Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Delapan Negara Arab dan Islam Kutuk Serangan Pemukim Zionis ke Masjid Al-Aqsa

Published

on

Tentara Zionis memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di tengah meningkatnya kecaman dunia Arab dan Islam terhadap kebijakan Israel di Yerusalem Timur.

Ahlulbait Indonesia | 3 Juni 2026 — Delapan negara Arab dan Islam mengecam serangan berulang pemukim Zionis ke kompleks Masjid Al-Aqsa serta pengibaran bendera Israel di kawasan suci tersebut. Aksi itu dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan ancaman serius bagi stabilitas kawasan.

Baca juga: Netanyahu Targetkan Penguasaan 70 Persen Gaza

Dilansir Mehr News Agency mengutip sumber-sumber Arab pada Rabu, 3 Juni 2026, kecaman tersebut disampaikan melalui pernyataan bersama yang menyoroti meningkatnya tindakan provokatif di Masjid Al-Aqsa dan Yerusalem Timur.

Dalam pernyataan itu, delapan negara tersebut mengutuk tindakan sistematis dan ilegal otoritas Israel di Al-Quds atau Yerusalem Timur. Mereka juga menolak segala upaya untuk mengubah status historis dan status hukum kota suci tersebut.

Para penandatangan menegaskan bahwa rangkaian provokasi di kompleks Al-Aqsa hanya akan memperburuk ketegangan dan merusak peluang terciptanya perdamaian di kawasan.

“Meningkatnya pelanggaran dan tindakan provokatif di Yerusalem melemahkan upaya internasional untuk mencapai perdamaian,” demikian isi pernyataan bersama tersebut.

Pernyataan itu juga menegaskan solidaritas penuh terhadap rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak-hak sah mereka, termasuk hak menentukan nasib sendiri dan pembentukan negara Palestina merdeka.

Baca juga: Kelompok Perlawanan Palestina Tolak Rencana Mladenov untuk Gaza

Selain itu, delapan negara tersebut mendukung seluruh upaya internasional untuk mengakhiri pendudukan Israel dan mendorong terciptanya perdamaian yang adil di Palestina.

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel terus memperluas proyek yudaisasi di Yerusalem Timur, termasuk di kawasan Masjid Al-Aqsa, serta memperkuat kebijakan yang dinilai menghapus identitas Arab dan Islam kota tersebut.

Padahal, berbagai resolusi internasional menegaskan Yerusalem Timur merupakan wilayah pendudukan yang seharusnya menjadi ibu kota negara Palestina merdeka. Pendudukan Israel sejak 1967 dan pencaplokan wilayah itu pada 1980 juga tidak pernah diakui komunitas internasional. []

Baca juga: Gelombang Aksi Nasional di Italia Tuntut Penghentian Genosida Gaza