Perspektif ABI
Taslim sebagai Fondasi Wilayah dalam Ujian Membersamai Imam

Jakarta, 25 Mei 2026 — Naskah ini merupakan adaptasi dari ceramah sambutan Ketua Umum Ahlulbait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, yang disampaikan dalam rapat reguler pada Selasa, 19 Mei 2026 di Kantor Dewan Pimpinan Pusat ABI, Jakarta. Ceramah ini merupakan refleksi atas syahadah Imam Muhammad al-Jawad a.s.
Setelah menyampaikan bela sungkawa dan rasa duka yang mendalam atas syahadah Imam Muhammad al-Jawad a.s. yang baru diperingati pada 29 Zulqaidah bertepatan dengan 17 Mei lalu, Ustadz Zahir juga menyampaikan tahniah kepada seluruh hadirin serta kaum muslimin dan muslimat atas pernikahan dua manusia suci, Imam Ali bin Abi Thalib a.s. dan Sayyidah Fatimah az-Zahra s.a.
“Semoga rumah tangga Imam Ali a.s. dan Sayyidah Fatimah s.a. menjadi teladan yang terus bisa kita ambil pelajarannya.”
Baca juga: Ustadz Zahir Yahya: Perang Iran Hari Ini, dari Sabda Imam Ali ke Strategi Imam Ridha
Ujian Terbesar: Membersamai Imam
Saya tertarik menyoroti syahadah Imam Muhammad al-Jawad a.s. dan kaitannya dengan kehidupan kita sebagai umat Syiah. Sebab, sangat banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan hidup beliau secara keseluruhan.
Teman-teman sekalian, mungkin beberapa kali saya sampaikan bahwa ujian terbesar bagi para pengikut Ahlul Bait a.s. adalah ujian membersamai wali dan pemimpin. Ujian berwilayah adalah ujian terbesar dalam kehidupan keberagamaan kita.
Memang benar kita diuji dengan berbagai kewajiban agama seperti ibadah dan yang lainnya. Namun, di antara seluruh kewajiban tersebut, kewajiban untuk tetap bersama imam dalam seluruh situasi dan keadaan adalah ujian yang paling berat.
Mengapa? Karena untuk tetap membersamai imam dibutuhkan amunisi ruhani yang sangat besar, terutama kepasrahan untuk tetap patuh kepada imam dalam seluruh kondisi. Situasi itu bisa berupa perang, bisa berupa damai, dan bisa pula berupa keadaan-keadaan lain ketika apa yang dikehendaki imam tidak selalu sama dengan apa yang kita pahami.
Baca juga: Ketua Umum ABI: “Bersama Ormas ABI, Meniti Jalan Taklif, Menggapai Ridha Allah SWT”
Di situlah letak hakikat kepatuhan. Ketika seseorang mengikuti sesuatu yang memang sesuai dengan nalarnya, tentu hal itu menjadi mudah. Pada dasarnya, ia seperti sedang mengikuti dirinya sendiri.
Namun, kepatuhan kepada imam sering kali berkaitan dengan hal-hal yang belum tersingkap sepenuhnya bagi kita. Tidak semua rahasia di balik perintah, larangan, ataupun sikap imam langsung dapat dipahami.
Perdamaian Imam Hasan a.s., misalnya, ditolak sebagian pengikutnya. Sebaliknya, ketika Imam Husain a.s. memilih jalan perlawanan, ada pula yang merasa bahwa saat itu belum waktunya untuk berperang.
Karena itu, jalan wilayah bukanlah jalan yang selalu mudah dipahami secara rasional. Ada saat-saat ketika yang dituntut dari seorang mukmin bukan hanya sekedar pemahaman, melainkan taslim.
Imam Muda dan Ujian Keimanan
Di antara faktor yang menyebabkan beratnya ujian membersamai imam adalah apa yang terjadi pada masa Imam Muhammad al-Jawad a.s., yaitu ketika umat Syiah dihadapkan pada kenyataan hadirnya seorang imam dalam usia yang sangat muda.
Kita mengetahui bahwa di antara dua belas imam terdapat setidaknya tiga imam yang menjadi imam dalam usia sangat muda. Yang pertama adalah Imam Muhammad al-Jawad a.s., yang menggantikan Imam Ali ar-Ridha a.s. pada usia sekitar delapan tahun. Imam Ali al-Hadi a.s. juga menjadi imam pada usia yang kurang lebih sama. Bahkan puncaknya adalah Imam Mahdi a.f., Shahib az-Zaman, yang menjadi imam pada usia sekitar lima tahun.
Baca juga: Pesan Strategis Ketua Dewan Syura ABI kepada DPP Ahlulbait Indonesia pada Rapat Pleno 2025
Kenyataan ini menjadi ujian besar bagi sebagian orang yang gagal membersamai imam. Mereka kesulitan menerima kepemimpinan seorang anak kecil. Dan sebagaimana saya katakan, ujian ini mulai tampak secara nyata sejak masa Imam Muhammad al-Jawad a.s.
Sebagian umat Syiah saat itu mengalami keguncangan besar. Meskipun sebelumnya mereka mengetahui bahwa Imam ar-Ridha a.s. telah menunjuk putranya sebagai penerus, tetap saja ada yang tidak mampu menerima kepemimpinan seorang anak berusia delapan tahun.
Menariknya, sejarah menyebutkan bahwa latar belakang utama penolakan sebagian orang terhadap Imam al-Jawad a.s. sebenarnya bersifat materialistis.
Kita mengenal kelompok Waqifiyah, yaitu kelompok yang menghentikan rangkaian imamah pada Imam Musa al-Kazhim a.s. Beberapa tokoh kelompok ini sebelumnya adalah wakil Imam Musa al-Kazhim a.s. yang memiliki otoritas tertentu, termasuk mengelola dana syar’i atas nama imam.
Karena Imam Musa al-Kazhim a.s. banyak menghabiskan hidupnya di penjara, sebagian tugas beliau dijalankan oleh para wakil tersebut. Ketika beliau syahid, sebagian dari mereka berusaha mempertahankan posisi dan pengaruh yang telah dimiliki.
Baca juga: Pidato Waketum ABI: Semangat Kepahlawanan dan Pengabdian Berintegritas di Era Modern
Situasi itu diperkuat oleh kenyataan bahwa Imam Ali ar-Ridha a.s. hingga usia sekitar 47 tahun belum memiliki anak laki-laki. Mereka lalu menjadikan hal itu sebagai alasan untuk mengatakan bahwa rangkaian imamah telah berhenti pada Imam Musa al-Kazhim a.s.
Namun Imam ar-Ridha a.s. menegaskan bahwa beliau akan dianugerahi seorang putra. Dan benar, kemudian lahirlah Imam Muhammad al-Jawad a.s., yang disebut beliau sebagai anak penuh berkah dan penerusnya.
Meski alasan sebelumnya telah gugur, mereka tetap menolak. Bedanya, alasan mereka berubah. Jika sebelumnya karena Imam ar-Ridha a.s. dianggap tidak memiliki penerus, maka setelah Imam al-Jawad a.s. lahir mereka mempersoalkan usia beliau yang masih terlalu muda.
Padahal mayoritas umat Syiah tetap teguh dalam keyakinannya.
Keteladanan Imam Ali al-Uraidhi
Salah satu contoh paling terkenal adalah sikap Imam Ali al-Uraidhi, putra Imam Ja’far ash-Shadiq a.s., paman Imam Musa al-Kazhim a.s., sekaligus kakek buyut Imam Muhammad al-Jawad a.s.
Dalam sejarah disebutkan bahwa Imam Ali al-Uraidhi, yang saat itu telah berusia sekitar 90 tahun, menunjukkan penghormatan luar biasa kepada Imam al-Jawad a.s.
Ketika Imam al-Jawad a.s. memasuki majelis, beliau berdiri dan tidak duduk sampai sang imam duduk terlebih dahulu. Bahkan ketika Imam al-Jawad a.s. hendak keluar, beliau sendiri yang bergegas menyiapkan sandal beliau.
Sebagian murid memprotes sikap tersebut. Namun Imam Ali al-Uraidhi menjawab dengan tegas bahwa jika Allah tidak menganggap dirinya layak menjadi imam meski telah berusia tua, lalu apa haknya menolak seorang imam yang telah dipilih Allah hanya karena usianya masih muda?
Sikap ini menunjukkan ketulusan dan taslim yang luar biasa.
Baca juga: Ketua Umum Tegaskan ABI Harus Berani Menjadi Organisasi Leading
Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an
Teman-teman sekalian, persoalan imam berusia muda sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam Al-Qur’an. Bahkan sebelum masa Imam al-Jawad a.s., Al-Qur’an telah menceritakan para nabi yang menerima kedudukan kenabian sejak usia sangat muda.
Nabi Isa a.s., misalnya, berbicara ketika masih bayi:
قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِۗ اٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّاۙ
Beliau berkata: “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku kitab dan menjadikanku seorang nabi.” (QS. Maryam [19]: 30)
Begitu pula Nabi Yahya a.s., yang disebut Al-Qur’an telah diberi hikmah sejak masa kecil:
وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
“Kami menganugerahkan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak.” (QS. Maryam [19]: 12)
Dengan demikian, Al-Qur’an sendiri telah menunjukkan bahwa usia biologis bukan ukuran utama dalam kedudukan spiritual.
Baca juga: Refleksi Dewan Penasihat ABI pada Rapat Pleno DPP ABI 2025
Kehidupan Manusia Melampaui Dunia
Lebih jauh lagi, jawaban atas persoalan ini berkaitan dengan cara Islam memandang kehidupan manusia. Islam tidak memandang bahwa kehidupan manusia dimulai sejak lahir di dunia dan berakhir dengan kematian.
Manusia hidup di banyak alam: sebelum dunia, di dunia, di alam barzakh, hingga akhirat. Kehidupan di berbagai alam itu bersifat korelatif, saling terkait, dan saling memengaruhi.
Karena itu, apa yang kita lihat di dunia bukanlah keseluruhan proses kehidupan manusia. Bisa jadi seseorang tampak masih kecil di dunia, tetapi telah menempuh kesempurnaan besar dalam alam-alam sebelumnya.
Maka ketika kita melihat Imam Muhammad al-Jawad a.s. sebagai anak berusia delapan tahun, itu hanyalah ukuran duniawi. Dalam perspektif hakikat kehidupan, beliau adalah sosok yang telah mencapai kesempurnaan spiritual yang sangat tinggi.
Itulah sebabnya usia duniawi tidak menjadi ukuran utama dalam kepemimpinan para imam.
Dengan cara pandang seperti ini, berbagai kemuliaan manusia tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang hadir secara acak atau kebetulan. Kehidupan manusia dalam Islam merupakan rangkaian proses panjang yang saling berkaitan.
Al-Qur’an sendiri memberi isyarat tentang adanya kehidupan sebelum dunia, ketika Allah mengambil kesaksian dari ruh manusia:
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami)” (QS. Al-A‘raf [7]: 172)
Artinya, ada proses panjang yang telah dilalui manusia sebelum memasuki kehidupan dunia. Karena itu, kesempurnaan seseorang tidak hanya dibentuk oleh apa yang ia lakukan di dunia ini, tetapi juga berkaitan dengan perjalanan ruhani yang lebih luas dalam sistem penciptaan Allah.
Baca juga: Kiprah Strategis ABI: Membendung Infiltrasi, Merawat Harmoni Bangsa
Keluasan Ilmu Imam al-Jawad a.s.
Sejarah membuktikan keluasan ilmu Imam Muhammad al-Jawad a.s., bahkan di hadapan para ulama besar istana Abbasiyah.
Beliau kemudian dipaksa menikah dengan putri al-Ma’mun dalam sebuah pernikahan politis. Setelah itu, beliau dipaksa tinggal di Baghdad hingga akhirnya disyahidkan pada usia 25 tahun oleh istrinya sendiri, Ummul Fadhl, atas rekayasa kekuasaan Abbasiyah.
Salah satu peristiwa terkenal yang menjadi awal konspirasi pembunuhan beliau adalah ketika khalifah mengumpulkan para qadhi dan ulama untuk membahas hukum potong tangan pencuri.
Masing-masing ulama memberikan jawaban berbeda. Ada yang mengatakan sampai siku, ada pula yang mengatakan sampai pergelangan tangan.
Ketika Imam al-Jawad a.s. diminta berpendapat, beliau menjelaskan bahwa yang dipotong hanyalah jari-jari, sementara telapak tangan tetap dibiarkan.
Alasannya karena telapak tangan termasuk anggota sujud yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai masajid, yaitu anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud kepada Allah dan tidak boleh dihilangkan.
Jawaban itu membuat seluruh ulama istana terdiam dan merasa dipermalukan. Dari situlah permusuhan terhadap beliau semakin memuncak hingga akhirnya berujung pada syahadah beliau.
Baca juga: Sambutan Dewan Pakar ABI, Sayyid Naufal Ali, pada Rapat Pleno DPP ABI 2025
Taslim sebagai Fondasi Wilayah
Intinya, teman-teman sekalian, jalan wilayah adalah jalan yang penuh ujian. Tidak semua hal dalam agama dapat langsung kita pahami secara sempurna.
Karena itu, unsur terpenting dalam keberagamaan adalah taslim: kepasrahan kepada Allah dan kepada otoritas yang sah yang ditunjuk-Nya. Selama seseorang telah meyakini siapa pemimpinnya, maka tugasnya adalah mengikuti, meskipun belum seluruh hikmah di balik perintah itu tersingkap baginya.
Taslim adalah ciri utama para pengikut setia Ahlul Bait a.s. Dan itulah yang seharusnya menjadi fondasi keberagamaan kita. []







