Ikuti Kami Di Medsos

14 Manusia Suci

Ustadz Ahmad Hidayat: Muharram, Panggung Perlawanan terhadap Kezaliman demi Tegaknya Keadilan

Published

on

Ustadz Ahmad Hidayat menyampaikan ceramah pada malam keenam Ihya Muharram 1448 H di Husainiyah Bina Amal, Kota Bekasi.
Ustadz Ahmad Hidayat menyampaikan ceramah pada malam keenam Ihya Muharram 1448 H di Husainiyah Bina Amal, Kota Bekasi. (Dok. ABI)

Oleh: M. Haidar

Ahlulbait Indonesia, 27 Juni 2026 — Tulisan ini merupakan rangkuman ceramah Ustadz Ahmad Hidayat yang disampaikan di Husainiyah Bina Amal, Kota Bekasi, pada malam keenam Ihya Muharram 1448 H, Minggu, 21 Juni 2026. Ceramah tersebut juga dapat disaksikan melalui kanal YouTube Husainiyah Bina Amal.

Empat belas abad telah berlalu sejak Imam Husain a.s. bersama para pengikut setianya gugur syahid di Karbala. Namun, sepanjang sejarah pasca-Karbala hingga hari ini, bahkan pada masa yang akan datang, manusia terus memperingati Asyura. Asyura bukan semata-mata sebuah peristiwa sejarah yang telah berlalu, melainkan peristiwa yang terus melahirkan kesadaran dan menuntut keberpihakan kepada kebenaran. Lebih dari itu, Asyura menjadi panggilan bagi setiap generasi untuk menjawab seruan Imam Husain a.s. melalui kerja-kerja kolektif yang nyata.

Di hadapan para jemaah yang memenuhi Husainiyah Bina Amal, Ustadz Ahmad Hidayat mengajak hadirin memandang Muharram sebagai panggung perlawanan terhadap kezaliman demi tegaknya keadilan.

Dalam mukadimah ceramahnya, beliau mengingatkan bahwa majelis peringatan syahadah Imam Husain a.s. bukan sekadar momentum untuk menangis. Di baliknya terdapat dimensi spiritual yang sangat mendalam dan harus disadari oleh setiap orang.

“Ikhwan-akhwat sekalian, kita yang duduk di pojok Kota Bekasi ini sebetulnya sedang berada di haram Aba Abdillah al-Husain a.s. Karena itulah, tidak ada satu pun dari kita yang tidak dipandangi oleh Aba Abdillah al-Husain a.s. Riwayat menyebutkan bahwa Imam Husain mengatakan, ‘Siapa yang berziarah kepadaku, aku akan berziarah kepadanya di dunia dan di akhirat.'”

Menurut Ustadz Ahmad Hidayat, menziarahi Imam Husain a.s. juga merupakan momentum untuk bercermin kepada diri sendiri. Sebab, yang menentukan kedekatan seseorang dengan sosok yang diziarahi bukan hanya kehadiran fisiknya, melainkan juga keadaan batinnya.

“Tugas kita ketika hadir berziarah dan duduk di hadapannya, sebetulnya kita sedang mengalami tantangan, yaitu tantangan dari dalam diri kita sendiri. Kita sedang berhadapan dengan diri kita sendiri. Boleh jadi diri kita inilah yang menjadi penyebab terhijabnya kita dari Aba Abdillah al-Husain. Bisa jadi keadaan kitalah yang menyebabkan Aba Abdillah al-Husain a.s. tidak menengok kita.”

Lebih lanjut, Ustadz Ahmad menguraikan bahwa tantangan tersebut terletak pada kenyataan bahwa kapasitas iman, makrifat, dan keikhlasan kita masih sangat terbatas.

Ustadz Ahmad Hidayat menyampaikan ceramah pada malam keenam Ihya Muharram 1448 H di Husainiyah Bina Amal, Kota Bekasi. (Dok. ABI)

Ustadz Ahmad Hidayat menyampaikan ceramah pada malam keenam Ihya Muharram 1448 H di Husainiyah Bina Amal, Kota Bekasi. (Dok. ABI)

“Kita hadir di tempat ini sebetulnya sedang menunjukkan seluruh kelemahan kita, seluruh keadaan kita yang paling minimal dalam keimanan, keyakinan, makrifat, kesadaran, dan dalam upaya menyatakan bahwa kita adalah para pembela serta penolong Aba Abdillah al-Husain a.s. Kita selalu menemukan diri kita masih sangat minim dalam melakukan semua upaya itu. Apalagi jika kita mengukur tingkat ketulusan dan keikhlasan kita untuk memastikan bahwa tidak ada jarak antara kita dengan Aba Abdillah al-Husain.”

Beliau kemudian memperdalam penjelasannya dengan merujuk kepada doa Ziarah Asyura yang lazim dibaca, khususnya pada bulan Muharram. Menurutnya, terdapat pesan penting dalam Ziarah Asyura yang sering luput dari perhatian, yaitu tentang mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui kedekatan dengan Imam Husain a.s.

Baca juga: Dari Karbala untuk Indonesia: Ustadz Zahir Yahya Tegaskan Asyura sebagai Landasan Martabat Bangsa

“Kalau dalam Ziarah Asyura yang kita baca setiap hari, khususnya pada bulan Muharram, kita mengatakan, ‘Ya Aba Abdillah, inni ataqarrabu ilallah wa ila rasulih wa ila amiril mu’minin wa ila Fatimah wa ilal Hasani wa ilaika bi muwalatik.’ Kita membaca itu ketika berziarah kepada Imam Husain a.s. Namun, alih-alih ingin mendapatkan kedekatan dengan Allah Swt., kita tidak membangun hubungan yang intens dengan Aba Abdillah al-Husain a.s. Maka sangat sulit bagi kita untuk mencapai taqarrub ilallah, sebagaimana yang sedang kita ikhtiarkan malam ini.”

Imam Husain a.s. sebagai Puncak Perlawanan Para Nabi

Lebih jauh dalam ceramahnya, Ustadz Ahmad Hidayat menjelaskan bahwa Imam Husain a.s. merupakan representasi utuh dari perjuangan para nabi terdahulu sekaligus puncak perlawanan terhadap kebatilan.

“Dan kita tahu bahwa ketika kita bertemu dengan Aba Abdillah al-Husain a.s., sebetulnya kita sedang berkumpul dan bertemu dengan para nabi dan rasul hingga Imam Shahib al-‘Ashr wa al-Zaman a.f. Dalam Ziarah Warits kita membaca, ‘Assalamu ‘alaika ya Waritsa Adama Shafwatillah, assalamu ‘alaika ya Waritsa Nuhin Nabiyyillah.’ Di situ kita menyebut bahwa Imam Husain a.s. adalah pewaris para nabi, mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad saw. Karena itu, Aba Abdillah al-Husain merupakan wujud dan representasi seluruh nabi dan rasul. Seluruh kepribadian para nabi terhimpun pada diri beliau. Sedemikian agungnya Majelis Muharram. Apa yang dilakukan para nabi dan rasul mencapai puncak kulminasinya pada diri Aba Abdillah al-Husain, yakni dalam seluruh bentuk perlawanan terhadap kezaliman.”

Menegaskan kembali makna perjuangan tersebut, Ustadz Ahmad kemudian menarik sebuah kesimpulan besar. Menurutnya, panggung perjuangan Imam Husain a.s. bukan sekadar menentukan arah sejarah Islam, tetapi juga menentukan keberlangsungan peradaban manusia.

“Panggung Aba Abdillah al-Husain adalah panggung perlawanan terhadap kezaliman demi tegaknya keadilan. Jika panggung ini roboh, maka tidak ada lagi kisah para nabi dan rasul, tidak ada lagi agama, bahkan tidak ada lagi keperluan Tuhan di muka bumi ini. Allah Swt. akan menutup jalannya peradaban manusia. Peradaban manusia terus berlanjut karena Aba Abdillah al-Husain mendirikan sebuah panggung tempat agama tetap berdiri kokoh hingga hari ini.”

Muharram Bukan Sekadar Ruang Ratapan

Di tengah berbagai infiltrasi pemikiran yang mengancam internal umat, menurut Ustadz Ahmad, Majelis Muharram tidak boleh berhenti pada ritualitas yang pasif. Momentum Asyura menuntut tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar meluapkan kesedihan secara emosional.

“Muharram harus kita lihat sebagai panggung yang menuntut tanggung jawab kita untuk menyuarakan suara Aba Abdillah al-Husain a.s. Tanpa keterlibatan kita, persoalan akan semakin rumit. Karena itu, Asyura bukan sekadar momentum tangis-tangisan. Peristiwa Asyura bukan paguyuban orang-orang yang hanya menangis. Memang kita harus menangis ketika mendengar bagaimana Imam Husain a.s. dicincang tubuhnya dan dipisahkan kepalanya dari jasadnya. Tetapi tangisan kita tidak boleh berhenti sampai di situ.”

Bagi Ustadz Ahmad, tangisan atas tragedi Karbala bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju lahirnya kesadaran yang mendorong keterlibatan nyata dalam perjuangan menegakkan nilai-nilai yang diperjuangkan Imam Husain a.s.

Kesadaran itulah yang kemudian menuntut setiap individu untuk masuk ke dalam sebuah tatanan yang terorganisasi. Dari titik ini, Ustadz Ahmad mengaitkan pengorbanan Imam Husain a.s. di Karbala dengan konsep wilayah (kepemimpinan) serta pentingnya menjadi bagian dari sebuah sistem.

“Karbala adalah tempat kita menginternalisasi kesadaran bahwa tidak ada lagi orang yang dapat mengatakan dirinya telah selesai tanpa terlibat dalam sistem yang sedang berjalan. Mengapa? Karena puncak perjalanan Imam Husain menuju Karbala hingga syahidnya merupakan kerja sistem dalam rentang kendali wilayah. Imam Ali Khamenei mengatakan, selama tidak ada imam, tidak bisa diklaim sebagai umat. Sebab, umat adalah kumpulan manusia yang masuk ke dalam sebuah sistem.”

Pengorganisasian sebagai Manifestasi Wilayah

Menegaskan pentingnya keterlibatan dalam sebuah sistem, Ustadz Ahmad Hidayat membedakan secara tegas antara organisasi sebagai bentuk kelembagaan dan pengorganisasian sebagai sebuah proses. Menurutnya, yang menentukan keberhasilan perjuangan bukanlah keberadaan organisasi semata, melainkan sejauh mana setiap individu mampu mengintegrasikan dirinya ke dalam sebuah sistem yang bekerja.

“Siapa pun yang bergerak tanpa terlibat dalam sistem pengorganisasian. Organisasi berbeda dengan pengorganisasian. Organisasi adalah bentuk, sedangkan pengorganisasian adalah proses ketika setiap orang mengintegrasikan dirinya ke dalam sebuah sistem. Dengan sistem itu, ia mengetahui tugas, peran, dan tanggung jawabnya, lalu menjalankannya dengan baik dan benar sehingga seluruh fungsinya sebagai hamba yang menunaikan taklif dapat terlaksana.”

Baca juga: Pidato Wakil Ketua Umum ABI Ustadz Ahmad Hidayat tentang Idul Adha

Beliau kemudian mengingatkan bahwa kegagalan untuk terlibat dalam proses pengorganisasian akan membawa konsekuensi historis. Menurutnya, siapa pun yang memilih berjalan sendiri pada akhirnya hanya akan menjadi beban, bahkan pecundang, dalam arus besar perubahan sejarah.

“Tanpa itu kita akan gagal. Tanpa terlibat dalam sistem yang sedang bekerja, yang disebut pengorganisasian, siapa pun yang berjalan sendiri, maaf saya harus mengatakan, kalau tidak menjadi beban sejarah peradaban, ia akan menjadi pecundang dalam sejarah peradaban. Maaf, ini tidak mengenal ulama, intelektual, atau ustadz. Korbannya sudah terlalu banyak sepanjang sejarah. Terlalu banyak mereka yang bersorban, mengaku intelektual, tetapi akhirnya menjadi pecundang dalam sistem pergerakan yang sedang menggeser dunia dari unipolar menuju multipolar. Dan itu sedang terjadi.”

Perubahan Geopolitik dan Tanggung Jawab Umat

Bagi Ustadz Ahmad, perubahan politik global dari tatanan unipolar menuju multipolar bukanlah sekadar teori geopolitik, melainkan realitas yang sedang berlangsung.

“Ketika geopolitik bergeser dari unipolar menuju multipolar dan pemain utamanya adalah Iran di bawah kepemimpinan Waliyyul Faqih, Sayyid al-Husaini Ayatullah al-Udzma Mujtaba Khamenei—semoga Allah menjaganya.”

Dari perubahan tersebut, beliau mengajukan pertanyaan mendasar kepada seluruh hadirin mengenai posisi dan tanggung jawab mereka dalam dinamika sejarah yang sedang berlangsung.

“Pertanyaannya, posisi kita di mana? Apa peran yang harus kita ambil? Ikhwan sekalian, karena itu Majelis Muharram adalah majelis tajdid al-bai’at; majelis untuk memperbarui kesetiaan, makrifat, keyakinan, dan intensitas kesadaran kita terhadap tugas serta tanggung jawab sebagai pribadi yang menghubungkan dirinya dengan sistem yang sedang bekerja di bawah kendali Wali Fakih.”

Wilayah sebagai Sistem

Untuk menjelaskan makna wilayah, Ustadz Ahmad menggunakan analogi salat berjamaah. Menurutnya, sebagaimana salat tidak dapat disebut berjamaah tanpa imam, demikian pula umat tidak akan terbentuk tanpa kepemimpinan dan sistem yang menyatukannya.

“Karena wilayah, makna lainnya adalah sistem, mekanisme, aturan, pola, hukum, dan ketentuan. Allah Swt. adalah pemilik wilayah. Allah menurunkan hukum, aturan, dan mekanisme yang diterjemahkan oleh Rasulullah saw., kemudian dijaga oleh para Imam, dan dilanjutkan oleh wakil Imam Mahdi a.f., yaitu Wali Fakih. Persis seperti orang salat yang tidak bisa disebut berjamaah tanpa imam. Tanpa imam, betapa pun mereka salat berombongan, tetap saja disebut salat sendiri-sendiri.”

Beliau kemudian menarik benang merah antara inspirasi Karbala, makrifat terhadap wilayah, dan pengorganisasian sebagai manifestasi praktis dari keduanya.

“Ikhwan sekalian, Karbala menginspirasi kita untuk menyadari bahwa hal pertama yang harus kita makrifati ketika hadir di Majelis Muharram adalah menyerap makna wilayah dan memasukkan diri kita ke dalamnya. Memakrifati wilayah berarti kita masuk ke dalam sebuah sistem pengorganisasian. Wujudnya adalah organisasi. Di dalam organisasi terdapat sebuah proses yang terus bekerja. Organisasi hanya akan bekerja apabila setiap elemennya merasa menjadi bagian yang terintegrasi, menjadi satu tim yang memahami peran dan tanggung jawabnya, serta mengetahui bagaimana menunaikan kewajiban yang berada di pundaknya. Barulah layak disebut bahwa kita telah menunaikan taklif.”

Taklif Sosial Membutuhkan Kesadaran Kolektif

Lebih lanjut, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa taklif memiliki dua dimensi, yaitu individual dan sosial. Menurutnya, ibadah personal memang dapat dilaksanakan secara sendiri-sendiri, tetapi perjuangan membangun peradaban tidak mungkin diwujudkan tanpa kerja kolektif.

Baca juga: #Podcast | Bersama Ustadz Ahmad Hidayat: Indonesia di Board of Peace (BOP) dan Ujian Arah Politik Luar Negeri

“Taklif kita ada dua bentuk, yaitu individual dan sosial. Mungkin kita bisa menyelesaikan urusan salat kita sendiri, berwudu dengan benar, memahami hukum salat, puasa, zakat, haji, dan umrah. Semua itu bersifat personal. Tetapi bagaimana seluruh ibadah personal itu memberi dampak sosial? Sebab, kehidupan sosial bergerak secara nyata melalui sistem yang bekerja di luar diri kita. Jika kita menghadapi sistem besar yang dapat menggilas kita, lalu kita memilih berdiri sendirian, percayalah, kalau tidak dipecundangi maka kita akan menjadi pecundang. Tujuan diturunkannya agama dan diutusnya para nabi bukan hanya membangun kesadaran individual, melainkan juga membangun kesadaran kolektif demi terwujudnya peradaban yang terpimpin. Untuk itulah Aba Abdillah al-Husain meninggalkan Madinah, menuju Makkah, kemudian syahid di Karbala.”

Oleh karena itu, menurut beliau, tujuan akhir mengikuti madrasah Muharram bukan sekadar memperoleh pengalaman spiritual, melainkan melahirkan karakter yang partisipatif dan siap mengambil peran dalam perjuangan bersama.

“Menyadari dan meyakini semua ini, semestinya kita keluar dari sepuluh hari Madrasah Karbala bukan lagi sebagai orang yang merasa cukup bergerak sendirian. Keluar dari madrasah ini harus terbangun dalam diri kita kesadaran kolektif dan partisipatif. Karena setiap kita memiliki kelemahan, setiap kita dha’if, setiap kita tidak memiliki apa-apa. Tidak ada yang layak kita persembahkan sebagai individu. Memangnya apa modal kita sebagai individu untuk dibawa ke hadapan Rasulullah SAW?”

Karb wa Bala’ sebagai Ujian Sikap

Menjelang akhir ceramahnya, Ustadz Ahmad Hidayat mengajak seluruh jemaah untuk melakukan refleksi yang jujur di hadapan Imam Aba Abdillah al-Husain a.s. Pertanyaan tentang posisi dan peran, menurut beliau, bukan sekadar renungan intelektual, melainkan ukuran sejauh mana seseorang telah menjadikan Karbala sebagai pedoman hidup.

“Ikhwan sekalian, jika demikian adanya, pertanyaannya saya ulangi, posisi kita di mana? Peran apa yang hendak kita ambil setelah Asyura ini? Mari kita definisikan dan identifikasi diri kita dengan baik di hadapan Aba Abdillah al-Husain.”

Menurut beliau, ketidakjelasan dalam menentukan posisi sejatinya merupakan bentuk Karb wa Bala’ yang dihadapi setiap manusia. Karena itu, doa Imam Husain a.s. ketika memasuki Karbala tidak hanya menjadi doa historis, tetapi juga menjadi pelajaran bagi setiap mukmin agar mampu bersikap tegas dalam memilih antara kebenaran dan kebatilan.

“Imam Husain a.s., pada hari pertama memasuki Karbala, mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Ya Allah, lindungi aku dari Karb wa Bala’. Maksud doa ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga meninggalkan pesan bahwa Karb wa Bala’ akan selalu hadir dalam kehidupan kita. Ketika kita dihadapkan pada dua pilihan yang membuat kita bimbang untuk menetapkan mana kebenaran yang harus diperjuangkan dan mana kezaliman yang harus ditinggalkan secara total, atau ketika kita memilih mengambang di antara hak dan batil sehingga tidak memiliki ketegasan dalam sikap hidup.”

Karbala yang Terus Berulang

Bagi Ustadz Ahmad, Karb wa Bala’ bukan hanya nama sebuah tempat atau peristiwa sejarah. Ia merupakan ujian yang terus hadir dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, ungkapan kullu yaumin ‘Asyura wa kullu ardhin Karbala bukan sekadar slogan, melainkan panggilan agar setiap orang tetap teguh berpihak kepada kebenaran.

“Dalam kehidupan ini, setiap hari kita berhadapan dengan Karbala dan kemungkinan untuk bimbang di dalamnya. Karena itu kita mengatakan, kullu yaumin ‘Asyura wa kullu ardhin Karbala. Lalu kita bertahan pada pilihan kita terhadap kebenaran dan mempertaruhkan diri kita demi kebenaran itu, apa pun risikonya. Sementara begitu banyak godaan di luar sana yang membuat kita ragu, takut, dan khawatir. Inilah Karbala yang harus kita tangisi dalam diri kita.”

Baca juga: ABI dan ITB Ahmad Dahlan Jajaki Kerja Sama Beasiswa dan Kolaborasi Ekonomi

Dari Ratapan Menuju Gerakan

Ustadz Ahmad kemudian mengajak hadirin melihat makna tangisan Asyura dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, ratapan atas tragedi Karbala bukanlah ekspresi emosional yang berhenti pada kesedihan, melainkan energi yang membangkitkan kesadaran untuk ikut terlibat dalam perjuangan melawan kezaliman.

“Ikhwan sekalian, ada yang menarik untuk kita renungkan bersama. Ketika peristiwa ini masuk ke dalam kesadaran emosional kita yang paling dalam, lalu menyentuh perasaan kita sehingga kita berbelasungkawa dengan tangisan dan memukul dada, sesungguhnya kita sedang mempercepat detak jantung perjuangan kita di hadapan berbagai peristiwa yang sedang terjadi. Dengan begitu, diri kita menjadi lebih progresif dan lebih aktif dalam membela Aba Abdillah al-Husain, yang wujudnya adalah perlawanan terhadap Zionis, dan kita mengambil bagian di dalamnya.”

Beliau menjelaskan bahwa ungkapan duka atas kesyahidan Imam Husain a.s. merupakan sarana membangunkan kembali sel-sel kesadaran yang telah lama mati akibat kelalaian dan ketidakpedulian terhadap perjuangan agama.

“Tepuk dada tidak berhenti sebagai ungkapan belasungkawa. Ia menggerakkan seluruh sel-sel dalam diri kita yang mati, yang kehilangan momentum, yang tidak siap bergerak, yang malas, yang tidak peduli, yang kehilangan kepekaan terhadap matinya dakwah agar kembali hidup dan berkembang di tengah kehidupan kita.”

“Labbaika Ya Husain” sebagai Manifestasi Kesadaran

Ketika kesadaran itu hidup kembali, menurut Ustadz Ahmad, seruan Labbaika Ya Husain tidak lagi berhenti sebagai slogan, tetapi menjelma menjadi energi yang memperkuat kerja kolektif umat.

“Labbaika Ya Husain memberikan resonansi pada kepribadian kita, pada kemampuan kita membangun sistem, memperkuat kerja sama, mempererat hubungan, dan memperbaiki dakwah. Dengan begitu, dampaknya akan terasa. Kerja Zionis dapat dihentikan seiring semakin kuatnya majelis-majelis kita. Husainiyah semakin efektif, semakin semarak, dan semakin hidup. Itu menjadi pertanda bahwa suara Aba Abdillah al-Husain a.s. telah menyusup ke dalam lapisan paling dasar kesadaran kita.”

Ketulusan sebagai Simpul Kekuatan

Menutup ceramahnya, Ustadz Ahmad Hidayat menegaskan bahwa keberhasilan perjuangan melawan kezaliman pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas moralitas dan ketulusan umat. Menurut beliau, jawaban atas seruan Labbaika Ya Husain tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui akhlak dan kerja nyata.

“Ikhwan sekalian, Muharram harus menjadi panggung bagi kita semua untuk meneriakkan perlawanan terhadap hegemoni kejahatan. Muharram membangun kesadaran yang paling dalam, yaitu ketulusan dan moralitas. Simpul kekuatan kita setelah menjawab Labbaika Ya Husain terletak pada ketulusan dan moralitas. Moralitas atau akhlak di sini bukan sekadar sopan santun, melainkan kemampuan mengalahkan seluruh hal yang menghambat kita dalam menempuh jalan kebenaran. Akhlak adalah ketika kita mampu memastikan bahwa seluruh gerak dan kinerja kita benar-benar menjadi jawaban atas panggilan Aba Abdillah al-Husain a.s.” []

Baca juga: Ustadz Husain Alkaf Serukan Penguatan Syiah Indonesia dalam Bingkai Kebangsaan