Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Tantang Dominasi Starlink, Iran Bangun Jaringan Satelit Nasional Syahid Soleimani

Published

on

Jaringan Satelit Syahid Soleimani akan terdiri atas 24 satelit orbit rendah yang mendukung komunikasi data, IoT, dan kebutuhan industri strategis Iran.
Ilustrasi Jaringan Satelit Syahid Soleimani yang tengah dikembangkan Iran sebagai sistem satelit nasional orbit rendah. (Foto: Press TV)

Ahlulbait Indonesia, 25 Juni 2026 — Iran mempercepat pembangunan Jaringan Satelit Nasional Syahid Soleimani, sebuah proyek ambisius yang diproyeksikan menjadi tulang punggung komunikasi ruang angkasa negara itu mulai 2027. Di tengah tekanan sanksi dan kerusakan yang menimpa sebagian fasilitas strategisnya akibat agresi Amerika Serikat dan Israel, Teheran justru menempatkan proyek ini sebagai simbol kebangkitan teknologi antariksa nasional.

Baca juga: Qalibaf: MoU Islamabad Berubah Menjadi Deklarasi Kekalahan Amerika

Proyek ini tidak sekadar menambah jumlah satelit Iran di orbit. Lebih dari itu, ia menandai perubahan mendasar dalam cara Republik Islam memandang ruang angkasa, dari sekadar kemampuan meluncurkan satelit menjadi pembangunan ekosistem antariksa nasional yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Jurnalis Press TV, Ivan Kesic, dalam artikelnya berjudul “Iran’s Orbital Game-Changer: Martyr Soleimani Constellation Heralds New Era of Indigenous Space Power” yang terbit pada 24 Juni 2026, menyebutkan bahwa Jaringan Satelit Syahid Soleimani dirancang terdiri atas sekitar 24 satelit orbit rendah (LEO) yang terhubung dalam satu sistem operasional. Jaringan ini akan mendukung layanan komunikasi data, Internet of Things (IoT), pemantauan infrastruktur, logistik, dan berbagai kebutuhan industri strategis, dengan tahap operasional awal dijadwalkan dimulai pada 2027.

Tetap Melaju di Tengah Agresi

Yang menarik, proyek ini terus berjalan di tengah situasi yang tidak mudah. Sejumlah fasilitas penelitian dan pengembangan sektor antariksa Iran dilaporkan terdampak agresi militer Amerika Serikat dan Israel dalam beberapa waktu terakhir. Namun, alih-alih menghentikan program, Teheran justru menegaskan komitmennya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur ruang angkasa nasional.

Bagi Iran, keberlanjutan proyek ini memiliki makna yang melampaui aspek teknologi. Ia menjadi simbol bahwa tekanan militer maupun sanksi ekonomi tidak berhasil menghentikan agenda pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi strategis negara tersebut.

Dalam konteks itu, konstelasi Syahid Soleimani diposisikan bukan hanya sebagai proyek komunikasi satelit, tetapi juga sebagai pernyataan politik mengenai ketahanan nasional dan kemampuan bertahan di tengah tekanan eksternal.

Iran mempercepat pembangunan Jaringan Satelit Syahid Soleimani yang digadang-gadang menjadi tonggak baru kemandirian teknologi antariksa nasional. (Foto: Press TV)

Iran mempercepat pembangunan Jaringan Satelit Syahid Soleimani yang digadang-gadang menjadi tonggak baru kemandirian teknologi antariksa nasional. (Foto: Press TV)

Dari Satelit Tunggal Menuju Arsitektur Antariksa Nasional

Selama dua dekade terakhir, program antariksa Iran dikenal melalui peluncuran satelit-satelit individual yang dirancang untuk misi tertentu. Pendekatan tersebut memungkinkan penguasaan teknologi dasar, tetapi belum mampu menghadirkan layanan ruang angkasa yang beroperasi secara berkesinambungan.

Konstelasi Syahid Soleimani menandai berakhirnya fase tersebut.

Baca juga: Empat Negara Sepakati Kerangka Negosiasi Baru, AS Izinkan Penjualan Minyak Iran

Dengan puluhan satelit yang bekerja secara simultan dalam satu jaringan terpadu, Iran mulai memasuki tahap pembangunan arsitektur antariksa operasional. Model ini memungkinkan layanan tetap berjalan meskipun sebagian satelit mengalami gangguan, sekaligus menciptakan cakupan yang jauh lebih luas dan berkelanjutan.

Transformasi ini menempatkan Iran dalam jalur yang selama ini ditempuh negara-negara dengan industri antariksa maju, yakni membangun sistem ruang angkasa sebagai infrastruktur nasional, bukan sekadar proyek penelitian.

Langkah tersebut juga menuntut kemampuan baru dalam produksi massal satelit, integrasi sistem, pengelolaan data, serta operasi jaringan orbit secara berkelanjutan.

Bukan Versi Iran dari Starlink

Meski sama-sama berbasis konstelasi satelit orbit rendah, proyek Syahid Soleimani memiliki orientasi berbeda dari Starlink milik SpaceX.

Jika Starlink dirancang untuk menyediakan akses internet berkecepatan tinggi bagi pengguna individu, konstelasi Iran lebih difokuskan pada komunikasi data berkapasitas rendah untuk kebutuhan industri, transportasi, energi, pemantauan infrastruktur, dan jaringan perangkat cerdas.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Teheran tidak sedang berupaya meniru model yang dikembangkan perusahaan-perusahaan Barat, melainkan membangun sistem yang disesuaikan dengan kebutuhan strategis nasionalnya.

Menuju Kedaulatan Teknologi Penuh

Di balik proyek ini terdapat tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menghadirkan layanan komunikasi satelit.

Iran berupaya menguasai seluruh rantai industri antariksa secara mandiri, mulai dari desain dan produksi satelit, pengembangan roket peluncur, pengoperasian stasiun bumi, pengelolaan jaringan orbit, hingga pengolahan data yang dihasilkan satelit.

Baca juga: Kisah Pilot Iran Menembus Pertahanan Udara dalam Operasi terhadap Pangkalan AS di Kuwait

Keterlibatan perusahaan-perusahaan swasta domestik dalam proyek tersebut juga menunjukkan upaya membangun industri antariksa nasional yang mampu berdiri di atas fondasi ekonomi dan teknologi dalam negeri.

Karena itu, konstelasi Syahid Soleimani tidak hanya berbicara tentang satelit yang mengorbit bumi. Ia merupakan bagian dari proyek yang lebih besar: membangun kemandirian teknologi strategis dan memastikan bahwa akses Iran terhadap ruang angkasa tidak bergantung pada infrastruktur, teknologi, maupun keputusan politik pihak lain.

Apabila proyek ini terealisasi sesuai jadwal, Iran tidak hanya akan memiliki jaringan satelit nasional pertamanya. Lebih dari itu, Teheran akan memasuki fase baru sebagai negara yang menguasai rantai teknologi antariksa dari hulu hingga hilir, mulai dari desain satelit dan roket peluncur hingga pengelolaan jaringan orbit secara mandiri. Di kawasan Asia Barat yang selama ini bergantung pada teknologi luar, langkah tersebut berpotensi mengubah peta persaingan teknologi ruang angkasa dalam dekade mendatang. []

Baca juga: Iran Masuk Liga Elite Teknologi Pencitraan Medis Dunia lewat ProSPECT II