Internasional
Hubungan Saudi–UEA Memburuk, Dunia Bisnis Siapkan Skenario Terburuk

Ahlulbait Indonesia, 15 Juli 2026 — Memburuknya hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku bisnis internasional. Sejumlah bank investasi, firma hukum, dan perusahaan multinasional dilaporkan menyiapkan rencana kontinjensi di tengah meningkatnya risiko geopolitik yang dikhawatirkan mengganggu investasi, perdagangan, dan transaksi keuangan di kawasan Teluk.
Laporan Bloomberg yang terbit pada Senin (14/7) mengangkat persoalan tersebut melalui tajuk “Wall Street Can’t Ignore the $3 Trillion Saudi-UAE Rift“, menyoroti bahwa memburuknya hubungan Riyadh dan Abu Dhabi tidak lagi dipandang sebagai persoalan diplomatik semata, tetapi telah menjadi perhatian serius pelaku pasar dan lembaga keuangan global.
Baca juga: Dosa Max Blumenthal Hanya Satu: Menjadi Saksi dari Teheran
Menurut Bloomberg, sejumlah bank investasi mulai mengantisipasi kemungkinan harus memilih antara Riyadh dan Abu Dhabi apabila hubungan kedua negara terus memburuk. Sejumlah perusahaan telah menyusun skenario terburuk, sementara lainnya meninjau kembali kontrak bisnis, termasuk klausul force majeure, serta mengevaluasi hubungan usaha yang berpotensi terdampak pembatasan dari salah satu pihak. Firma hukum internasional juga disebut lebih selektif menerima penugasan untuk menghindari konflik kepentingan.
Laporan tersebut menyebut perbedaan kepentingan Riyadh dan Abu Dhabi kini meluas dari isu geopolitik ke sektor ekonomi dan investasi. Ketegangan meningkat setelah agresi gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang diikuti serangan balasan Teheran ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.
Perkembangan itu menjadi perhatian Wall Street karena Arab Saudi dan UEA mengelola dana kekayaan negara bernilai sekitar 3 triliun dolar Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu sumber investasi terbesar di dunia. Di saat yang sama, Arab Saudi terus mendorong Riyadh sebagai pusat bisnis regional, sementara UEA memperluas produksi minyak setelah keluar dari OPEC pada Mei lalu.
Baca juga: Citra Satelit Perlihatkan Kerusakan Luas Pangkalan AS akibat Serangan Balasan Iran
Dampak perselisihan mulai terlihat pada aktivitas perdagangan dan sektor keuangan. Semafor melaporkan truk-truk dari UEA menuju Arab Saudi mengalami penundaan hingga berhari-hari di perbatasan. Sementara itu, Financial Times menyebut sejumlah bank Saudi sejak Mei menunda atau mengembalikan transfer dana ke rekening perusahaan dan individu yang berbasis di Dubai.
Bloomberg menilai, jika ketegangan terus meningkat, dampaknya dapat menyerupai krisis diplomatik Teluk pada 2017 ketika Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir memutus hubungan dengan Qatar. Meski konteksnya berbeda, perpecahan baru di kawasan dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan, investasi, dan pasar keuangan global. []
Baca juga: Lima Rudal Balistik Digunakan IRGC untuk Hantam Sasaran Amerika di Yordania, Qatar, dan Oman







