Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Perang dengan Iran Membuka Borok Kekuatan Militer Amerika

Published

on

Komandan Korps Nainawa Golestan menyebut perang dengan Iran telah membuka kemampuan militer Amerika yang sebenarnya.

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Perang dengan Iran disebut telah memperlihatkan kemampuan militer Amerika Serikat yang sebenarnya sekaligus menggagalkan sejumlah tujuan Washington. Komandan Korps Nainawa Provinsi Golestan, Brigadir Jenderal Hosseini, menilai perkembangan perang menunjukkan bahwa keunggulan militer yang selama ini diklaim Amerika tidak lagi terlihat seperti sebelumnya. Di tengah konflik tersebut, Hosseini menyerukan penguatan persatuan masyarakat Iran, antarsuku dan antarmazhab, serta solidaritas negara-negara Islam.

Baca juga: Foreign Affairs: Tak Ada Lagi yang Percaya Amerika

Brigadir Jenderal Hosseini menilai perang memperlihatkan jarak antara klaim keunggulan militer Amerika dan kenyataan di medan.

Brigadir Jenderal Hosseini menilai perang memperlihatkan jarak antara klaim keunggulan militer Amerika dan kenyataan di medan.

Pernyataan tersebut disampaikan Hosseini pada Rabu malam dalam acara peringatan “Syahid Iran” di Masjid Jamek Desa Zabel Mahalleh Sofla, Bandar Torkaman, Provinsi Golestan, seperti dilaporkan Fars News Agency pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Klaim Keunggulan Militer Amerika Dipertanyakan

Hosseini mengatakan perang telah memperlihatkan kenyataan di medan yang berbeda dari gambaran kekuatan militer Amerika selama ini.

“Perang ini memperlihatkan bahwa klaim Amerika tentang kekuatan militernya tidak lagi seperti dahulu. Apa yang selama ini seharusnya kita lihat dari kekuatan militer negara itu kini terlihat jelas di kawasan,” katanya.

Menurut Hosseini, Amerika Serikat gagal mencapai tujuan ketika berhadapan dengan bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok perlawanan. Washington kini disebut berusaha mencari jalan keluar dari situasi sulit yang telah diciptakannya sendiri.

Selama bertahun-tahun, Amerika menyatakan memiliki berbagai pilihan untuk menghadapi lawan, termasuk opsi militer. Namun, perang dengan Iran dinilai telah memperlihatkan batas kemampuan pilihan tersebut.

“Amerika selama ini mengatakan berbagai pilihan tersedia di atas meja, salah satunya pilihan militer. Namun sekarang kartu Amerika dalam bidang militer telah terbuka dan kekuatan sebenarnya telah terlihat oleh dunia,” ujar Hosseini.

Baca juga: Haaretz: Waktu Berpihak kepada Iran, Trump seperti Petinju Buta

Hosseini menambahkan bahwa kekuatan militer Amerika juga tidak mampu bertahan ketika menghadapi kelompok-kelompok perlawanan. Menurutnya, terdapat jarak antara klaim Washington mengenai kemampuan militernya dan kenyataan di medan perang.

Persatuan sebagai Kekuatan

Di tengah pembicaraan mengenai perang, Hosseini menempatkan persatuan sebagai salah satu hal yang harus dijaga. Menurutnya, persatuan masyarakat Iran, baik antarsuku maupun antarmazhab, merupakan tanggung jawab bersama. Persatuan tersebut juga perlu diperkuat melalui hubungan dengan negara-negara Islam.

“Menjaga persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Islam dan Iran tercinta merupakan kewajiban kita. Persatuan antarmahzab dan antarsuku harus dipertahankan, sekaligus diperkuat bersama negara-negara Islam,” ujarnya.

Hosseini menyebut keteguhan bangsa Iran dan dukungan masyarakat kepada angkatan bersenjata sebagai salah satu faktor penting dalam menghadapi perang.

“Bangsa Iran dengan keteguhan dan dukungan terhadap angkatan bersenjata telah memberikan pelajaran yang tidak terlupakan kepada negara-negara adidaya. Kami bangga kepada setiap orang dari bangsa yang luar biasa ini,” katanya.

Menurut Hosseini, tuntutan untuk membalas darah para syuhada juga merupakan tuntutan seluruh umat Islam. Tanggung jawab tersebut, menurutnya, berada di pundak generasi muda dan seluruh orang yang memperjuangkan kebebasan di dunia.

Baca juga: Analis Israel: Trump Kini Tahu Sulitnya Mengakhiri Perang dengan Iran

Iran sebagai Titik Temu

Pesan persatuan tersebut kembali ditegaskan Hosseini ketika berbicara mengenai Iran sebagai rumah bersama bagi masyarakat dengan latar belakang suku dan mazhab yang berbeda.

“Iran adalah titik temu seluruh rakyat, suku dan mazhab. Siapa pun yang hidup di tanah dan wilayah ini mencintai Iran,” ujarnya.

Hosseini juga mengenang sosok yang disebut sebagai “Syahid Iran” dalam acara tersebut. Menurutnya, tokoh tersebut telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk kehormatan Iran, rakyat Iran dan kemajuan Islam. Dia menilai pihak lawan keliru ketika mengira kematian tokoh tersebut akan membantu mencapai tujuan mereka.

Hosseini mengatakan darah syahid tersebut akan tetap hidup dalam hati masyarakat dan generasi mendatang. Menurutnya, darah tersebut juga telah menggagalkan sejumlah rencana pihak lawan untuk melemahkan posisi Wilayat al-Faqih dan kepemimpinan Revolusi Islam.

Pada akhir pidatonya, Hosseini menyampaikan penghargaan kepada imam Jumat, para ulama, keluarga para syuhada, para veteran, komandan Basij dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara tersebut. []

Baca juga: Iran Sebut California Wilayah Baru Iran