Internasional
Angkatan Bersenjata Iran: Kami Berkewajiban Menuntut Balas Darah Para Syuhada

Ahlulbait Indonesia, 14 Juli 2026 — Juru Bicara Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran berkewajiban menuntut balas atas darah para syuhada, terutama Pemimpin Revolusi Islam dan para komandan militer yang gugur. Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah dibuka melalui perang, tindakan provokatif, ataupun agresi Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Akraminia saat menghadiri pertemuan dengan masyarakat di Lapangan Ibnu Sina, kawasan Khaniabad-e Now, Teheran, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Fars pada Selasa (14/7/2026).
Mengawali pidatonya, Akraminia menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Revolusi Islam dan para komandan militer Iran. Ia mengapresiasi masyarakat yang selama lebih dari empat bulan terus hadir di jalan-jalan mendukung Angkatan Bersenjata Iran. Menurutnya, dukungan tersebut telah menggagalkan seluruh rencana musuh terhadap Republik Islam Iran.
Baca juga: Trump Beritahu Kongres, Operasi Militer AS terhadap Iran Berlanjut
Ia juga menyebut kehadiran jutaan warga dalam prosesi pemakaman Pemimpin Revolusi sebagai peristiwa bersejarah yang akan meninggalkan jejak peradaban bagi bangsa Iran.
Kehadiran Rakyat Gagalkan Rencana Musuh
Akraminia mengatakan musuh berupaya melumpuhkan Republik Islam Iran melalui pembunuhan terhadap Pemimpin Revolusi dan para komandan militer. Namun, kehadiran rakyat di jalan-jalan menunjukkan komitmen bangsa Iran untuk tetap melanjutkan jalan Revolusi Islam.
Menurutnya, persatuan rakyat telah menggagalkan rencana musuh sekaligus memperkuat legitimasi Republik Islam Iran. Ia menambahkan bahwa pihak lawan mengira Iran akan mengalami nasib seperti negara-negara lain, tetapi kehadiran rakyat justru memperlihatkan kuatnya persatuan nasional.
“Menuntut Balas Darah Para Syuhada adalah Kewajiban”
Akraminia menegaskan bahwa seluruh pejabat, rakyat Iran, dan setiap insan merdeka di dunia berkewajiban menuntut balas atas darah para syuhada, terutama Pemimpin Revolusi Islam yang gugur. Menurutnya, Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran juga memandang pembalasan tersebut sebagai amanah yang wajib ditunaikan.
Ia menambahkan bahwa keteguhan rakyat Iran telah menjadikan bangsa itu sebagai teladan bagi masyarakat dunia. Sebagaimana darah Imam Husain a.s. dan para sahabatnya membangkitkan kesadaran umat sepanjang sejarah, darah para syuhada Iran juga akan membangkitkan nurani masyarakat dunia.
Baca juga: Kematian Lindsey Graham Tinggalkan Kekosongan Strategis bagi Lobi Israel di Washington
Amerika Serikat dan Selat Hormuz
Dalam pidatonya, Akraminia menyebutkan Amerika Serikat memiliki sejarah panjang mengingkari komitmen, termasuk sejak kudeta 28 Mordad 1332 HS (19 Agustus 1953) setelah nasionalisasi industri minyak Iran. Menurutnya, permusuhan Washington terhadap Iran semakin menguat setelah Revolusi Islam karena revolusi tersebut menjadi simbol kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Iran.
Ia juga menyatakan Amerika Serikat sebelumnya telah menerima pengaturan Iran mengenai Selat Hormuz dalam nota kesepahaman penghentian perang, tetapi kemudian berupaya membuka jalur pelayaran baru di luar kesepakatan.
“Selat Hormuz tidak akan pernah dibuka melalui perang, tindakan provokatif, maupun agresi Amerika Serikat,” tegas Akraminia.
Menurutnya, satu-satunya jalan untuk membuka kembali Selat Hormuz adalah menghormati hak-hak bangsa Iran dan mematuhi seluruh ketentuan dalam nota kesepahaman tersebut. Ia menegaskan Angkatan Bersenjata Iran akan tetap mempertahankan hak Iran di Selat Hormuz hingga napas terakhir.
Dukungan Rakyat Menguatkan Semangat Militer
Menutup pidatonya, Akraminia menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan terus membela Iran dan rakyatnya di bawah komando Panglima Tertinggi.
Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi sumber kekuatan moral bagi para prajurit. Semangat personel yang mengoperasikan peluncur rudal dan pesawat nirawak, katanya, lahir dari pertolongan Allah, kepemimpinan Panglima Tertinggi, serta dukungan rakyat yang terus hadir di tengah krisis. []
Baca juga: Bloomberg: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Nyaris Terhenti di Tengah Eskalasi Konflik







