Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Saudi Terpukul, Yaman Ancam Balas Setiap Eskalasi

Published

on

Ansarullah menegaskan setiap pelanggaran kedaulatan Yaman akan dibalas, meningkatkan risiko eskalasi Riyadh-Sana'a.
Pejabat Yaman memperingatkan Saudi bahwa setiap eskalasi akan dibalas langsung dan dapat menyasar kepentingan strategis Riyadh.

Ahlulbait Indonesia, 8 Agustus 2026 – Pejabat Yaman menyatakan Arab Saudi telah menerima pukulan berat dalam eskalasi terbaru dan memperingatkan Riyadh bahwa setiap serangan terhadap Yaman akan dibalas secara langsung. Sana’a juga menegaskan memiliki kemampuan untuk memperluas respons ke sasaran strategis di wilayah Saudi.

Penasihat Dewan Politik Tertinggi Yaman, Muhammad Taher An’am, mengatakan kepada jaringan Al-Masirah pada Sabtu (8/8/2026) bahwa serangkaian serangan telah menghantam kepentingan strategis Saudi, mulai dari wilayah laut dan bandara hingga fasilitas energi serta posisi militer.

Baca juga: Yaman kepada Saudi: Pakta Makkah Tak Akan Mengubah Apa Pun

Menurut An’am, Riyadh tidak mampu menghentikan serangan tersebut dan kini berupaya mengalihkan perhatian dengan menyebut wilayah Irak sebagai sumber serangan. Ia menilai langkah itu merupakan upaya Saudi untuk menutupi dampak serangan dan menghindari sorotan publik.

Di tengah situasi tersebut, An’am memperingatkan bahwa Sana’a masih memiliki kemampuan untuk menyerang sasaran strategis di dalam Saudi. Infrastruktur penting, menurutnya, dapat menjadi sasaran yang berpengaruh langsung terhadap perekonomian kerajaan.

Peringatan itu juga diarahkan kepada warga Yaman yang bergabung dengan kelompok pendukung Riyadh. An’am menyerukan mereka meninggalkan kamp-kamp tersebut dan menyatakan Saudi selama ini mengandalkan pasukan lokal serta kelompok bersenjata untuk mempertahankan pengaruhnya di Yaman.

Ia kemudian menjelaskan latar belakang eskalasi tersebut. Setelah kesepakatan gencatan senjata, Sana’a disebut telah menempuh jalur komunikasi, perundingan, dan berbagai upaya politik untuk menghentikan agresi. Ketika langkah tersebut tidak menghasilkan penghentian konflik, Yaman menerapkan prinsip “blokade dibalas blokade dan agresi dibalas agresi.”

Sikap tersebut ditegaskan kembali oleh anggota Biro Politik Ansarullah, Mohammed al-Farah. Ia menyatakan konflik yang berlangsung bukan perang saudara, melainkan konfrontasi antara Yaman dan Arab Saudi beserta pasukan yang mendapat dukungan Riyadh.

Baca juga: Yaman Ancam Saudi dengan Kehancuran Rezim Jika Intervensi Berlanjut

Al-Farah mengatakan Saudi mengerahkan personel dari berbagai negara, perusahaan keamanan asing, serta komandan militer asing untuk mempertahankan pengaruhnya di Yaman. Karena itu, setiap pelanggaran terhadap kedaulatan Yaman melalui darat, laut, maupun udara akan mendapat respons yang disesuaikan dengan bentuk dan sumber serangan.

Ia menegaskan Sana’a tidak akan menerima upaya memaksakan tatanan baru di Yaman melalui kekuatan militer maupun pasukan proksi. Dengan kata lain, setiap langkah Riyadh di wilayah Yaman akan diperlakukan sebagai eskalasi yang menuntut respons.

Rangkaian pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konfrontasi Riyadh-Sana’a kini bergerak ke tingkat yang lebih berisiko. Ancaman balasan tidak lagi dibatasi pada medan pertempuran di Yaman, tetapi berpotensi diarahkan ke sasaran yang dianggap memiliki kepentingan strategis bagi Saudi.

Jika siklus serangan dan pembalasan terus berlangsung, konflik Yaman-Saudi berisiko berkembang melampaui perebutan pengaruh di Yaman dan berubah menjadi konfrontasi regional yang lebih luas. []

Baca juga: NBC News Bongkar Kejahatan AS di Yaman