Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

AS Tak Berdaya Hadapi Serangan Drone Iran Tiap Malam

Published

on

Keterbatasan persenjataan disebut membatasi ruang gerak AS menghadapi serangan Iran dan risiko konflik baru.
Keterbatasan persenjataan disebut membatasi ruang gerak AS menghadapi serangan Iran dan risiko konflik baru.

Ahlulbait Indonesia, 11 Agustus 2026 — Dua media Israel melaporkan serangan drone Iran terhadap pasukan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz berlangsung setiap malam, sementara Washington memilih tidak mengungkapkan rincian mengenai serangan tersebut.

Menurut Fars News Agency pada Selasa (11/8/2026), Channel 15 melaporkan Iran meluncurkan dua hingga lima drone setiap malam ke arah kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Media tersebut juga mengklaim pemerintah Amerika Serikat menutup informasi mengenai serangan drone terhadap sebuah pangkalan militer AS di Kuwait pada pekan lalu.

Baca juga: Pengakuan Jujur Riyadh: Payung Keamanan AS Mulai Runtuh

Channel 15 menilai sikap diam Washington merupakan bagian dari “pola operasional yang disengaja” untuk mencegah eskalasi. Pemerintah Amerika Serikat disebut menghindari pengumuman resmi mengenai serangan tersebut agar tidak memicu peningkatan ketegangan dan aksi saling balas di kawasan.

Media tersebut tidak memberikan rincian mengenai jumlah korban maupun kemungkinan kerusakan akibat serangan yang diklaim.

Sementara itu, i24NEWS juga melaporkan bahwa serangan terhadap pasukan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz terus berlangsung setiap malam. Media tersebut menyebut intensitas serangan Iran belum berkurang dan Washington memilih menahan diri serta tidak memberikan keterangan mengenai kejadian tersebut.

Baca juga: Washington Mulai Tarik Pasukan Bertahap dari Asia Barat

Menurut i24NEWS, Iran meluncurkan dua hingga lima drone setiap malam dalam rangkaian serangan tersebut.

Kedua media Israel itu menilai sikap diam Washington berkaitan dengan upaya mencegah eskalasi dan kemungkinan pecahnya kembali perang. Menurut analisis yang dikutip dalam laporan tersebut, pengakuan resmi Amerika Serikat atas serangan akan menempatkan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM dalam tekanan untuk memberikan respons demi mempertahankan kredibilitas militernya.

Di sisi lain, laporan tersebut menyebut keterbatasan persenjataan menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang gerak Washington. Sejumlah sumber Amerika Serikat disebut mengakui bahwa militer AS mengalami kekurangan serius dalam persediaan senjata sehingga berusaha menghindari keterlibatan dalam perang besar baru dengan Iran. []

Baca juga: Perang Iran Mencekik Trump, Washington Mulai Cari Jalan Keluar