Lifestyle
Dari Media Sayyidah Zainab s.a, ke Media Kita

Oleh: Ustadzah Rabiatul Adawiyah
Sekretaris Pimwil Muslimah Jatim
Ahlulbait Indonesia, 4 Agustus 2026 – Setiap kali mengenang peristiwa Karbala, selain tertuju pada perjuangan Imam Husain a.s, di medan perang, perhatian kita juga mengarah kepada Sayyidah Zainab s.a, sosok yang memastikan pengorbanan Karbala tidak terkubur oleh propaganda penguasa.
Setelah Imam Husain a.s, dan para syuhada gugur, Sayyidah Zainab s.a, bersama Imam Ali Zainal Abidin a.s, memikul amanah untuk menyampaikan kepada umat apa yang sebenarnya terjadi di Karbala. Di tengah duka yang mendalam, kehilangan orang-orang tercinta, dan perjalanan panjang sebagai tawanan, beliau tidak membiarkan kebenaran tenggelam. Melalui khutbah-khutbahnya di Kufah dan Damaskus, beliau membongkar kebohongan pemerintahan Yazid dan membangkitkan kesadaran umat tentang tujuan mulia kebangkitan Imam Husain a.s,.

Shrine of Hazrat Bibi Zainab (s.a.) in Dimashq Syria.
Peran inilah yang membuat banyak ulama menyebut Sayyidah Zainab s.a, sebagai penyampai risalah Karbala. Jika Imam Husain a.s, mempertahankan Islam dengan darahnya, makaSayyidah Zainab a.s, menjaga agar pesan pengorbanan itu tetap hidup melalui lisan dan penjelasannya.
Baca juga: Kesabaran Sayyidah Zainab, Fondasi Tradisi Kesyahidan dan Kebangkitan Publik
Yang menarik untuk direnungkan adalah keadaan beliau saat itu. Sayyidah Zainab s.a, bukanlah seorang yang bebas. Beliau adalah seorang tawanan. Geraknya dibatasi, tidak memiliki fasilitas, dan seluruh keadaan seolah ingin membungkam suaranya. Beliau tidak memiliki kamera, mikrofon, surat kabar, apalagi media sosial sebagaimana yang kita miliki saat ini. Namun, keterbatasan itu tidak pernah menghalangi beliau untuk menjalankan misinya.
Dari sini kita belajar bahwa yang paling menentukan bukanlah banyak atau sedikitnya sarana yang dimiliki, melainkan ada atau tidaknya kemauan untuk menyampaikan kebenaran dan menghadirkan manfaat.
Berbeda dengan masa Sayyidah Zainab s.a, kita hidup pada zaman ketika hampir setiap orang memiliki media di genggamannya. Melalui sebuah telepon pintar, kita dapat menulis, berbagi ilmu, membuat video, menyebarkan inspirasi, bahkan menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik. Kesempatan yang dahulu tidak pernah terbayangkan kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, kemudahan itu tidak selalu diiringi dengan pemanfaatan yang maksimal. Tidak sedikit waktu yang habis untuk menikmati berbagai konten yang tidak menambah ilmu, tidak menguatkan iman, bahkan tidak membawa manfaat. Padahal, media yang sama dapat digunakan untuk menyebarkan ilmu, meluruskan informasi, menguatkan persaudaraan, mengangkat nilai-nilai Islam, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Sayyidah Zainab Mendeklarasikan Pengorbanan Imam Husain
Menikmati karya orang lain tentu bukan sesuatu yang salah, apalagi jika karya tersebut memberikan ilmu, inspirasi, dan motivasi. Namun, akan sangat disayangkan jika kita hanya berhenti menjadi penikmat, terlebih ketika yang kita nikmati justru konten-konten yang melalaikan dan tidak bernilai. Di tengah begitu besarnya peluang untuk berkarya, setiap orang sebenarnya memiliki kesempatan untuk ikut menghadirkan manfaat, meskipun dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menulis satu paragraf yang menginspirasi, membuat desain dakwah, menerjemahkan ilmu, membagikan informasi yang benar, atau menyebarkan pesan-pesan yang menumbuhkan persatuan.
Media pada hakikatnya hanyalah sebuah sarana. Nilainya tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, melainkan oleh tujuan dan isi yang kita hadirkan melalui media tersebut. Di tangan orang yang memiliki kemauan untuk berbuat baik, media menjadi jalan tersebarnya ilmu dan amal jariyah. Sebaliknya, tanpa arah yang benar, media hanya akan menghabiskan waktu tanpa meninggalkan manfaat.
Keteladanan Sayyidah Zainab s.a, mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu bergantung pada besarnya fasilitas yang dimiliki. Yang lebih penting adalah kemauan untuk memanfaatkan apa yang ada di tangan kita demi membela kebenaran dan menghadirkan kemaslahatan.
Jika seorang tawanan mampu menjaga agar pesan Karbala tetap hidup sepanjang zaman dengan segala keterbatasannya, maka kita yang hidup dalam kebebasan, dengan berbagai fasilitas dan teknologi yang jauh lebih lengkap, tentu memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadikan media sebagai jalan menyebarkan ilmu, menjaga persatuan, memperkuat nilai-nilai Islam, dan menghadirkan manfaat bagi umat.
Semoga media yang kita miliki tidak hanya menjadi tempat melihat berbagai informasi, tetapi juga menjadi wasilah lahirnya karya-karya yang bermanfaat, yang kelak menjadi saksi bahwa kita pernah mengambil bagian dalam menyebarkan kebenaran. []
Baca juga: Tiga Sifat Mulia Sayyidah Zainab a.s. yang Harus Diteladani







