Kegiatan ABI
LI ABI Disiapkan sebagai Rumah Permanen Kemandirian Ekonomi Komunitas

Jakarta, 18 Agustus 2026 – Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI), Ali Reza Baraghbah, menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi komunitas harus menjadi agenda strategis untuk membangun kemandirian organisasi dan masyarakat. Dalam sosialisasi Lembaga Inkubasi ABI atau LI ABI pada Senin (17/8/2026), Ali Reza menyebut lembaga tersebut dirancang sebagai wadah permanen untuk mengintegrasikan potensi ekonomi kader dan anggota ABI yang selama ini berkembang secara individual.
Dalam rangkaian momentum bulan Rabiul Awal, Ali Reza mengajak seluruh kader memperbarui kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dan Ahlul Baitnya, meneladani akhlak mereka, serta mempersiapkan diri menjadi pengikut yang setia dalam menyambut keadilan Imam Zaman a.f.
Baca juga: DPP ABI, Pimnas Muslimah, dan Pandu Teken Kesepakatan Perkuat Ekonomi Berbasis Pendidikan
Ali Reza juga menyampaikan penghormatan kepada jajaran pimpinan Departemen Pemberdayaan Ekonomi di tingkat DPW dan DPD, unsur pimpinan wilayah dan daerah, Pimnas Muslimah, Pimwil dan Pimcab beserta jajaran, serta Pimnas dan Pimwil Pandu beserta seluruh jajaran dan perwakilan yang mengikuti kegiatan tersebut.
Menurut Ali Reza, perubahan cepat dalam teknologi, ekonomi, dan sosial menuntut organisasi kemasyarakatan mengembangkan cara baru dalam mengelola potensi umat. Organisasi tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan spiritual dan sosial, tetapi juga perlu menghadirkan solusi ekonomi yang nyata, profesional, dan berkelanjutan bagi anggota.
ABI memiliki potensi ekonomi yang besar melalui pelaku usaha, profesional, akademisi, kader organisasi, serta struktur organisasi di berbagai wilayah. Namun, potensi tersebut belum terhimpun dalam sistem kelembagaan yang terintegrasi. Akibatnya, berbagai aktivitas ekonomi masih berjalan sendiri-sendiri, sementara data potensi ekonomi belum tersedia secara menyeluruh, pendampingan usaha belum optimal, dan mekanisme untuk mendorong pertumbuhan usaha anggota belum tersusun secara sistematis.
Kondisi tersebut menjadi dasar pembentukan LI ABI. Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI merancang lembaga ini sebagai rumah permanen yang profesional dan berkelanjutan bagi pengembangan potensi ekonomi komunitas, sekaligus sebagai sarana untuk memperkuat pendampingan usaha, membangun jejaring pendanaan, dan membuka akses akselerasi bisnis.
Baca juga: DPP ABI Luncurkan Lembaga Inkubasi, Sekolah Bisnis Jadi Program Perdana
LI ABI tidak dirancang sebagai inkubator bisnis konvensional yang berorientasi pada laba. Lembaga ini dikembangkan sebagai model inkubasi komunitas yang memadukan profesionalisme bisnis modern dengan kekuatan komunitas, kaderisasi ekonomi, dan jejaring kemitraan.
Model tersebut dirumuskan dengan mempelajari berbagai praktik terbaik dari inkubator pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan organisasi masyarakat lain, kemudian disesuaikan dengan karakter serta nilai organisasi ABI.
Secara kelembagaan, LI ABI ditempatkan sebagai lembaga otonom di bawah pembinaan langsung Departemen Pemberdayaan Ekonomi DPP ABI. Posisi tersebut memberikan fleksibilitas dalam operasional sekaligus menjaga lembaga tetap berada dalam garis kebijakan strategis organisasi.
Lembaga ini dibangun di atas lima nilai utama, yaitu Muqawamah atau ketangguhan, Al-Adalah atau keadilan, Taawun atau kolaborasi, Ibtikar atau inovasi, serta Istidamah atau keberlanjutan. Kelima nilai tersebut menjadi landasan moral dan budaya kerja LI ABI.
Dalam model hibridanya, LI ABI menjalankan empat fungsi. Pertama, Forger atau pembentuk, melalui Sekolah Bisnis ABI dan pelatihan tematik untuk membangun kader ekonomi yang memiliki kemampuan kewirausahaan sekaligus jiwa kader.
Kedua, Builder atau pembangun, melalui pendampingan usaha yang mencakup pengembangan ide, model bisnis, produk, legalitas, manajemen keuangan, dan digitalisasi.
Ketiga, Matchmaker atau penghubung, dengan mempertemukan tenant atau pengusaha binaan dengan mentor, akademisi, investor, lembaga keuangan, pasar, dan mitra strategis dari lingkungan internal maupun eksternal.
Baca juga: DPP ABI Serap Pengalaman Daerah, Sulsel Jadi Laboratorium Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Komunitas
Keempat, Accelerator atau percepatan, melalui akses pembiayaan, penguatan tata kelola, peningkatan kapasitas produksi, serta perluasan pasar di tingkat nasional dan global.
Ali Reza menegaskan bahwa keberhasilan LI ABI tidak dapat bertumpu pada Departemen Pemberdayaan Ekonomi maupun lembaga tersebut sendiri. Keterlibatan seluruh unsur ABI, mulai dari pimpinan DPP dan pengurus wilayah hingga anggota yang memiliki potensi kewirausahaan, menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang diharapkan.
LI ABI membawa visi membangun ekosistem ekonomi komunitas yang profesional, kolaboratif, berbasis nilai, dan berkelanjutan. Melalui lembaga ini, potensi ekonomi yang selama ini tersebar di berbagai lapisan ABI diharapkan berkembang menjadi kekuatan kolektif yang lebih terorganisasi dan mampu menopang kemandirian organisasi serta kesejahteraan umat. []
Baca juga: Litbang DPP ABI Kembangkan Repositori Ilmiah untuk Perkuat Ekosistem Riset Ahlul Bait Indonesia







