Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Kisah Pilot Iran Menembus Pertahanan Udara dalam Operasi terhadap Pangkalan AS di Kuwait

Published

on

Personel Angkatan Udara Iran mengungkap rincian operasi berisiko tinggi terhadap Camp Buehring di Kuwait dalam wawancara yang disiarkan televisi pada 17 Juni 2026. (Dok. Press TV)
Personel Angkatan Udara Iran mengungkap rincian operasi berisiko tinggi terhadap Camp Buehring di Kuwait dalam wawancara yang disiarkan televisi pada 17 Juni 2026. (Dok. Press TV)

Ahlulbait Indonesia, 20 Juni 2026 — Dengan terbang pada ketinggian yang nyaris menyentuh permukaan bumi dan menjaga keheningan radio sepanjang perjalanan, dua jet tempur F-5 Iran melesat menuju Kuwait dalam sebuah misi berisiko tinggi. Operasi yang menurut para pelakunya hanya berlangsung sekitar 50 menit itu kini diungkap untuk pertama kalinya oleh personel Angkatan Udara Iran melalui sebuah wawancara televisi yang disiarkan pada Rabu (17/6/2026).

Menurut laporan Press TV, wawancara tersebut menghadirkan komandan operasi bersama dua awak pesawat yang terlibat langsung dalam serangan terhadap Camp Buehring, sebuah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait yang disebut sebagai salah satu instalasi militer paling strategis di kawasan.

Baca juga: Pesan Pemimpin Revolusi: Revolusi yang Tahu Apa yang Tidak Boleh Dikompromikan

Mereka menggambarkan operasi tersebut sebagai misi penetrasi yang dirancang dengan tingkat koordinasi tinggi, dijalankan dalam kondisi yang sangat menantang, dan menuntut ketepatan penuh sejak lepas landas hingga kembali ke pangkalan.

Komandan operasi mengatakan bahwa misi itu dilaksanakan sebagai respons terhadap agresi terbaru yang menargetkan Iran.

“Kami segera ingin melaksanakan operasi balasan,” ujarnya. Menurutnya, Camp Buehring dipilih karena memiliki konsentrasi pasukan dan kapasitas militer yang sangat besar.

Untuk menghindari deteksi radar, tiga pilot yang terlibat menerbangkan dua jet tempur F-5 pada ketinggian yang jauh di bawah standar penerbangan tempur biasa. Salah satu pesawat diawaki oleh komandan operasi bersama seorang pilot lain, sedangkan pesawat kedua diterbangkan oleh satu pilot.

“Kami praktis menyapu permukaan tanah. Kami bahkan terbang di bawah kabel-kabel listrik,” kenang sang komandan.

Ia menjelaskan bahwa dalam latihan normal, penerbangan rendah biasanya dilakukan pada ketinggian sekitar 500 kaki. Namun dalam operasi tersebut, mereka terbang pada ketinggian kurang dari 50 kaki demi menghindari sistem deteksi lawan.

Selain terbang sangat rendah, seluruh misi dijalankan dalam keheningan radio meskipun harus menghadapi sistem pertahanan udara berlapis yang mencakup rudal Patriot, pesawat peringatan dini AWACS, dan jet tempur pencegat.

Baca juga: ABI Terima Kunjungan Delegasi Koalisi Global Pekerja untuk Palestina

Salah satu momen yang paling membekas, menurut sang komandan, terjadi saat formasi pesawat melintasi jalur laut menuju Kuwait.

“Kami melintas di antara dua kapal pada ketinggian yang begitu rendah sehingga geladak kapal berada lebih tinggi daripada posisi kami. Para pelaut bahkan harus menjulurkan badan ke pagar kapal hanya untuk melihat kami melintas di bawah mereka.”

Setelah memasuki wilayah udara Kuwait, formasi pesawat meningkatkan kecepatan dan bergerak menuju sasaran. Karena menggunakan bom jatuh bebas, mereka harus melintas tepat di atas target sebelum menjatuhkan muatan.

“Kami harus terbang langsung di atas target. Begitu mencapai pangkalan tersebut, kami melaksanakan pemboman besar-besaran.”

Komandan operasi menyebut bahwa serangan itu menyebabkan kerusakan luas pada fasilitas yang menjadi sasaran. Menurutnya, berbagai aset udara yang berada di kawasan tersebut juga terdampak secara signifikan, bahkan sejumlah helikopter terangkat ke udara akibat gelombang ledakan. Ia juga menyebut bahwa situasi di pihak lawan menjadi kacau ketika operasi berlangsung.

Dalam keterangannya, tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat terlibat dalam insiden tembak kawan di tengah upaya merespons serangan tersebut. Peristiwa itu berkaitan dengan insiden yang terjadi pada 1 Maret. Dalam siaran pers Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), disebutkan bahwa pada pukul 23.03 waktu setempat, tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle yang diterbangkan untuk mendukung Operasi Epic Fury jatuh di wilayah Kuwait akibat insiden tembakan salah sasaran.

CENTCOM menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi di tengah pertempuran yang melibatkan serangan pesawat tempur, rudal balistik, dan pesawat nirawak Iran. Dalam situasi tersebut, ketiga pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat itu secara keliru ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait.

Keenam awak pesawat berhasil melontarkan diri dengan selamat dan kemudian dievakuasi dalam kondisi stabil. Dalam pernyataannya, CENTCOM juga menyebut bahwa Kuwait telah mengakui insiden tersebut serta menyampaikan apresiasi atas dukungan pasukan pertahanan Kuwait selama operasi berlangsung.

Setelah menyelesaikan serangan, para pilot Iran menjalankan manuver pengelabuan untuk menghindari pelacakan dan pencegatan.

“Setelah pemboman, kami melakukan manuver tipuan. Mereka tidak mampu melacak ataupun mencegat kami.”

Seluruh pesawat kemudian kembali dengan selamat ke wilayah udara Iran sebelum melanjutkan perjalanan menuju pangkalan yang telah ditentukan.

Baca juga: Komandan Militer Iran Peringatkan AS atas Kontradiksi Ancaman dan Diplomasi

Pilot yang duduk di kursi belakang bersama komandan menggambarkan bahwa ledakan masih terus terlihat saat mereka meninggalkan kawasan sasaran. Ia juga mengingatkan bahwa area tersebut dipenuhi berbagai perlengkapan militer dalam jumlah besar.

Sementara itu, pilot lainnya menegaskan bahwa keberhasilan misi menjadi prioritas utama bagi seluruh awak. “Sekalipun satu pesawat hilang, pesawat lainnya harus tetap melanjutkan operasi. Dalam keadaan apa pun, misi harus diselesaikan.”

Di akhir wawancara, komandan operasi kembali menegaskan semangat yang menurutnya menjadi landasan misi tersebut. “Dalam misi seperti ini, nyawa kami adalah prioritas terakhir. Dua kata, ‘Iran’ dan ‘bangsa Iran’, adalah prioritas pertama dan terakhir kami.”

Amerika Serikat dan Israel memulai gelombang terbaru agresi mereka terhadap Iran pada 28 Februari.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengumumkan gencatan senjata pada 7 April setelah konfrontasi tersebut diwarnai sedikitnya 100 gelombang serangan balasan Iran yang disebut menargetkan berbagai sasaran strategis milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan. []

Baca juga: Handala Bobol Sistem Air California sebagai Balasan atas Serangan AS di Iran