Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

AS Akui Sanksi Iran Bisa Guncang Sistem Keuangan Global

Published

on

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dalam konferensi pers di Washington, Senin (24/8/2026), saat menjelaskan kebijakan sanksi baru terhadap Iran.
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dalam konferensi pers di Washington, Senin (24/8/2026), saat menjelaskan kebijakan sanksi baru terhadap Iran.

Media ABI, 25 Agustus 2026 — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengakui bahwa Washington tidak bisa begitu saja memberlakukan seluruh sanksi baru terhadap Iran tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap sistem keuangan global.

Pernyataan itu disampaikan Bessent dalam konferensi pers pada Senin (24/8), sebagaimana dilansir Fars News Agency, saat seorang wartawan mempertanyakan keputusan pemerintah Amerika Serikat memberi waktu kepada pihak-pihak yang masih melakukan transaksi dengan Iran sebelum sanksi diberlakukan.

Baca juga: Tuan Bessent, Ini Kemenangan atau Pengakuan Kekalahan AS?

Pertanyaan tersebut merujuk pada tulisan Bessent di Financial Times yang menyebut kampanye sanksi baru terhadap Iran sebagai “D-Day ekonomi”. Wartawan itu kemudian mempertanyakan penggunaan istilah tersebut dengan merujuk pada operasi D-Day di Normandia pada Perang Dunia II yang dilancarkan secara mendadak dan tanpa memberi waktu kepada Jerman Nazi untuk mempersiapkan diri.

“Jika Anda menyebutnya D-Day, mengapa sanksi tidak diberlakukan hari ini dan sekaligus, tetapi justru memberi Iran waktu?” tanya wartawan tersebut.

Bessent menjawab singkat, “Mengapa saya harus mengguncang sistem keuangan global?”

Jawaban itu memperlihatkan pertimbangan Washington di balik penerapan sanksi secara bertahap. Pemerintah Amerika Serikat memberi waktu kepada pihak yang masih bertransaksi dengan Iran untuk menghentikan kegiatan yang dianggap melanggar kebijakan sanksi sebelum langkah lebih jauh diberlakukan.

Pada hari yang sama, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan kampanye baru yang disebut “Operation Economic Outcast”. Kebijakan tersebut menyasar lima bidang utama yang berkaitan dengan ekonomi Iran, yaitu aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.

Baca juga: Panglima Iran: Perang Modern Ditentukan oleh Ketahanan Bangsa

Bessent mengatakan tujuan kampanye tersebut adalah memutus jalur ekonomi yang menopang Iran. Washington juga memperingatkan negara ketiga dan pihak lain bahwa hubungan finansial dengan Teheran dapat membuat mereka kehilangan akses ke sistem keuangan Amerika Serikat.

Departemen Keuangan AS juga mengumumkan tindakan terhadap hampir 60 entitas, individu, dan kapal yang dituduh membantu jaringan perdagangan minyak Iran dan menghindari sanksi. Pihak-pihak yang masuk dalam jaringan tersebut berada antara lain di Uni Emirat Arab, Hong Kong, Singapura, Swiss, sejumlah negara Eropa, dan China.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan penindakan terhadap bank-bank China yang berhubungan dengan Iran, Bessent menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berada di luar jangkauan sanksi Amerika Serikat.

Langkah Washington itu sekaligus memperlihatkan perbedaan antara istilah “D-Day ekonomi” yang digunakan Bessent dan cara sanksi tersebut dijalankan. Alih-alih diberlakukan sekaligus, pemerintah Amerika Serikat memilih memberikan waktu kepada pihak yang masih memiliki hubungan bisnis dengan Iran sebelum sanksi sekunder diterapkan.

Baca juga: Dari Safir ke Simorgh, Dua Dekade Program Antariksa Iran

Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump mengambil pendekatan tersebut dengan terlebih dahulu memperingatkan negara-negara dan perusahaan yang masih melakukan hubungan bisnis dengan Iran. Bessent mengatakan mereka akan diberi batas waktu untuk menghentikan kegiatan yang telah menjadi sasaran kebijakan Washington.

Pemerintah Amerika Serikat masih membuka kemungkinan memperluas sanksi pada tahap berikutnya, termasuk terhadap lembaga keuangan besar. Namun, pengakuan Bessent mengenai risiko terhadap sistem keuangan global menunjukkan bahwa Washington juga harus memperhitungkan dampak dari tekanan ekonomi yang hendak dijatuhkannya sendiri. []

Baca juga: Dari Suez ke Hormuz, Akankah Amerika Mengulang Nasib Inggris?