Internasional
Netanyahu Targetkan Penguasaan 70 Persen Gaza

Ahlulbait Indonesia | 29 Mei 2026 — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer Israel memperluas wilayah pendudukan di Jalur Gaza hingga mencapai 70 persen. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi Jordan Valley di Tepi Barat yang diduduki Israel, Kamis, 28 Mei 2026.
“Pada titik ini, kami sepenuhnya telah menguasai 60 persen wilayah Jalur Gaza dan arahan saya adalah mencapai 70 persen,” kata Netanyahu dalam konferensi Jordan Valley di Tepi Barat. Ketika seorang peserta menyerukan pendudukan penuh atas Gaza, Netanyahu menjawab, “Kita bergerak bertahap. Pertama 70 persen.” Demikian dilaporkan Press TV pada Jumat, 29 Mei 2026.
Baca juga: Komandan Baru Brigade al-Qassam Mohammed Odeh Syahid dalam Serangan Israel di Gaza
Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa pemerintah Israel tengah memperluas kontrol militer secara permanen di Gaza di tengah perang yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Pekan lalu, Netanyahu juga mengakui pasukan Israel kini menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza. Angka itu melampaui batas 53 persen yang sebelumnya diatur dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas tahun lalu.
Sejumlah menteri kabinet Netanyahu secara terbuka menyatakan keinginan untuk menduduki seluruh Gaza dan memindahkan hampir dua juta warga Palestina dari wilayah tersebut guna membuka jalan bagi pembangunan permukiman ilegal Israel.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut perang Israel telah menewaskan lebih dari 72.700 warga Palestina dan melukai lebih dari 172 ribu lainnya sejak 7 Oktober 2023.
Gencatan senjata yang diumumkan Amerika Serikat pada Oktober lalu semula ditujukan untuk menghentikan perang sekaligus membuka akses bantuan kemanusiaan berupa pangan, bahan bakar, obat-obatan, dan logistik dasar lainnya. Namun blokade Israel disebut tetap berlangsung sehingga kondisi kemanusiaan di Gaza memburuk. Serangan udara dan penembakan artileri Israel juga terus berlanjut dalam beberapa bulan terakhir.
Baca juga: ABI Galang Kurban Solidaritas untuk Palestina, Distribusi Hingga ke Gaza
Sementara itu, Menteri Urusan Militer Israel Israel Katz pada Rabu, 27 Mei 2026, menegaskan pemerintah Israel tetap berkomitmen menjalankan pemindahan besar-besaran warga Palestina dari Gaza.
Dalam pernyataannya, Katz mengatakan rencana tersebut akan dilakukan “pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat”. Pemerintah Israel menggunakan istilah “migrasi sukarela” untuk menggambarkan kebijakan itu.
Namun organisasi hak asasi manusia di Israel menilai kebijakan tersebut merupakan bentuk pembersihan etnis terselubung. Mereka menyebut kondisi hidup yang diciptakan di Gaza membuat warga sipil tidak memiliki pilihan nyata selain meninggalkan wilayah itu.
Asosiasi Hak Sipil di Israel tahun lalu menyatakan bahwa menciptakan kondisi yang tidak memungkinkan warga bertahan hidup dengan aman dan bermartabat bukanlah dorongan migrasi sukarela, melainkan pengusiran paksa.
Di tengah eskalasi konflik, serangan Israel pada hari pertama Idul Adha juga menewaskan sedikitnya 10 warga Palestina di Gaza City, termasuk lima anak-anak dan seorang lanjut usia. Lebih dari 20 orang lainnya mengalami luka-luka menurut data Rumah Sakit Shifa.
Baca juga: WHO Sebut Lebih dari 43 Ribu Warga Gaza Alami Cedera Permanen Akibat Perang Israel
Salah satu korban selamat, Mohammed Shawish, menangis di ruang jenazah rumah sakit setelah kehilangan istrinya dalam serangan tersebut.
“Saya menikahi istri saya karena cinta. Demi Tuhan, saya memilihnya karena cinta,” katanya sambil memeluk jenazah sang istri.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sejak gencatan senjata diberlakukan Oktober lalu, sedikitnya 922 warga Palestina tewas dan 2.786 lainnya terluka akibat serangan lanjutan Israel di wilayah tersebut. []
Baca juga: RS Indonesia di Gaza Jadi Sasaran Propaganda, Pemerintah RI Layangkan Kecaman







