Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Iran Lebih Siap Hadapi Perang Baru

Published

on

Al Jazeera mengutip sejumlah analis yang menilai Israel tidak memiliki kemampuan dan strategi yang memadai untuk menggulingkan pemerintahan Iran.
Bloomberg menilai Iran lebih siap menghadapi kemungkinan perang baru dengan AS dan Israel, di tengah kekhawatiran negara-negara Teluk.

Media ABI, 4 November 2026 – Iran dinilai lebih siap menghadapi kemungkinan pecahnya kembali konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Dalam laporannya, Bloomberg menyoroti kekhawatiran negara-negara Teluk bahwa serangan baru terhadap Iran dapat memicu perang regional yang lebih destruktif, dengan konsekuensi lebih berat bagi kawasan.

Baca juga: IRGC Hancurkan Empat Kapal Tanker dan Drone MQ-9 ke-56 di Selat Hormuz

Laporan yang menjadi salah satu rujukan naskah ini berjudul Gulf States Fear Fiercer Iran Retaliation If U.S. Strikes Again, ditulis oleh Peter Martin dan dipublikasikan pada 2 November 2026. Laporan tersebut dimuat The Japan Times dengan mencantumkan Bloomberg sebagai sumber.

Menurut laporan itu, sejumlah negara Teluk mengkhawatirkan kemungkinan serangan baru AS dan Israel terhadap Iran akan menyeret kawasan ke dalam konflik dengan dampak jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Para pejabat kawasan memperkirakan Iran akan merespons lebih agresif jika perang kembali pecah.

Bloomberg melaporkan bahwa para komandan militer Iran telah diperintahkan untuk bersiap merespons setiap serangan baru dengan segera, tanpa batasan geografis. Militer Iran juga memperingatkan bahwa serangan baru AS dan Israel dapat memperluas medan konflik ke wilayah yang lebih luas.

Laporan tersebut turut menyoroti kemampuan Iran mempertahankan kapasitas produksi rudal dan pesawat nirawak setelah berbulan-bulan menghadapi serangan udara. Sejumlah pejabat Barat pada Oktober dilaporkan menyatakan bahwa Teheran masih mampu memproduksi rudal dan pesawat nirawak serta mengganti sebagian persediaan persenjataannya. Iran juga disebut masih memiliki persediaan rudal balistik dan sejumlah persenjataan antikapal dalam jumlah signifikan.

Emil Hokayem, Direktur Program Keamanan Regional di International Institute for Strategic Studies (IISS), menilai Iran kini jauh lebih siap menghadapi kemungkinan pertempuran berikutnya. Menurutnya, respons Iran terhadap serangan sebelumnya menunjukkan bahwa negara itu telah belajar dari pengalaman perang dan menyesuaikan strategi militernya.

Di tengah kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik, sejumlah negara kawasan berupaya mencegah eskalasi. Para pejabat Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dilaporkan telah mengunjungi Teheran dalam beberapa hari terakhir untuk berkonsultasi. Mediator Qatar juga disebut telah berkomunikasi dengan pihak Iran. Namun, perbedaan pandangan di antara pihak-pihak terkait masih belum terselesaikan.

Baca juga: 

Purnawirawan Militer AS: Iran Tidak Bisa Dikalahkan Secara Militer

Dalam laporan terpisah, Kantor Berita IRNA mengutip pandangan Daniel Davis, purnawirawan militer AS sekaligus analis kebijakan luar negeri, yang menilai Iran tidak dapat dikalahkan secara militer. Ia memperingatkan kalangan di Washington yang mendukung perang agar tidak mengabaikan kemampuan pertahanan Iran.

Dalam sejumlah unggahan di platform X, Davis mengatakan Iran tidak menghabiskan puluhan tahun untuk mempersiapkan diri memenangkan perang udara. Sebaliknya, negara itu membangun pertahanan untuk bertahan menghadapi perang semacam itu.

Davis mengibaratkan Iran sebagai gunung granit yang sulit dihancurkan. Ia bahkan berpendapat bahwa senjata nuklir sekalipun tidak akan mampu menghancurkan Iran. Atas dasar analogi tersebut, ia menyimpulkan bahwa Iran tidak dapat dikalahkan secara militer.

Pernyataan tersebut merupakan penilaian Davis, bukan kesimpulan militer yang dapat diterima tanpa pembuktian lebih lanjut.

Davis juga mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menerima realitas di lapangan sebelum konflik memasuki babak baru. Menurutnya, keputusan Washington harus bertumpu pada fakta objektif mengenai situasi militer, bukan narasi dan retorika politik yang berpotensi mengaburkan kenyataan.

Ia menilai anggapan bahwa Iran akan menerima serangan AS tanpa melancarkan pembalasan yang sepadan sebagai kekeliruan serius.

Davis juga menyatakan Iran telah menunjukkan kemampuan merespons serangan yang diarahkan kepadanya. Sebaliknya, menurut dia, AS belum memperlihatkan kemampuan pertahanan yang cukup untuk sepenuhnya menghentikan serangan Iran.

Karena itu, Davis menilai Washington membutuhkan evaluasi yang jujur terhadap situasi militer. Strategi yang lebih bijaksana, menurutnya, bukan meningkatkan eskalasi tanpa perhitungan, melainkan mengakhiri siklus konflik sebelum biaya dan konsekuensinya semakin besar.

Ia bahkan berpendapat bahwa kesepakatan yang kurang menguntungkan bagi kepentingan AS sekalipun masih lebih baik daripada mengabaikan realitas militer dan melanjutkan serangan dengan harapan memperoleh hasil sesuai keinginan Washington.

Davis menyebut salah satu kesalahan terbesar AS dalam perang melawan Iran adalah keyakinan bahwa eskalasi tidak akan menimbulkan konsekuensi bagi pihaknya. []

Baca juga: Ancaman Nuklir Iran dalam Kalkulasi Politik Trump