Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Netanyahu Hadapi Ancaman Terbesar Jelang Pemilu

Published

on

Ahlulbait Indonesia, 29 Juni 2026 — Retaknya hubungan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan partai-partai Haredi atau Yahudi Ortodoks berpotensi mengubah peta politik menjelang pemilihan anggota Knesset. Para pemimpin Haredi menyatakan tidak lagi memiliki kesepakatan politik dengan Netanyahu setelah menilai pemimpin Partai Likud itu gagal memenuhi komitmen yang telah dijanjikan selama empat tahun terakhir.

Laporan IRNA pada Senin (29/6/2026), mengutip Channel 12 Israel, menyebut seorang pejabat senior Haredi menyatakan hubungan dengan Netanyahu telah mencapai titik buntu. Menurutnya, tidak ada lagi landasan politik yang memungkinkan kedua pihak kembali membangun kerja sama dalam pemilu mendatang.

Sumber tersebut menuding Netanyahu terus menunda pengesahan rancangan undang-undang yang mengatur pembebasan wajib militer bagi kalangan Haredi. Penundaan itu dinilai dilakukan demi menghindari tekanan opini publik sekaligus menjaga keseimbangan koalisi pemerintah yang semakin rapuh.

Pejabat Haredi itu mengatakan kelompoknya tetap mendukung Netanyahu selama bertahun-tahun meski harus mengesampingkan sejumlah perbedaan ideologis. Namun, dukungan tersebut disebut tidak pernah dibalas dengan realisasi komitmen politik yang telah disepakati.

Ketegangan juga dipicu meningkatnya pengaruh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dalam pemerintahan. Menurut sumber yang sama, kedua tokoh sayap kanan itu kini menjadi aktor paling dominan dalam menentukan arah kebijakan kabinet sehingga ruang manuver politik Netanyahu semakin menyempit.

Smotrich turut menjadi sasaran kritik karena dinilai lebih memprioritaskan perluasan permukiman Israel dibandingkan penanganan persoalan warga di kawasan utara dan selatan.

Di tengah dinamika tersebut, partai-partai Haredi menegaskan tidak menghendaki Israel terseret ke dalam perang yang dianggap tidak perlu, termasuk kebijakan yang berpotensi memicu ketegangan dengan Amerika Serikat.

Menjelang pemilu parlemen yang diperkirakan berlangsung paling lambat pada akhir Oktober 2026, partai-partai Haredi mulai membuka peluang membangun poros politik baru. Mereka menilai kerja sama dengan mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Gadi Eisenkot masih memungkinkan, sementara peluang berkoalisi dengan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dipandang jauh lebih kecil.

Perubahan sikap tersebut menjadi sinyal penting dalam konfigurasi politik Israel. Dukungan partai-partai Haredi selama ini menjadi salah satu fondasi utama yang menopang pemerintahan Netanyahu. Kehilangan dukungan mereka dapat mempersempit peluang Netanyahu mempertahankan kekuasaan apabila pemilu digelar dalam waktu dekat.

Hasil jajak pendapat Channel 11 menunjukkan Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot berpotensi meraih 21 kursi di Knesset. Sementara aliansi Together yang dibentuk Naftali Bennett dan Yair Lapid diproyeksikan memperoleh 17 kursi. Dalam komposisi politik yang terfragmentasi, kemampuan meraih dukungan partai-partai Haredi diperkirakan akan menjadi faktor penentu pembentukan koalisi pemerintahan berikutnya.

Dalam beberapa hari terakhir, Eisenkot juga meningkatkan kritik terhadap kabinet Netanyahu. Menurutnya, pemerintah gagal mencapai sasaran strategis dalam berbagai operasi militer terakhir dan belum mampu memperbaiki hubungan Israel dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu mempertegas semakin tajamnya persaingan politik menjelang pemilu yang diperkirakan menjadi salah satu kontestasi paling menentukan bagi masa depan pemerintahan Netanyahu. []

Continue Reading