Ikuti Kami Di Medsos

Nasional

Arbain Imam Husain dan Kesadaran Kolektif

Published

on

Ustadz Zahir bin Yahya menyampaikan ceramah Arba'in Imam Husain di Yayasan Alqurba, Pasuruan, dengan tema "Kesadaran Kolektif" sebagai fondasi keberlanjutan perjuangan dan semangat Ishlah.
Ceramah Arba'in Imam Husain oleh Ustadz Zahir bin Yahya di Yayasan Alqurba mengangkat tema "Kesadaran Kolektif". (Dok. ABI)

Ditulis oleh: Muhsin Almuhdor

Ahlulbait Indonesia, 4 Agustus 2026 – Pada ceramah agama dalam rangka Arba’in Imam Husain as. yang diselenggarakan di Yayasan Alqurba, Suwayuwo, Pasuruan, Selasa (4/8/2026), Ustadz Zahir bin Yahya menyampaikan tema tentang kesadaran kolektif. Dalam uraiannya, beliau menjelaskan bahwa kekuatan sebuah perjuangan tidak hanya bergantung pada sosok pemimpin, tetapi juga bertumpu pada tumbuhnya kesadaran, kepedulian, dan partisipasi umat secara kolektif.

Baca juga: Peringati Arba’in Imam Husain, DPW ABI NTB Gelar Donor Darah Bersama PMI

Dalam konteks Arba’in, pesan tersebut mengingatkan kita pada perjuangan Imam Husain as. di Karbala. Salah satu pelajaran terpenting dari Madrasah Karbala adalah prinsip Ishlah (الإصلاح), yaitu menghadirkan perbaikan bagi umat. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Husain as.:

«إِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشِرًا وَلَا بَطِرًا وَلَا مُفْسِدًا وَلَا ظَالِمًا، وَإِنَّمَا خَرَجْتُ لِطَلَبِ الْإِصْلَاحِ فِي أُمَّةِ جَدِّي.»

“Sesungguhnya aku tidak keluar karena kesombongan, keangkuhan, membuat kerusakan, ataupun berbuat zalim. Aku keluar hanyalah untuk mengupayakan Ishlah (perbaikan) di tengah umat kakekku.”

Dari prinsip Ishlah inilah lahir kesadaran kolektif. Karbala mengajarkan bahwa perjuangan tidak hanya membutuhkan seorang pemimpin yang saleh, tetapi juga umat yang sadar, bertanggung jawab, dan siap memikul amanah perjuangan. Para sahabat Imam Husain as. memahami risiko yang mereka hadapi, namun tetap memilih berdiri bersama kebenaran hingga titik darah penghabisan.

Beliau juga menyinggung semangat muqawamah (perlawanan) yang ditunjukkan oleh rakyat Iran dalam menghadapi agresi, serta menjadikan wafatnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Zionis Israel, sebagai bahan renungan bahwa perjuangan tidak boleh berhenti hanya karena kehilangan seorang pemimpin. Justru pada saat itulah kesadaran kolektif umat diuji agar nilai-nilai Islam dan semangat Ishlah tetap hidup serta berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca juga: Peringatan Arbain Imam Husain di Samarinda Gaungkan Semangat Persatuan, Keadilan, dan Cinta Tanah Air

Meskipun kajian tersebut merupakan ceramah keagamaan yang bersifat umum dan tidak secara khusus membahas organisasi tertentu, pesan yang disampaikannya sangat relevan untuk direnungkan bersama sebagai bagian dari keluarga besar Ahlulbait Indonesia (ABI).

Apabila setiap anggota memiliki rasa memiliki, kepedulian, dan kesediaan untuk mengambil peran sesuai kapasitasnya, organisasi tidak akan bergantung pada satu atau beberapa orang saja. Dengan demikian, keberlangsungan dakwah, pelayanan, dan pengabdian kepada umat akan tetap terjaga dalam keadaan apa pun.

Semoga momentum Arba’in menjadi pengingat bahwa menjadi pengikut Imam Husain as. bukan hanya berarti menangisi Karbala, tetapi juga mewarisi semangat Ishlah, membangun kesadaran kolektif, serta senantiasa menghadirkan perbaikan di tengah umat sesuai dengan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada kita. []

Baca juga: Dari Media Sayyidah Zainab s.a, ke Media Kita