Internasional
Foreign Affairs: Amerika Harus Tinggalkan Timur Tengah

Ahlulbait Indonesia, 8 Agustus 2026 – Majalah Amerika Serikat, Foreign Affairs, menyerukan Washington mengakhiri kehadiran militernya di Timur Tengah dan mengalihkan fokus pada diplomasi serta tantangan strategis di Asia dan Eropa.
Dalam analisis yang dikutip IRNA pada Sabtu (8/8/2026), Foreign Affairs menyebut perang terhadap Iran sebagai bukti terbaru kegagalan strategi militer Amerika di kawasan. Keberadaan puluhan ribu personel dan jaringan pangkalan AS selama beberapa dekade, menurut analisis tersebut, tidak berhasil menjamin keamanan Washington maupun sekutunya, tetapi justru menyeret Amerika ke dalam konflik mahal dan berkepanjangan.
Baca juga: IRGC: Media Iran Berhasil Bongkar Narasi Perang Trump
Foreign Affairs menempatkan perang Iran dalam konteks kebijakan luar negeri AS selama sekitar 35 tahun. Keterlibatan militer yang menguat sejak Perang Teluk 1990–1991 kemudian berkembang menjadi komitmen permanen untuk menjaga aliran energi, mendukung Israel, memerangi kelompok bersenjata, dan menekan Iran.

Ribuan personel AS hingga kini ditempatkan di Irak, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Namun, jaringan pangkalan tersebut juga dinilai menjadi kerentanan karena membuka kemungkinan pasukan Amerika menjadi sasaran serangan balasan.
Pengalaman Irak menjadi salah satu contoh. Invasi 2003 menyeret pasukan AS ke dalam perang panjang, sementara kemunculan ISIS kemudian mendorong Washington kembali mengerahkan pasukan setelah sebelumnya menarik sebagian besar kekuatannya dari negara tersebut.
Menurut analisis itu, strategi “perang melawan teror” setelah serangan 11 September telah menghabiskan sekitar 8 triliun dolar AS. Sekitar tiga juta warga Amerika disebut pernah bertugas dalam berbagai konflik tersebut, dengan lebih dari 15.000 personel militer dan kontraktor tewas.
Baca juga: IRGC: Media Iran Berhasil Bongkar Narasi Perang Trump
Kritik tersebut diarahkan kepada kedua partai politik utama AS. Pemerintahan Demokrat maupun Republik dinilai sama-sama mempertahankan keterlibatan militer Washington di Timur Tengah.
Karena itu, Foreign Affairs mendorong dimulainya penarikan pasukan setelah tercapai gencatan senjata yang stabil dengan Iran. Menurut analisis tersebut, sekadar mengurangi jumlah pasukan atau memusatkannya di satu-dua pangkalan tidak menyelesaikan persoalan karena keberadaan militer AS tetap menjadikannya sasaran penting.
Argumen lain yang kerap digunakan untuk mempertahankan kehadiran militer AS adalah keamanan jalur energi, terutama Selat Hormuz. Namun, Foreign Affairs menilai perang AS-Israel terhadap Iran justru berkontribusi terhadap penutupan selat tersebut, sementara kekuatan militer Amerika tidak mampu membukanya kembali secara paksa.
Analisis itu juga menyebut kepentingan Iran dan negara-negara Arab Teluk dalam menjaga ekspor energi dapat menjadi faktor stabilitas. Sementara itu, peningkatan produksi energi AS, perkembangan energi terbarukan, dan jalur distribusi alternatif dinilai dapat mengurangi kerentanan ekonomi global terhadap gangguan di kawasan.
Perubahan sikap publik Amerika turut menjadi sorotan. Menurut survei yang dikutip Foreign Affairs, 62 persen warga AS lebih memilih negaranya menjauh dari perang sejauh mungkin, sedangkan 33 persen mendukung penggunaan kekuatan militer jika kepentingan nasional dianggap terancam. Penolakan terhadap perang Iran 2026 juga disebut kuat di kalangan anak muda Amerika.
Baca juga: Araghchi Ajak Negara Tetangga Bertumpu pada Kekuatan Sendiri
Di tengah kecenderungan tersebut, anggaran pertahanan AS justru terus meningkat dan mencapai sekitar 1 triliun dolar pada 2026.
Foreign Affairs tidak menyerukan Amerika Serikat meninggalkan peran globalnya. Publikasi tersebut tetap mengakui pentingnya kehadiran dan jaminan keamanan AS di Eropa serta Asia dalam mencegah konflik antarnegara besar. Namun, keterlibatan militer Washington di Timur Tengah dinilai lebih banyak menghasilkan biaya dan risiko daripada keuntungan strategis.
Kesimpulan analisis itu tegas: setelah puluhan tahun perang dan intervensi yang menguras sumber daya, Washington perlu mengakhiri ketergantungan pada kekuatan militer di Timur Tengah dan mulai menarik pasukannya dari kawasan. []
Baca juga: Iran Rilis Puing Drone Amerika dan Israel yang Ditembak Jatuh IRGC







