Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Kembangkan Senjata Lebih Canggih di Tengah Konflik 40 Hari dengan AS dan Israel

Published

on

Ahlulbait Indonesia, 29 Juni 2026 — Angkatan Darat Iran menyatakan berhasil mengembangkan dan mengoperasikan persenjataan yang lebih maju selama perang 40 hari melawan Amerika Serikat dan Israel. Menurut Teheran, konflik tidak menghentikan riset pertahanan, tetapi justru mempercepat pengembangan teknologi militer dan penerapan hasil penelitian di medan operasi.

Menurut laporan Press TV, Juru Bicara Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengatakan sejumlah drone generasi baru mulai dioperasikan pada fase akhir perang, meski proses penelitian dan pengembangannya telah dimulai jauh sebelum konflik pecah.

“Kami berhasil memasukkannya ke dalam layanan tepat ketika perang masih berlangsung,” ujar Akraminia, Minggu (28/6).

Selain mengerahkan sistem nirawak baru, Iran juga mengoptimalkan rudal yang digunakan Angkatan Darat dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Akraminia mengklaim rudal-rudal tersebut diproduksi dengan kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.

Menurutnya, penggunaan persenjataan di medan tempur tidak mengurangi perhatian terhadap penelitian dan pengembangan. Sebaliknya, program riset tetap berjalan beriringan dengan operasi militer sehingga inovasi baru dapat segera diintegrasikan ke dalam kemampuan tempur angkatan bersenjata.

Akraminia menambahkan modernisasi militer Iran saat ini bertumpu pada dua jalur utama, yakni memperkuat industri pertahanan dalam negeri dan memperoleh teknologi militer mutakhir melalui kerja sama dengan negara-negara sahabat.

Ia juga mengungkapkan bahwa drone yang diperkenalkan pada hari-hari terakhir perang memiliki kemampuan yang lebih canggih dibandingkan generasi sebelumnya, termasuk Arash-2. Menurutnya, rincian kemampuan teknis sistem tersebut akan diumumkan kepada publik dalam waktu dekat.

“Inovasi besar ini akan kami manfaatkan untuk membangun masa depan yang lebih aman dan lebih kuat,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah berakhirnya perang selama 40 hari antara Iran di satu pihak dengan Amerika Serikat dan Israel di pihak lain. Menurut pemerintah Iran, konflik dimulai pada 28 Februari dan berakhir setelah kedua pihak mencapai kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada 15 Juni untuk menghentikan operasi militer di sejumlah front.

Bagi Teheran, kemampuan mempertahankan riset, produksi, dan modernisasi persenjataan selama perang dipandang sebagai bukti bahwa tekanan militer tidak menghentikan pengembangan industri pertahanan nasional, bahkan menjadi momentum percepatan inovasi teknologi militer. []

Continue Reading