Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

PBB Tegaskan Gaza Milik Palestina, Tolak Rencana Netanyahu Perluas Pendudukan

Published

on

Sebuah blok kuning yang menandai garis kuning di Khan Younis, Gaza, Palestina, Januari 2026. (Foto via media sosial)
Sebuah blok kuning yang menandai garis kuning di Khan Younis, Gaza, Palestina, Januari 2026. (Foto via media sosial)

Ahlulbait Indonesia | 30 Mei 2026 — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan seluruh wilayah Gaza merupakan milik rakyat Palestina dan mendesak Israel mengakhiri pendudukan ilegalnya di kawasan tersebut. Pernyataan itu disampaikan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana memperluas kontrol militer Israel di Jalur Gaza.

Baca juga: Kongres AS Diam-Diam Dorong Integrasi Militer dengan Israel lewat NDAA 2027

Menurut Press TV pada Sabtu, 30 Mei 2026, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric menyatakan bahwa “100 persen Gaza adalah milik rakyat Palestina”. PBB, kata dia, terus mendesak Israel mundur dari wilayah pendudukan di sepanjang garis yang dikenal sebagai “yellow line”.

“Itulah posisi kami dan kami akan terus mempertahankannya,” kata Dujarric kepada wartawan pada Jumat waktu setempat.

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Netanyahu mengatakan Israel telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza dan berencana memperluasnya menjadi 70 persen.

Militer Israel sebelumnya mengumumkan pada Oktober tahun 2025 lalu bahwa mereka telah mengendalikan 53 persen wilayah Gaza setelah penempatan ulang pasukan di sepanjang “yellow line”. Langkah itu merupakan bagian tahap pertama dari rencana yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

Dalam skema tersebut, Israel seharusnya melakukan penarikan lanjutan pada tahap kedua yang dimulai Januari lalu. Namun sumber-sumber Palestina menyebut garis pemisah itu justru terus bergeser ke arah barat dalam beberapa bulan terakhir.

Baca juga: Iran Rilis Video AI Ungkap Skala Kerusakan Pangkalan AS di Timur Tengah

“Yellow line” merupakan zona pemisah sementara di Gaza timur yang membatasi wilayah di bawah kontrol militer Israel dan area tempat warga Palestina diizinkan bertahan.

Tokoh senior Hamas, Bassem Naim, mengatakan Israel telah mendorong garis tersebut lebih jauh hingga mencaplok tambahan sekitar 8 hingga 9 persen wilayah Gaza. Dengan perluasan itu, wilayah yang berada di bawah kendali Israel disebut telah melampaui 60 persen.

Pasukan Israel juga memperluas jaringan tanggul tanah di sepanjang garis tersebut untuk membangun posisi tinggi yang mengawasi lingkungan warga Palestina. Posisi itu memberi keuntungan strategis bagi tank dan penembak jitu Israel di berbagai kawasan Gaza yang hancur akibat perang.

Baca juga: Media Ibrani: Negara-Negara Arab Mulai Mencari Aliansi dengan Iran

Sejak melancarkan agresi besar-besaran ke Gaza pada 7 Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 72 ribu warga Palestina dan melukai sedikitnya 172 ribu lainnya. Mayoritas korban merupakan perempuan dan anak-anak.

Perang tersebut juga menghancurkan infrastruktur sipil Gaza, termasuk rumah sakit, sekolah, fasilitas olahraga, pembangkit listrik, jaringan air, dan kawasan permukiman warga.

Kerusakan luas dan blokade yang terus berlangsung membuat sebagian besar penduduk Gaza mengungsi dan bergantung pada bantuan kemanusiaan yang masuk dalam jumlah sangat terbatas ke wilayah terkepung tersebut. []

Baca juga: Netanyahu Targetkan Penguasaan 70 Persen Gaza