Internasional
Pembersihan Para Jenderal Guncang Puncak Komando Angkatan Darat AS

Media ABI, 26 Agustus 2026 — Gelombang pemecatan terhadap para perwira senior di bawah Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth telah mengguncang jajaran komando Angkatan Darat AS. The New York Times menilai rangkaian pencopotan tersebut telah menciptakan kekosongan kepemimpinan pada saat militer Amerika Serikat tengah menghadapi perang dengan Iran dan ancaman baru berupa serangan drone serta rudal.
Laporan The New York Times tersebut dilansir Fars News Agency pada Rabu, 26 Agustus 2026. Surat kabar itu menggambarkan kondisi Angkatan Darat AS yang mengalami pergantian besar di tingkat komando sejak Hegseth memimpin Departemen Perang.
Baca juga: Indahnya Perbedaan: Saat Lintas Iman Bicara Keadilan hingga Kemakmuran Bangsa
Krisis paling jelas terlihat pada posisi Kepala Staf Angkatan Darat. Sejak Jenderal Randy George dicopot dari jabatan tersebut pada April lalu, posisi itu belum memiliki pemimpin permanen. Hegseth juga telah menyingkirkan sedikitnya tiga perwira senior yang sebelumnya dipandang sebagai kandidat untuk menggantikan George.
Masalah tidak berhenti di tingkat militer. Daniel P. Driscoll, Menteri Angkatan Darat AS sekaligus pejabat sipil tertinggi dalam matra tersebut, diperkirakan meninggalkan pemerintahan Donald Trump dalam beberapa bulan mendatang. Sejumlah pejabat AS, baik yang masih menjabat maupun mantan pejabat, menyebut hubungan Driscoll dan Hegseth kini berada dalam kondisi sangat tegang.
Kekuatan komando di tubuh Angkatan Darat AS juga menyusut tajam. Ketika Hegseth mulai memimpin Departemen Perang pada Januari 2025, terdapat 10 jenderal bintang empat aktif. Kini jumlahnya tinggal lima orang, angka terendah dalam beberapa dekade terakhir.
Beberapa posisi komando regional yang berkaitan dengan Timur Tengah dan Asia bahkan kini dijalankan oleh perwira senior dari matra lain. Posisi lainnya telah kosong selama berbulan-bulan.
Kekosongan tersebut muncul ketika Angkatan Darat AS sedang menjalani salah satu periode operasional tersibuk sejak perang di Irak dan Afghanistan. Pasukan pertahanan udara Amerika Serikat di Timur Tengah berada di garis depan menghadapi serangan rudal Iran. Di Eropa, Komando Angkatan Darat AS memainkan peran penting dalam menyediakan informasi intelijen dan dukungan bagi Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Di tengah situasi itu, ancaman yang dihadapi militer AS juga berubah. The New York Times menyoroti penggunaan drone berbiaya rendah tetapi mematikan serta rudal berteknologi maju sebagai bagian dari perubahan karakter medan perang.
Baca juga: Sanksi Baru AS terhadap Iran Uji Hubungan Washington dan Beijing
Iran, menurut laporan tersebut, menggunakan rudal dan drone untuk memberikan tekanan besar terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Pada 17 Juli, sebuah rudal Iran menghantam fasilitas tempat tinggal personel militer AS di salah satu pangkalan di Yordania. Serangan itu menewaskan tiga tentara Amerika Serikat dan melukai lebih dari 100 orang.
Pada hari pertama perang, serangkaian serangan drone Shahed yang memiliki kemiripan dengan drone yang digunakan Rusia juga menghantam sebuah pangkalan Angkatan Darat AS di Kuwait. Enam tentara Amerika Serikat tewas dalam serangan tersebut.
Untuk menghadapi ancaman itu, militer AS telah menghabiskan bagian besar dari persediaan rudal pencegat Patriot yang jumlahnya terbatas. Sistem Patriot menjadi salah satu perangkat pertahanan utama Amerika Serikat untuk menghadapi rudal balistik Iran.
Hegseth tidak hanya mencopot George. Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar setengah lusin perwira senior lainnya juga telah dipecat atau dipaksa mengundurkan diri.
Langkah tersebut menuai kritik karena dinilai mengurangi kekuatan dari generasi komandan Angkatan Darat AS yang paling berpengalaman. Pat Ryan, anggota Kongres dari Partai Demokrat dan mantan perwira intelijen Angkatan Darat AS, memperingatkan bahwa menyingkirkan komandan berpengalaman ketika perang berlangsung dapat menurunkan keamanan pasukan dan memperkecil peluang Amerika Serikat meraih kemenangan.
Ryan juga memperingatkan dampak lain dari kebijakan tersebut terhadap jajaran perwira. Menurutnya, kondisi itu dapat menimbulkan kesan bahwa memberikan nasihat militer secara terbuka atau tidak memenuhi ujian ideologis tertentu dapat berujung pada kehilangan pekerjaan.
Krisis di tingkat atas semakin terlihat setelah Hegseth pada Oktober tahun lalu menyingkirkan Jenderal James Mingus dari posisi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, setahun lebih awal dari jadwal yang semestinya.
Baca juga: Pentagon Kembali Perbarui Data Korban Perang Iran, Total Capai 776 Orang
Jenderal Christopher L’Nau kemudian diajukan untuk menggantikannya. Sebelumnya, L’Nau merupakan penasihat militer senior Hegseth. Namun, perbedaan pendapat di Senat menghambat proses pengesahannya.
Kini L’Nau menjalankan dua jabatan sekaligus. Selain menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, L’Nau untuk sementara menjalankan tugas sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Kedua posisi tersebut berada pada tingkat jenderal bintang empat.
Masalahnya, dukungan dari anggota Partai Republik di Senat untuk mengukuhkan L’Nau secara permanen belum mencukupi.
Kekosongan pada posisi-posisi strategis tersebut juga memunculkan kekhawatiran bahwa Angkatan Darat AS akan tertinggal dalam persaingan teknologi dan militer dengan Rusia dan China. Kedua negara tersebut bergerak cepat mengembangkan kecerdasan buatan dan drone generasi baru untuk digunakan dalam struktur angkatan bersenjata mereka.
Dalam pesan penting pertamanya kepada personel Angkatan Darat, L’Nau memperingatkan bahwa medan perang masa depan akan berbeda secara mendasar dari perang-perang sebelumnya. Menurut L’Nau, Angkatan Darat harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempur yang baru.
Pada saat yang sama, L’Nau menyerukan agar pasukan kembali memperkuat keterampilan dasar militer. Dia juga memperingatkan bahwa setiap jalan pintas dalam pelatihan dan setiap kelonggaran dalam disiplin pada akhirnya akan dibayar dengan darah. []
Baca juga: AS Akui Sanksi Iran Bisa Guncang Sistem Keuangan Global







