan ekspor energi kerajaan.

Situasi ini juga mengancam ambisi transformasi ekonomi Saudi. Gangguan jalur pelayaran, serangan terhadap infrastruktur energi, dan ketidakpastian keamanan berpotensi mengurangi daya tarik kerajaan sebagai pusat bisnis dan investasi regional. Dalam konteks tersebut, kemajuan Houthi tidak hanya membawa konsekuensi militer, tetapi juga memperbesar tekanan terhadap kepentingan ekonomi dan posisi regional Riyadh.

Saudi kini menghadapi paradoks: sumber daya finansial besar dan kemampuan militer modern belum cukup untuk menjamin keamanan kepentingan strategisnya. Persoalannya bukan semata-mata kekurangan persenjataan, melainkan keterbatasan strategi, perpecahan kekuatan lokal, serta sulitnya menerjemahkan dukungan militer menjadi hasil politik yang berkelanjutan.

Dalam kalkulasi konflik yang semakin kompleks, Arab Saudi menjadi salah satu pihak yang menanggung kerugian strategis besar. Ancaman terhadap jalur energi, menyempitnya pilihan militer di Yaman, dan ketidakpastian dukungan regional semakin menyulitkan posisi Riyadh.

Laporan Bloomberg memperlihatkan bahwa kemajuan Houthi bukan semata-mata tantangan di medan perang, melainkan ujian terhadap strategi keamanan Arab Saudi. Konflik Yaman menunjukkan bahwa superioritas persenjataan dan kekuatan finansial tidak dengan sendirinya menjamin kemenangan, terlebih ketika strategi militer tidak ditopang kekuatan lokal yang solid dan penyelesaian politik yang berkelanjutan. []

Baca juga: Triple-Red Scenario, Bom Waktu Geopolitik bagi AS