Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Krisis Hantam USS Abraham Lincoln dari Kekurangan Makanan Hingga Bunuh Diri

Published

on

Kapal induk USS Abraham Lincoln menjalani penugasan selama 263 hari dalam operasi militer Amerika Serikat, di tengah laporan mengenai kelelahan ekstrem, kekurangan kebutuhan dasar, dan persoalan kesehatan mental awak.
Kapal induk USS Abraham Lincoln menjalani penugasan selama 263 hari dalam operasi militer Amerika Serikat, di tengah laporan mengenai kelelahan ekstrem, kekurangan kebutuhan dasar, dan persoalan kesehatan mental awak.

Ahlulbait Indonesia, 13 Agustus 2026 — Lebih dari 5.000 pelaut dan marinir di kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan menghadapi kelelahan ekstrem, kekurangan kebutuhan dasar, serta memburuknya kondisi kehidupan selama penugasan militer Amerika Serikat yang berkepanjangan.

Menurut laporan Fars News Agency pada Rabu (13/8/2026), yang mengutip sejumlah media Barat dan unggahan media sosial, keluarga personel mengatakan penugasan USS Abraham Lincoln selama delapan bulan dalam perang Amerika Serikat melawan Iran telah meningkatkan kekhawatiran mengenai kesehatan mental dan keselamatan awak.

Baca juga: Mearsheimer Bantah Klaim Trump soal Hormuz: Iran Masih Pegang Kendali

Kapal induk tersebut membawa sekitar 5.000 pelaut dan marinir. Kapal telah dikerahkan ke kawasan sejak 21 November dan belakangan mendukung operasi militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran. Kepada Military Times, sejumlah keluarga mengatakan penugasan yang semula diperkirakan berakhir pada Mei diperpanjang tanpa tanggal penyelesaian yang pasti.

Kesehatan mental awak menjadi sorotan

Annabelle Loma, istri salah seorang pelaut USS Abraham Lincoln, mengatakan kepada Military Times bahwa suaminya kini menjalani perawatan medis setelah mengalami krisis kesehatan mental. Menurut Loma, sebelum kejadian tersebut suaminya berada di bawah tekanan berat dan mengalami kelelahan ekstrem.

Loma mengatakan suaminya khawatir kondisi tersebut dapat mengakhiri 13 tahun masa pengabdiannya di Angkatan Laut AS. Menurut Loma, fokus utama saat ini seharusnya pemulihan, bukan konsekuensi disipliner.

Maria Rodriguez, istri pelaut lainnya, mengatakan suaminya bersama sejumlah awak membantu seorang rekan yang mengalami krisis di kapal. Angkatan Laut AS tidak merilis angka pasti mengenai jumlah personel USS Abraham Lincoln yang mengalami percobaan bunuh diri atau tindakan menyakiti diri selama penugasan tersebut.

Kekurangan makanan dan kebutuhan dasar

Persoalan lain muncul pada pemenuhan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Laporan MSNOW pada 5 Agustus menyebut keluarga personel melaporkan kamar mandi berjamur, kekurangan makanan, serta habisnya sejumlah kebutuhan kebersihan di toko kapal.

Puluhan anggota keluarga yang diwawancarai media tersebut juga melaporkan toilet rusak, kamar mandi tanpa air panas, fasilitas pencucian pakaian yang tidak berfungsi selama berminggu-minggu, serta antrean panjang untuk memperoleh kebutuhan dasar.

Baca juga: Dua Tentara AS Tewas dalam Serangan Iran, Ini Misi Penting Mereka

Dalam sejumlah kesempatan, toko kapal disebut kekurangan sabun, deodoran, dan pasta gigi. Kerabat personel juga melaporkan adanya periode ketika makanan harus dijatah.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa kelelahan dan merosotnya moral awak dapat meningkatkan risiko kesalahan serius di kapal induk bertenaga nuklir yang menjalankan operasi penerbangan secara terus-menerus.

Pekan sebelumnya, lebih dari 200 anggota keluarga menghadiri pertemuan di San Diego dengan Hong Cao, pejabat yang menjalankan fungsi Menteri Angkatan Laut AS. Dalam pertemuan virtual terpisah pada hari yang sama, keluarga menyampaikan kekhawatiran mengenai kesehatan mental, kelelahan, dan keselamatan awak.

Laksamana Joseph Cahill, komandan pasukan permukaan Angkatan Laut AS, mengakui dampak penugasan tersebut terhadap personel dan keluarga mereka. Cahill mengatakan Angkatan Laut mengetahui kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang dari penugasan tersebut.

Angkatan Laut AS sebelumnya membantah laporan mengenai kekurangan dan rendahnya kualitas makanan di USS Abraham Lincoln dan USS Tripoli. Dalam pernyataan melalui X pada April, kantor Kepala Operasi Angkatan Laut menyatakan kedua kapal memiliki persediaan makanan yang cukup dengan pilihan sehat dan memastikan seluruh awak menerima makanan dalam porsi penuh serta seimbang secara gizi.

Meski demikian, sejumlah personel militer AS mengirimkan foto yang mereka klaim menunjukkan rendahnya kualitas makanan di kapal kepada media Amerika, termasuk The Times dan Newsweek.

Salah satu penugasan laut terpanjang

Menurut Stars and Stripes, USS Abraham Lincoln telah menjalani penugasan selama 263 hari dan saat ini berada di Samudra Hindia. Selain singgah singkat di Oman pada Juli, kapal tersebut telah berada di laut selama 208 hari berturut-turut, menjadikannya salah satu periode terpanjang bagi kapal induk AS untuk terus berada di laut pada era modern.

Baca juga: Bentrokan Berdarah di Kapal Induk AS Abraham Lincoln, Tujuh Awak Tewas

USS Abraham Lincoln atau CVN-72 merupakan kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz milik Angkatan Laut AS yang berfungsi sebagai pangkalan udara sekaligus pusat komando bergerak di laut. Kapal tersebut mulai bertugas pada 11 November 1989 dan hingga Agustus 2026 telah berusia 36 tahun.

Ketika perang melawan Iran dimulai pada 28 Februari atau 9 Esfand dalam kalender Iran, pemerintahan Donald Trump menggambarkan kampanye tersebut sebagai misi singkat yang diperkirakan selesai dalam beberapa pekan. Namun, konflik kemudian berkembang menjadi perang regional yang semakin meluas.

Rangkaian laporan tersebut menggambarkan tekanan yang dihadapi awak USS Abraham Lincoln setelah penugasan yang berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal, sementara Angkatan Laut AS tetap membantah sebagian laporan mengenai kondisi logistik dan makanan di kapal. []

Baca juga: Begini Taktik Iran Tembus Pertahanan AS hingga Jatuhkan F-15E