Internasional
Trump Terjepit Beban Utang dan Perang

Media ABI, 23 Agustus 2026 — Pemerintahan Presiden Donald Trump menghadapi tekanan yang kian besar dari biaya utang Amerika Serikat. Imbal hasil surat utang yang terus berada di level tinggi membuat pemerintah harus membayar lebih mahal untuk memperoleh pembiayaan, sementara kebutuhan menerbitkan utang baru masih besar.
Departemen Keuangan AS merespons tekanan tersebut dengan menggandakan nilai pembelian kembali surat utang menjadi 4 miliar dolar AS dalam setiap operasi. Langkah itu ditujukan untuk menjaga likuiditas pasar obligasi sekaligus meredam tekanan terhadap kenaikan imbal hasil, menurut laporan Fars News Agency, Minggu (23/8/2026).
Baca juga: Iran Siap Uji Sistem Senjata Baru di Medan Tempur
Pembelian kembali dilakukan dengan menyerap surat utang dari pasar. Kehadiran pemerintah sebagai pembeli besar diharapkan membuat perdagangan surat utang tetap lancar dan mengurangi tekanan terhadap kenaikan imbal hasil.
Masalahnya, kenaikan imbal hasil langsung berkaitan dengan biaya yang harus ditanggung pemerintah. Semakin tinggi imbal hasil, semakin mahal pula pembiayaan ketika pemerintah menerbitkan utang baru atau membiayai kembali utang lama yang jatuh tempo.
Tekanan itu terlihat pada surat utang AS bertenor 30 tahun. Pada 31 Juli, imbal hasilnya mencapai 5,27 persen, level tertinggi sejak 2007. Dibandingkan titik terendah pada masa pandemi 2020, angkanya telah meningkat sekitar 4,5 poin persentase.
Kenaikan tersebut berlangsung ketika Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli. Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter juga berubah. Pada awal 2026, pasar memperkirakan akan ada tiga kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun. Perkiraan itu kemudian bergeser, bahkan muncul kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga.
Harga minyak yang meningkat dan kekhawatiran terhadap inflasi turut menambah tekanan di pasar obligasi.
Baca juga: Iran Siap Uji Sistem Senjata Baru di Medan Tempur
Pada saat yang sama, pemerintah AS masih menghadapi defisit anggaran yang besar. Kebutuhan membiayai pengeluaran membuat penerbitan surat utang terus berjalan. Ketika jumlah utang yang ditawarkan meningkat dan investor menginginkan imbal hasil lebih tinggi, pemerintah harus membayar lebih mahal untuk menarik pembeli.
Pembelian kembali surat utang lama yang kurang likuid menjadi salah satu upaya Departemen Keuangan untuk menjaga pasar tetap berfungsi dengan baik. Operasi senilai 4 miliar dolar AS itu dijadwalkan berlangsung mulai 9 September hingga 4 November. Departemen Keuangan juga akan memberikan informasi mengenai rencana pembelian kembali berikutnya.
Beban bunga menunjukkan mengapa perkembangan di pasar obligasi menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Dalam 12 bulan terakhir, pemerintah AS membayar sekitar 1,4 triliun dolar AS untuk bunga utang. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 1,7 triliun dolar AS per tahun pada November 2028.
Perhitungan yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan imbal hasil surat utang AS bertenor lima tahun perlu turun menjadi 3,25 persen agar pembayaran bunga tahunan tetap berada di kisaran 1,4 triliun dolar AS. Dengan demikian, imbal hasil surat utang lima tahun perlu turun sekitar 1,1 poin persentase dari level yang menjadi dasar perhitungan tersebut.
Baca juga: Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS: Perang Iran Bencana bagi Pasukan dan Ekonomi AS
Kenaikan imbal hasil juga tidak berhenti pada pembukuan pemerintah. Surat utang pemerintah AS menjadi salah satu acuan dalam penentuan berbagai suku bunga pinjaman. Ketika imbal hasil naik, biaya kredit bagi rumah tangga dan perusahaan ikut meningkat.
Pasar perumahan menjadi salah satu sektor yang paling cepat merasakan dampaknya. Jika tekanan terhadap imbal hasil terus berlanjut, suku bunga hipotek di Amerika Serikat berpotensi kembali menembus 7 persen.
Bagi pemerintahan Trump, persoalannya bukan hanya bagaimana membiayai defisit, tetapi juga berapa mahal biaya yang harus dibayar untuk mempertahankan pembiayaan tersebut. Ketika beban bunga terus meningkat, ruang pemerintah untuk mengelola anggaran ikut semakin sempit. []
Baca juga: Bongkar Borok USS Abraham Lincoln, Penerbit Stars and Stripes Dibidik Pentagon







