Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

IRGC ke Rakyat Kuwait: AS Langgar Kedaulatan Negara Anda, Bukan Iran

Published

on

IRGC menyebut pangkalan militer Amerika di Kuwait menjadi sumber operasi terhadap Iran.

Ahlulbait Indonesia, 23 Juli 2026 – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merilis pernyataan resmi yang ditujukan kepada rakyat Kuwait menyusul operasi militer yang menargetkan fasilitas Amerika Serikat di negara tersebut. Dalam Komunike Nomor 44 Operasi Nasr 2 yang diterbitkan Humas IRGC melalui Sepah News, Kamis (23/7), IRGC menegaskan bahwa operasi tersebut tidak ditujukan kepada negara maupun rakyat Kuwait, melainkan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika yang menjadi sumber agresi terhadap Iran.

Baca juga: Gudang Amunisi dan Pusat Logistik Militer AS di Kuwait Hancur

Pernyataan itu sekaligus membantah tuduhan bahwa Iran telah melanggar keutuhan wilayah dan kedaulatan Kuwait.

“Sebagian pihak mengatakan bahwa Iran melalui serangan-serangannya telah melanggar kemerdekaan, keutuhan wilayah, dan kedaulatan negara-negara lain. Penilaian seperti itu sepenuhnya keliru. Bagi kami, kemerdekaan, keutuhan wilayah, dan kedaulatan negara Anda sepenuhnya dihormati.”

Menurut IRGC, dalam operasi tersebut rudal dan drone Iran menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem, menghancurkan sebuah gudang besar perlengkapan militer, satu sistem pertahanan udara Patriot, serta hanggar pesawat nirawak MQ-9 milik Amerika Serikat.

Selain itu, IRGC menegaskan telah menyerang lokasi penempatan personel Amerika dan dua hanggar helikopter di Kamp Militer Al-Adairi, yang mengakibatkan sejumlah personel Amerika tewas dan terluka serta merusak beberapa helikopter dan pesawat nirawak. Sebagai balasan atas serangan Amerika terhadap menara komunikasi di Iran, IRGC juga menyatakan telah menghantam sebuah menara telekomunikasi.

“Yang Dilanggar Amerika adalah Kedaulatan Kuwait”

Dalam lanjutan pernyataannya, IRGC berargumen bahwa keberadaan pangkalan militer Amerika di Kuwait justru merupakan bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan negara tersebut.

Menurut IRGC, keluar-masuk personel di pangkalan itu tidak berada di bawah pengawasan aparat Kuwait. Disiplin ditegakkan oleh polisi militer Amerika, perkara hukum diputus oleh hakim Amerika, dan hukum yang berlaku adalah hukum Amerika Serikat. IRGC bahkan mengklaim Menteri Pertahanan Kuwait sekalipun tidak dapat memasuki pangkalan tersebut tanpa izin otoritas militer Amerika.

Atas dasar itu, IRGC menyimpulkan bahwa pihak yang melanggar keutuhan wilayah dan kedaulatan Kuwait adalah Amerika Serikat, bukan Iran.

“Yang telah melanggar keutuhan wilayah dan kedaulatan Anda adalah Amerika Serikat, bukan kami. Kami menyerang wilayah yang diduduki tentara Amerika, pasukan yang tidak mengenal selain kejahatan.”

Baca juga: Baqaei kepada Kuwait: Kini Kalian Menjadi Bagian dari Api yang Membakar Rakyat Kami

IRGC Kaitkan Operasi dengan Korban Sipil di Iran

Pada bagian akhir, IRGC mengaitkan operasi tersebut dengan korban sipil akibat serangan Amerika terhadap Iran. IRGC menyebut masyarakat Kota Minab sehari sebelumnya baru saja memakamkan sisa-sisa jasad para pelajar yang ditemukan di bawah reruntuhan.

IRGC juga menegaskan bahwa 168 pelajar gugur pada hari pertama perang akibat serangan militer Amerika Serikat dan sebagian serangan itu dilancarkan dari pangkalan-pangkalan AS di Kuwait. Karena itu, menurut IRGC, Iran memiliki hak secara hukum, syariat, dan rasional untuk menargetkan pihak yang menyerang wilayahnya dari mana pun serangan tersebut berasal.

“Merupakan hak kami secara hukum, syariat, dan rasional untuk menargetkan pihak yang menyerang negara kami dan membunuh anak-anak kami, dari lokasi mana pun mereka melancarkan agresinya.”

Pernyataan tersebut ditutup dengan ucapan terima kasih kepada rakyat Kuwait serta kutipan ayat Al-Qur’an:

“Dan kemenangan itu tidak lain hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” []

Baca juga: Gelombang ke-24 Operasi Nasr 2, IRGC Lumpuhkan Radar di Kuwait