Ikuti Kami Di Medsos

Perspektif ABI

Ketua Umum ABI: Sayyidah Fatimah dan Palestina, Tolok Ukur Kebenaran

Published

on

Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, menyampaikan ceramah tentang Sayyidah Fatimah az-Zahra sebagai tolok ukur kebenaran dan kepedulian terhadap Palestina sebagai parameter keimanan dalam rapat reguler DPP ABI di Jakarta, 3 November 2026.
Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, menyampaikan ceramah tentang Sayyidah Fatimah az-Zahra sebagai tolok ukur kebenaran dan kepedulian terhadap Palestina sebagai parameter keimanan dalam rapat reguler DPP ABI di Jakarta, 3 November 2026.

Ustadz Zahir Yahya menegaskan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait berpijak pada ma‘rifat, Sayyidah Fatimah adalah parameter kebenaran, begitu pula kepedulian pada Palestina.

Jakarta, 4 November 2026 — Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, mengajak umat memanfaatkan momentum Ayyam Fatimah untuk mengenal lebih dalam Sayyidah Fatimah az-Zahra a.s. dan menjadikan beliau tolok ukur kebenaran dalam beragama. Ajakan itu disampaikan dalam ceramah sambutan pada rapat reguler DPP ABI yang dihadiri seluruh unsur pimpinan dan pengurus departemen di kantor DPP ABI, Jakarta, Selasa (3/11/2026). Menurut Ustadz Zahir, kecintaan kepada Ahlul Bait hanya tumbuh dari pengenalan, dan di masa kini kepedulian terhadap Palestina, merujuk pandangan Imam Khomeini, menjadi salah satu parameter keimanaan.

Baca juga: Ustadz Ahmad Hidayat: Maulid Mengajarkan Tauhid, Harapan, dan Perlawanan

Ayyam Fatimah merujuk pada rentang sekitar 20 hari yang berkaitan dengan dua versi periwayatan mengenai tanggal kesyahidan Sayyidah Fatimah a.s. Sebagian riwayat menyebut 13 Jumadilawal, sedangkan riwayat lain menyebut 3 Jumadilakhir. Pengikut Ahlul Bait di berbagai tempat merayakan kedua momentum itu sekaligus dan menjadikan masa di antara keduanya sebagai kesempatan untuk mengenang keutamaan putri Rasulullah SAW., yang oleh ayahandanya disebut sebagai penghulu wanita semesta.

Ustadz Zahir Yahya mengajak umat mendalami ma‘rifat Sayyidah Fatimah dan menjadikan ajaran Ahlul Bait sebagai pedoman keberagamaan.

Ustadz Zahir Yahya mengajak umat mendalami ma‘rifat Sayyidah Fatimah dan menjadikan ajaran Ahlul Bait sebagai pedoman keberagamaan.

Akibat Ketidaktahuan yang Terakumulasi

Ustadz Zahir menyatakan bahwa ketidaktahuan umat Islam, bahkan pengingkaran mereka, terhadap kedudukan Sayyidah Fatimah dan para Imam Ahlul Bait membawa akibat yang sangat buruk sepanjang zaman. Akumulasi ketidaktahuan terhadap ajaran Ahlul Bait itu, menurut beliau, tampak hari ini ketika umat Islam menjadi pihak yang paling tidak diperhitungkan di mata musuh dan masyarakat dunia. Umat kehilangan martabat dan kehormatan; bahkan ada yang menyebut nyawa umat Islam di mana-mana tidak lebih berharga daripada nyawa seekor nyamuk. Negeri-negeri Muslim, lanjutnya, tidak disegani, apalagi ditakuti oleh musuh-musuhnya.

Tidak semua akibat buruk dapat dirasakan seketika. Ustadz Zahir mencontohkan bahwa tubuh manusia kerap bereaksi terhadap bahaya lebih cepat daripada pengetahuannya, misalnya saat terdengar letusan, sebelum seseorang tahu apakah itu ban mobil yang pecah atau bom. Banyak peristiwa tidak demikian. Dampaknya baru terbaca setelah waktu yang lama, bahkan setelah pergantian generasi, ketika orang mulai memahami bahwa perbuatan sekelompok orang di zaman tertentu memengaruhi kehidupan umat secara keseluruhan.

Hal ini, kata beliau, telah diberitakan Sayyidah Fatimah ketika berpidato di hadapan para perempuan Ansar dan di Masjid Nabawi. Ustadz Zahir mengutip ungkapan beliau: Wa ya‘rifu at-tālūna ghibba mā assasahu al-awwalūn. “Dan orang-orang yang datang kemudian akan mengetahui akibat apa yang telah dibangun oleh orang-orang terdahulu.” Generasi yang akan datang, tegasnya, akan memahami akibat buruk dari apa yang dibangun generasi sebelumnya. Karena itu pengenalan terhadap para Imam Ahlul Bait, khususnya Sayyidah Fatimah, menjadi penting.

Baca juga: Ketum ABI: Afiliasi dengan Ahlul Bait dan Pengabdian sebagai Fondasi Kebesaran Organisasi

Ma‘rifat sebagai Syarat Kecintaan

Pengetahuan, kata Ustadz Zahir, adalah awal sekaligus syarat kecintaan. “Jangan ada yang bermimpi bisa mencintai Ahlul Bait tanpa mengenali mereka,” ujarnya. Beliau menjelaskan bahwa hati digambarkan para arif sebagai “zona bebas” yang tidak berada dalam kendali diri: ia hanya berinteraksi sesuai dengan apa yang diketahuinya, baik berupa kecintaan maupun kebencian. Cinta dan benci, dengan demikian, adalah hasil ma‘rifat seseorang tentang sosok yang dicintai atau dibenci, termasuk Ahlul Bait.

Cinta yang tidak berlandaskan pengetahuan, menurut beliau, adalah cinta fiktif, hanya pengakuan. Buktinya, manusia mudah goyah dan hilang oleh sedikit kesulitan atau ujian. Sebaliknya, cinta yang berbasis pengetahuan ibarat gunung: gunung bisa tergoncang, tetapi kecintaan itu tidak akan hilang. Untuk menggambarkannya, Ustadz Zahir mengutip riwayat dari Imam Ali bin Abi Thalib a.s.:

Law ḍarabtu khaisyūmal-mu’mini bisayfī hādzā ‘alā an yubghiḍanī mā abghaḍanī, wa law ṣababtud-dunyā bijammātihā ‘alal-munāfiqi ‘alā an yuḥibbanī mā aḥabbanī.

“Seandainya aku memukul batang hidung seorang mukmin dengan pedangku ini agar ia membenciku, niscaya ia tidak akan membenciku. Dan seandainya aku menumpahkan seluruh dunia dengan segala isinya kepada seorang munafik agar ia mencintaiku, niscaya ia tidak akan mencintaiku.”

Menurut Ustadz Zahir, persoalannya bukan pada apa yang diterima atau dialami seseorang, melainkan pada pengetahuannya tentang sosok yang dicintai.

Baca juga: 

Tiga Tingkatan Ma‘rifat

Ma‘rifat, kata Ustadz Zahir, dapat ditingkatkan, dan setidaknya terdapat tiga tingkatan:

  1. Pengetahuan umum. Dapat diperoleh siapa saja, pengikut maupun bukan, seperti kedudukan Sayyidah Fatimah sebagai putri Rasulullah saw., keutamaan beliau, banyaknya ibadah dan sedekahnya.
  2. Pengetahuan menengah (semi-khusus). Berada di atas pengetahuan umum dan di bawah tingkat para maksum. Inilah wilayah yang membedakan Muslim biasa dari pecinta sejati dan pengikut. Pengetahuan ini tidak bisa diperoleh sekadar dengan mencari di internet atau membaca buku populer, melainkan menuntut ikhtiar. Sumbernya antara lain penjelasan para maksum ketika memperkenalkan diri mereka sendiri.
  3. Pengetahuan khusus para maksum. Allah, Rasulullah saw., dan para Imam saling mengenal satu sama lain. Ustadz Zahir mengutip sabda yang dinisbatkan kepada Rasulullah saw.:

Yā ‘Alī, lā ya‘rifullāha illā anā wa anta, wa lā ya‘rifunī illallāhu wa anta, wa lā ya‘rifuka illallāhu wa anā.

“Wahai Ali, tidak ada yang mengenal Allah kecuali aku dan engkau; tidak ada yang mengenalku kecuali Allah dan engkau; dan tidak ada yang mengenalmu kecuali Allah dan aku.”

Salah satu contoh pengetahuan tingkat menengah, kata beliau, adalah pengetahuan tentang kedudukan para Imam Ahlul Bait, khususnya Sayyidah Fatimah, sebagai parameter dan tolok ukur kebenaran. Pemahaman ini, tegasnya, tidak dimiliki semua Muslim.

Sayyidah Fatimah sebagai Tolok Ukur Kebenaran

Untuk menjelaskan pentingnya parameter, Ustadz Zahir menyebut bahwa Kemajuan dan peradaban umat manusia tegak berkat adanya parameter/ukuran yang digunakan untuk mengukur segala sesuatu yang berhubungan dengan hajat kehidupan manusia. Ada ukuran untuk mengukur jarak, lecepatan, berat, volume, ada ukuran untuk menentukan panas, kelembaban, tensi darah, gula dlsb. Dunia medis memerlukan ukuran, dunia sipil dan konstruksi, transportasi, pertanian, militer dan seluruh sektor kehidupan manusia memerlukan ukuran untuk bisa berkembang.

Para dokter dengan bantuan alat menentukan kadar panas, tensi darah, gula, kolestrol, detak jantung dan lainnya visa menyarankan tindakan yang sesuai atau meresepkan dosis obat yang tepat.  Insinyur bidang pertanian mengukur kadar asam tanah, dan ketinggian lahan dari permukaan laut kemudian menyarankan tindakan atau jenis tanaman tertentu dst dst.

Baca juga: Sekjen DPP ABI Ingatkan Bahaya Respons Reaktif di Tengah Banjir Informasi

“Pertanyaan yang sangat krusial: apakah kebenaran juga ada ukurannya? Apakah keimanan seseorang ada ukurannya?” tanyanya. Jika urusan bangunan dan kedokteran saja memiliki banyak ukuran, menurut beliau, tidak mungkin Tuhan membiarkan persoalan keimanan, keberagamaan, kecintaan, dan keridaan-Nya tanpa parameter.

Parameter itu, kata Ustadz Zahir, antara lain adalah Sayyidah Fatimah a.s. Beliau menghubungkannya dengan sabda Rasulullah SAW., bahwa Allah ridha karena ridha Fatimah dan murka karena murka Fatimah. “Fatimah adalah parameter. Fatimah adalah ukuran yang ditegakkan bagi siapa pun yang ingin tahu apakah dirinya berada di posisi yang benar atau tidak,” ujarnya. Setiap orang diajak menimbang sikapnya sendiri: apa yang diridai Sayyidah Fatimah, itu pula yang harus diridai; apa yang dimurkai beliau, harus disikapi sama.

Beliau menekankan bahwa menjadi pengikut Ahlul Bait atau sebagai Syiah tidak dengan sendirinya cukup. Tolok ukur tetap dibutuhkan dalam sikap dan pemahaman. Dalam kaitan ini, Ustadz Zahir menyebut bahwa Imam Khomeini termasuk yang menegakkan tolok ukur bagi keimanan dan kebersyiahan yang benar.

Palestina sebagai Parameter Keberagamaan

Merujuk Imam Khomeini, Ustadz Zahir menyebut isu Palestina sebagai isu parameter, ibarat kompas. “Kalau Anda ingin tahu keimanan dan kebersamaan yang benar, pastikan anda++ punya perhatian yang cukup kepada isu Palestina,” ujarnya. Syiah yang benar adalah yang peduli kepada Palestina dan menyelenggarakan hari-hari solidaritas bagi Palestina.

Imam Khomeini, kata beliau, menyebut Hari Quds sebagai Hari Furqan, hari pemilah antara mukmin dan munafik. Pada hari itu kaum mukminin menunjukkan perhatian terhadap Palestina, turun ke jalan, dan berbuat sesuatu untuk Palestina, sementara orang munafik tidak menyukai hal itu. Imam Khomeini sendiri, lanjutnya, menyebut hal itu secara tegas sebagai pembeda mukmin dan munafik.

Menurut Ustadz Zahir, penegakan parameter tersebut menunjukkan bahwa hanya menjadi Syiah tidaklah selesai. Kebersyiahan seseorang harus diuji dengan sikap dan gerakannya. “Di masa sekarang boleh dikatakan tolok ukurnya adalah isu Palestina,” ujarnya.

Menimbang dengan Parameter

Ustadz Zahir menutup ceramahnya dengan mengajak jajaran organisasi menjadikan tolok ukur sebagai pegangan terus-menerus. Setiap hal yang dilakukan, katanya, perlu diukur untuk menilai baik-buruk dan benar-salahnya, agar umat tidak terjebak pada hal-hal yang tampak baik-baik saja di permukaan, padahal tidak sesuai dengan parameter yang telah ditegakkan. []

Baca juga: Pidato Waketum ABI: Ahlulbait Indonesia, Wilayah, dan Cita-Cita Peradaban