Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Militer Israel Desak Operasi Baru di Gaza untuk Cegah Kebangkitan Kekuatan Hamas

Published

on

Ahlulbait Indonesia, 29 Juni 2026 — Militer Israel dilaporkan mengkhawatirkan proses pemulihan kemampuan militer Hamas di Jalur Gaza dan menilai kelompok tersebut masih mempertahankan kendali yang kuat di wilayah itu. Kekhawatiran tersebut, menurut media Israel, mendorong petinggi militer mengusulkan dimulainya kembali operasi militer di Gaza.

Menurut laporan Fars News Agency pada Minggu (28/6/2026) yang mengutip stasiun televisi Israel Kan, para pejabat senior intelijen dan Komando Front Selatan Israel pekan lalu menyampaikan peringatan kepada Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir mengenai perkembangan situasi di Jalur Gaza.

Dalam penilaian yang dikutip Kan, sayap militer Hamas disebut tengah membangun kembali struktur organisasinya sebagai persiapan menghadapi kemungkinan konflik baru. Laporan itu mengklaim Hamas memproduksi ratusan bom rakitan dan rudal antitank setiap bulan serta merekrut anggota baru berusia antara 18 hingga 22 tahun.

Media tersebut juga mengklaim Hamas mulai kembali melatih personel unit elitnya, berupaya menyelundupkan pesawat nirawak dan perangkat komunikasi melalui Semenanjung Sinai, serta membangun kembali jaringan terowongan bawah tanah di berbagai wilayah Gaza.

Kan lebih lanjut melaporkan bahwa militer Israel telah menyampaikan kepada pemerintah Amerika Serikat perlunya melanjutkan operasi militer di Gaza. Namun, menurut laporan itu, Washington menolak usulan tersebut dan memilih mempertahankan situasi berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai, sembari mendorong kelanjutan inisiatif politik yang dikenal sebagai visi Presiden Donald Trump dan Dewan Perdamaian.

Mengutip sumber yang sama, para komandan senior Israel menilai Hamas masih memiliki posisi yang kuat di lapangan dan belum menghadapi ancaman yang dapat melemahkan kendalinya atas Jalur Gaza. Mereka juga meyakini Hamas tidak menunjukkan indikasi akan melepaskan kontrol atas wilayah tersebut.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza pada Minggu mengumumkan bahwa sejak diberlakukannya gencatan senjata pada 11 Oktober, sebanyak 1.041 warga Palestina dilaporkan tewas. Selain itu, tercatat 3.372 orang mengalami luka-luka dan 786 jenazah berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan.

Menurut kementerian tersebut, jumlah korban sejak dimulainya serangan Israel pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 73.054 orang tewas dan 173.480 lainnya terluka.

Sejumlah media Ibrani juga melaporkan bahwa koalisi pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tengah menghadapi penurunan dukungan dalam berbagai survei. Dalam situasi itu, muncul spekulasi bahwa pemerintah Israel dapat mempertimbangkan operasi militer baru di Jalur Gaza menjelang pemilihan anggota Knesset dalam beberapa bulan mendatang. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel yang mengonfirmasi kemungkinan tersebut. []

Continue Reading