Opini
Diplomasi Al-Qur’an: Membaca Pesan di Balik Pemilihan Ayat bagi Delegasi Asing

Ahlulbait Indonesia, 5 Juli 2026 – Pemilihan ayat Al-Qur’an bagi setiap delegasi asing bukan semata-mata bagian dari tata upacara penghormatan. Di balik setiap tilawah tersimpan pesan tentang perlawanan, wilayah, kesetiaan, jihad, dan kemandirian yang disampaikan melalui bahasa wahyu. Dengan memilih ayat yang berbeda bagi setiap delegasi, penyelenggara menghadirkan Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan suci, tetapi juga sebagai bahasa diplomasi.
Prosesi penghormatan terakhir delegasi asing kepada Imam Syahid Revolusi Islam memperlihatkan praktik diplomasi yang tidak lazim. Di tengah rangkaian penghormatan kenegaraan, setiap delegasi diperdengarkan ayat Al-Qur’an yang dipilih sesuai dengan latar belakang negara maupun karakter hubungannya dengan Republik Islam Iran. Melalui pilihan tersebut, penyelenggara menyampaikan pesan tentang perlawanan, wilayah, kesetiaan, jihad, dan kemandirian tanpa sepatah pun pidato politik.
Ditinjau dari Tafsir al-Mizan, setiap ayat yang dipilih melampaui fungsi liturgisnya sebagai tilawah. Ayat-ayat tersebut memuat pesan politik, akidah, dan peradaban yang disampaikan melalui firman Allah. Pendekatan ini merupakan salah satu tradisi yang melekat pada Pemimpin Syahid Revolusi Islam, yang dalam berbagai pidatonya senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan menjelaskan persoalan politik, sosial, dan peradaban. Karena itu, pesan-pesan beliau memiliki daya pengaruh yang khas, bertumpu pada mukjizat terbesar Allah Swt., yakni Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qur’an sebagai Bahasa Diplomasi Revolusi Islam
Dalam tradisi diplomasi modern, penyambutan maupun pelepasan kepala negara lazim dilakukan melalui tata protokol kenegaraan, seperti penghormatan militer, lagu kebangsaan, pembacaan pesan resmi, dan simbol-simbol negara lainnya.
Prosesi penghormatan terakhir kepada Imam Syahid Revolusi Islam menghadirkan pendekatan yang berbeda. Tata protokol kenegaraan dipadukan dengan identitas Islam Republik Islam Iran sehingga menghadirkan prosesi yang memadukan dimensi kenegaraan dan spiritual secara utuh.
Pembacaan Al-Qur’an yang mengiringi mars militer menjadikan prosesi tersebut melampaui seremoni politik. Namun, inti dari keseluruhan acara justru terletak pada pemilihan ayat yang berbeda bagi setiap delegasi. Hal itu menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak dibacakan semata sebagai bentuk tabarruk, tetapi juga dihadirkan sebagai bahasa diplomasi.
Dalam Tafsir al-Mizan, Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk merekam sejarah atau menyampaikan nasihat moral. Al-Qur’an mengandung sunnatullah yang mengatur kehidupan manusia, berlaku melampaui ruang dan waktu, serta tetap relevan pada setiap zaman.
Dari perspektif inilah pemilihan ayat dalam prosesi penghormatan tersebut memperoleh makna yang lebih mendalam. Setiap ayat tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian acara, tetapi juga berfungsi sebagai medium penyampaian pesan kepada masing-masing delegasi melalui bahasa wahyu.
Irak
Menjaga Kemandirian dari Pengaruh Kemunafikan
Bagi delegasi para pemimpin suku Irak dipilih Surah Al-Ahzab ayat 1, ayat yang menyeru Rasulullah saw. agar bertakwa kepada Allah dan tidak mengikuti orang-orang kafir maupun kaum munafik.
“Wahai Nabi! Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Ahzab: 1)
Dalam Tafsir al-Mizan, Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i menjelaskan bahwa meskipun ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad saw., kandungannya merupakan pedoman bagi para pemimpin masyarakat Islam. Kemandirian politik dan intelektual hanya dapat dipertahankan apabila pengambilan keputusan tidak tunduk pada tekanan musuh maupun pengaruh kaum munafik.
Karena itu, ancaman terhadap suatu bangsa tidak selalu datang melalui konfrontasi militer. Infiltrasi pemikiran dan politik yang memengaruhi arah kebijakan juga menjadi ancaman yang tidak kalah berbahaya.
Turki
Keutamaan Jihad dengan Harta dan Jiwa
Bagi delegasi Turki dibacakan Surah An-Nisa ayat 95 yang menegaskan keutamaan orang-orang yang berjihad dibanding mereka yang memilih tidak turut berjuang tanpa uzur.
“Tidaklah sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak ikut berjuang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing Allah menjanjikan kebaikan, tetapi Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 95)
Ayat ini menegaskan bahwa keutamaan para mujahid lahir dari kesediaan memikul kesulitan, mengorbankan harta dan jiwa, serta menanggung beban perjuangan di jalan Allah. Meskipun seluruh orang beriman dijanjikan kebaikan, mereka yang berjuang memperoleh kedudukan dan pahala yang lebih tinggi.
Dalam Tafsir al-Mizan, ukuran kemuliaan tidak terletak pada pengakuan iman semata, melainkan pada tanggung jawab dan kehadiran nyata di medan perjuangan. Nilai seseorang ditentukan oleh kesediaannya membayar harga demi membela kebenaran.
Arab Saudi
Sunnatullah Kemenangan Orang-Orang Beriman
Bagi delegasi Arab Saudi dipilih Surah Ali ‘Imran ayat 13 yang merujuk pada Perang Badar, ketika kaum mukmin yang secara jumlah lebih sedikit memperoleh kemenangan atas musuh yang tampak lebih kuat.
“Sungguh telah ada tanda bagi kamu pada pertemuan dua golongan itu. Segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan lagi kafir. Orang-orang kafir melihat dengan mata kepala mereka bahwa orang-orang mukmin berjumlah dua kali lipat dari mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. Ali ‘Imran: 13)
Dalam Tafsir al-Mizan, ayat ini tidak hanya mengisahkan sebuah pertempuran, tetapi menjelaskan sunnatullah yang berlaku sepanjang sejarah: kemenangan pada akhirnya berada dalam kehendak Allah. Ketika iman, keikhlasan, dan keteguhan berpadu, keterbatasan jumlah maupun sarana tidak menjadi penghalang bagi tegaknya kebenaran.
Pada saat yang sama, ayat ini mengingatkan agar bangsa-bangsa tidak menjadikan kekuatan material sebagai satu-satunya ukuran dalam membaca arah sejarah. Di atas seluruh perhitungan manusia, terdapat kehendak Allah yang menentukan kemenangan bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Lebanon
Iman Menemukan Maknanya dalam Ujian
Bagi delegasi Pemerintah Lebanon dipilih Surah An-Nisa ayat 66 yang menjelaskan bahwa seandainya Allah mewajibkan pengorbanan yang sangat berat, hanya sedikit manusia yang benar-benar melaksanakannya.
“Sekiranya Kami mewajibkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah dari negerimu,’ niscaya hanya sedikit di antara mereka yang akan melaksanakannya. Dan sekiranya mereka melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan pendirian mereka.” (QS. An-Nisa: 66)
Dalam Tafsir al-Mizan, Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i menjelaskan bahwa ayat ini memperlihatkan perbedaan antara iman yang berhenti pada pengakuan lisan dan iman yang benar-benar berakar dalam kehidupan. Ketulusan iman tampak ketika seseorang bersedia menanggung konsekuensi dari keyakinannya.
Karena itu, kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari mudahnya mengucapkan komitmen, melainkan dari keteguhannya bertahan di jalan kebenaran ketika menghadapi pengorbanan yang paling berat. Justru melalui ujian itulah keimanan memperoleh pembuktiannya.
Hizbullah
Wilayah sebagai Pilar Kemenangan
Bagi delegasi Hizbullah dibacakan Surah Al-Ma’idah ayat 55–56 yang menegaskan bahwa wilayah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman merupakan fondasi lahirnya Hizbullah, golongan yang dijanjikan kemenangan oleh Al-Qur’an.
“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang mendirikan salat, menunaikan zakat, sedang mereka dalam keadaan rukuk. Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai wali, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang akan memperoleh kemenangan.” (QS. Al-Ma’idah: 55–56)
Asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan Amirul Mukminin Imam Ali a.s. yang menyerahkan cincin kepada seorang fakir saat sedang rukuk.
Dalam Tafsir al-Mizan, Allamah Thabathaba’i menjelaskan bahwa wilayah pada ayat ini tidak hanya bermakna kecintaan, tetapi mencakup kepemimpinan, kewalian, dan keterikatan nyata dengan barisan kebenaran. Dari wilayah inilah lahir Hizbullah, golongan yang ditegaskan Al-Qur’an sebagai pihak yang pada akhirnya memperoleh kemenangan.
Hamas
Kesetiaan hingga Napas Terakhir
Bagi delegasi Gerakan Hamas dipilih Surah Al-Ahzab ayat 23 yang berbicara tentang orang-orang beriman yang tetap setia pada janji mereka kepada Allah. Sebagian telah menunaikan janjinya melalui syahadah, sementara sebagian lainnya masih menunggu tanpa mengubah komitmen mereka.
“Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur, dan di antara mereka ada yang masih menunggu. Mereka sama sekali tidak mengubah janji mereka.” (QS. Al-Ahzab: 23)
Dalam Tafsir al-Mizan, ayat ini dipahami sebagai pujian terhadap para mujahid yang tetap teguh menghadapi ujian paling berat. Istiqamah, keikhlasan, dan kesetiaan menjadi ciri mereka yang tidak mengubah janji kepada Allah.
Dalam perspektif ini, syahadah bukanlah akhir perjalanan, melainkan puncak kesetiaan terhadap perjanjian Ilahi. Mereka yang masih hidup pun tetap memelihara komitmen yang sama, tanpa mengurangi ataupun mengubah arah perjuangannya.
Yaman
Keteguhan Berjuang Bersama Para Penegak Kebenaran
Bagi delegasi Yaman dipilih Surah Ali ‘Imran ayat 146 yang menegaskan keteguhan orang-orang beriman dalam menghadapi berbagai ujian perjuangan.
“Betapa banyak nabi yang berperang bersama sejumlah besar pengikut yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena musibah yang menimpa di jalan Allah, tidak menjadi lemah semangatnya, dan tidak pula menyerah. Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)
Dalam Tafsir al-Mizan, Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i menjelaskan bahwa ayat ini menghadirkan teladan para nabi beserta para pengikut setia mereka yang tetap teguh menghadapi berbagai kesulitan tanpa kehilangan semangat ataupun menyerah kepada keadaan. Keteguhan, kesabaran, dan istiqamah menjadi karakter utama para penegak kebenaran.
Ayat ini menegaskan bahwa jalan perjuangan tidak pernah terlepas dari cobaan dan pengorbanan. Namun, ujian tidak melemahkan tekad mereka. Sebaliknya, kesabaran dan keteguhan menjadi sebab turunnya pertolongan serta kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang tetap istiqamah.
Baca juga: Peti Jenazah Imam Sayyid Ali Khamenei Ditampilkan Jelang Pemakaman, Tangis Pelayat Pecah!
Indonesia dan Afghanistan
Memohon Bimbingan dan Pertolongan di Jalan Kebenaran
Bagi delegasi Indonesia dan Afghanistan dipilih Surah Al-Isra ayat 80, doa yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. agar setiap langkah berawal dan berakhir dalam kebenaran serta senantiasa berada di bawah pertolongan-Nya.
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, serta anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.'” (QS. Al-Isra: 80)
Dalam Tafsir al-Mizan, Allamah Muhammad Husain Thabathaba’i menjelaskan bahwa doa ini tidak terbatas pada perpindahan tempat atau peristiwa tertentu. Ayat tersebut mengajarkan agar seluruh perjalanan hidup, setiap amanah, dan setiap tanggung jawab dijalani dengan kejujuran, keteguhan, serta keselarasan dengan kehendak Allah. Permohonan akan mudkhal shidq dan mukhraj shidq merupakan ikhtiar agar setiap langkah berawal dari kebenaran dan berakhir dengan kemuliaan.
Penutup ayat ini memuat permohonan akan sultanan nasira (kekuasaan atau pertolongan yang kokoh), yang menegaskan bahwa keberhasilan menegakkan kebenaran tidak hanya bergantung pada ketulusan niat, tetapi juga pada pertolongan Allah. Karena itu, pemilihan ayat ini mencerminkan harapan agar setiap ikhtiar membangun masyarakat, menjaga kemerdekaan, dan menunaikan amanah senantiasa berada dalam bimbingan serta pertolongan-Nya.
Pesan Bersama Seluruh Ayat: Peta Jalan Barisan Kebenaran
Apabila seluruh ayat yang dipilih dibaca sebagai satu kesatuan, tampak sebuah bangunan makna yang utuh. Meskipun ditujukan kepada delegasi yang berbeda, seluruhnya berporos pada tema yang saling berkaitan: pertolongan Allah, jihad, kesetiaan terhadap perjanjian, wilayah, kemandirian dari pengaruh musuh, keteguhan menghadapi ujian, serta permohonan agar setiap langkah senantiasa berada dalam bimbingan dan pertolongan Ilahi.
Rangkaian pilihan tersebut menunjukkan bahwa penyelenggara tidak hanya mempertimbangkan kesesuaian ayat dengan suasana penghormatan ataupun identitas setiap delegasi. Setiap ayat dipilih untuk menyampaikan pesan yang selaras dengan posisi dan pengalaman masing-masing negara maupun kelompok dalam dinamika kawasan. Pesan itu tidak disampaikan melalui komunike diplomatik atau pernyataan politik, melainkan melalui bahasa Al-Qur’an.
Dalam Tafsir al-Mizan, Allamah Thabathaba’i menjelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an mengandung sunnatullah yang berlaku melampaui ruang dan waktu. Kemenangan kebenaran atas kebatilan, keutamaan perjuangan, pentingnya menjaga kemandirian dari pengaruh musuh, sentralitas wilayah, kesetiaan terhadap perjanjian, dan keteguhan menghadapi ujian merupakan hukum-hukum Ilahi yang terus bekerja dalam perjalanan sejarah.
Karena itu, pemilihan ayat bagi setiap delegasi tidak dapat dipahami sebagai bagian dari seremoni semata. Melalui prosesi tersebut, Al-Qur’an dihadirkan sebagai bahasa diplomasi yang menyampaikan penghormatan sekaligus prinsip, tanpa kehilangan kedalaman makna ataupun harus dituangkan dalam pernyataan politik secara eksplisit.
Pada akhirnya, seluruh ayat yang dipilih membentuk satu narasi yang utuh. Masing-masing ditujukan kepada delegasi yang berbeda, tetapi seluruhnya bermuara pada pesan yang sama, bahwa barisan kebenaran akan tetap hidup selama ditopang oleh iman, wilayah, jihad, kesetiaan terhadap perjanjian, keteguhan menghadapi ujian, serta keyakinan kepada pertolongan Allah. Itulah sunnatullah yang, menurut Al-Qur’an, terus bekerja dalam perjalanan umat manusia. []
Baca juga: Imam Khomeini kepada Sayyid Ali Khamenei, “Engkau Akan Menjadi Yusuf”







