Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Kongres AS Diam-Diam Dorong Integrasi Militer dengan Israel lewat NDAA 2027

Published

on

Sistem pertahanan rudal Iron Dome milik Israel dan Patriot milik Amerika Serikat ditampilkan dalam latihan militer gabungan di Arizona, Amerika Serikat, Mei 2025.
Sistem pertahanan rudal Iron Dome milik Israel dan Patriot milik Amerika Serikat ditampilkan dalam latihan militer gabungan di Arizona, Amerika Serikat, Mei 2025. (Foto via media sosial)

Ahlulbait Indonesia | 30 Mei 2026 — Kongres Amerika Serikat mulai memproses rancangan legislasi yang membuka jalan bagi integrasi militer Amerika dan Israel dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketentuan itu dimasukkan dalam Rancangan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional atau National Defense Authorization Act (NDAA) 2027 yang tengah dibahas di DPR AS.

Baca juga: Perang Tak Jadi Pelajaran, Negara Arab Teluk Kembali “Impor Keamanan” dari Amerika Serikat

Menurut Press TV pada Sabtu, 30 Mei 2026, laporan media Responsible Statecraft menyebut integrasi tersebut tercantum dalam Pasal 224 bertajuk United States-Israel Defense Technology Cooperation Initiative. Ketentuan itu memperluas kerja sama pertahanan kedua negara jauh melampaui proyek pertahanan rudal yang selama ini dijalankan bersama.

Pasal tersebut membuka ruang bagi riset bilateral, produksi bersama persenjataan, pengembangan industri pertahanan terpadu, hingga perjanjian lisensi teknologi militer antara Washington dan Tel Aviv. Kerja sama itu mencakup kecerdasan buatan, teknologi kuantum, sistem senjata otonom, energi terarah, siber, dan bioteknologi militer.

Laporan itu juga menyoroti rencana “integrasi jaringan” dan “fusi data” yang memungkinkan penyatuan data militer kedua negara. Jika disahkan penuh, kebijakan tersebut dinilai akan menempatkan hubungan pertahanan Amerika-Israel pada tingkat integrasi tertinggi dibanding hubungan militer AS dengan negara lain.

Responsible Statecraft mencatat Amerika Serikat telah mengucurkan bantuan militer sekitar 200 miliar dolar AS kepada Israel sejak 1948 setelah disesuaikan dengan inflasi.

Baca juga: “No War with Iran”: Gelombang Demonstrasi Anti-Perang Meluas di Seluruh Amerika Serikat

Pembahasan legislasi itu berlangsung di tengah meningkatnya kritik publik Amerika terhadap operasi militer Israel di Timur Tengah. Israel kini terlibat dalam konflik bersenjata di Palestina, Lebanon, dan Suriah, sementara ketegangan kawasan terus meningkat setelah dua perang besar antara Iran dan blok AS-Israel pada 2025 dan 2026.

Dalam dua konflik tersebut, Iran dan kelompok perlawanan di kawasan melancarkan serangan rudal dan drone harian ke wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Pada agresi kedua, Iran juga menutup Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan memperbesar tekanan ekonomi global.

Laporan itu memperingatkan bahwa pengesahan legislasi tersebut tidak hanya memperdalam keterlibatan Amerika dalam konflik regional Israel, tetapi juga memperluas pengaruh strategis Tel Aviv di dalam sistem pertahanan dan industri militer AS.

Di saat yang sama, Departemen Luar Negeri AS baru saja menyetujui penjualan senjata baru senilai 6,67 miliar dolar AS kepada Israel dan 9 miliar dolar AS kepada Arab Saudi. Langkah itu dinilai mempertegas konsolidasi militer Washington di Timur Tengah di tengah eskalasi konflik kawasan yang terus meluas. []

Baca juga: PERNYATAAN SIKAP AHLULBAIT INDONESIA (ABI): Tentang Serangan Militer Amerika Serikat–Israel terhadap Republik Islam Iran 28 Februari 2026