Nasional
Ustadz Muhtar Jelaskan Tiga Pilar Keabadian Pesan Karbala

Jepara, 7 Agustus 2026 – Ribuan warga Komunitas Ahlul Bait dari berbagai daerah di Jawa Tengah menghadiri peringatan Arbain Imam Husain di Jepara pada Selasa (4/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Muhtar Luthfi menyebut keikhlasan Imam Husain, nilai-nilai kemanusiaan, dan peran Sayyidah Zainab sebagai tiga pilar yang menjaga pesan Karbala tetap hidup selama lebih dari empat belas abad.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Jepara, Majelis Ulama Indonesia (MUI), tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Baca juga: Arbain Imam Husain di Bandung: Spirit Karbala dan Tabyin Sayyidah Zainab

Peringatan Arbain Imam Husain di Jepara dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Jepara, Kepolisian Jepara, para Kiayi, dan tokoh masyarakat. (Foto: ABI)
Mengawali ceramahnya, Ustadz Muhtar menjelaskan bahwa angka empat puluh, yang dalam bahasa Arab disebut Arbain, memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Menurutnya, Al-Qur’an dan berbagai riwayat mengaitkan angka tersebut dengan kematangan akal, kedewasaan, dan kesempurnaan spiritual manusia. Sebagai contoh, Ustadz Muhtar menyebut kisah nabi Musa a.s, yang bermunajat (khlawat) selama empat puluh malam di Bukit Thur Sinai, serta diutusnya Rasulullah SAW sebagai nabi dan rasul pada usia empat puluh tahun.
Menurutnya Arbain Imam Husain merupakan peringatan empat puluh hari setelah syahadah cucu Rasulullah SAW di Karbala pada 10 Muharam. Tradisi memperingati empat puluh hari wafat seseorang, lanjutnya, juga dikenal luas di kalangan umat Islam, termasuk masyarakat Indonesia.
Ustadz Muhtar kemudian mengajukan pertanyaan yang menjadi inti ceramahnya, yakni mengapa tragedi Karbala tetap dikenang dan diperingati lebih dari empat belas abad setelah peristiwa tersebut.
Beliau menyebut terdapat tiga faktor yang membuat pesan Karbala tetap hidup sepanjang zaman.
Baca juga: Arbain Imam Husain dan Kesadaran Kolektif
Faktor pertama adalah keikhlasan Imam Husain dalam perjuangannya. Ustadz Muhtar menjelaskan bahwa Imam Husain merupakan sosok yang disucikan Allah sehingga seluruh perjuangannya dilandasi keikhlasan dalam menegakkan kebenaran.
Faktor kedua adalah tujuan perjuangan Imam Husain yang sejalan dengan nilai-nilai universal kemanusiaan. Mengutip pernyataan Imam Husain, Ustadz Muhtar mengatakan bahwa kebangkitannya bertujuan melakukan ishlah, yakni memperbaiki umat Nabi Muhammad SAW.
“Siapa pun bisa mengambil pelajaran dari perjuangan Imam Husain,” tegasnya.
Nilai-nilai itulah, lanjutnya, yang membuat perjuangan Imam Husain melampaui batas bangsa, mazhab, dan agama sehingga mampu menginspirasi berbagai kalangan.
“Tak heran jika para peziarah di Karbala datang dari berbagai negara, mazhab, bahkan agama. Banyak tokoh dunia, termasuk Presiden Soekarno, mengambil pelajaran dari perjuangan Imam Husain.”
Faktor ketiga adalah peran ‘Jihad Tabyin’ Sayyidah Zainab dalam menjaga dan menyampaikan pesan Karbala setelah tragedi tersebut. Menurut Ustadz Muhtar, keberlangsungan tradisi Arbain yang kini dihadiri jutaan peziarah setiap tahun tidak dapat dilepaskan dari perjuangan dan jihad Sayyidah Zainab dalam menyampaikan peristiwa Karbala kepada umat.
Beliau juga menegaskan bahwa tragedi Karbala semestinya menggugah hati setiap Muslim. Mengutip riwayat Imam Hasan al-Askari, Ustadz Muhtar menyebut ziarah Arbain Imam Husain sebagai salah satu tanda seorang mukmin.
Lebih lanjut, Ustadz Muhtar mengajak umat Islam menjadikan Arbain sebagai momentum meneladani perjuangan Imam Husain, bukan berhenti pada ekspresi duka semata.
“Kita harus mengambil pelajaran dari Imam Husain, bukan hanya hadir dan menangis. Nilai-nilai perjuangan beliau harus terus kita sebarkan agar dunia mengenal Imam Husain sebagai teladan perjuangan menegakkan keadilan dan kemanusiaan.”
Baca juga: Sambut Arbain, Muslimah ABI Balikpapan Gelar Donor Darah
Pada bagian akhir ceramah, Ustadz Muhtar menegaskan bahwa peringatan Asyura dan Arbain tidak berhenti pada penghormatan terhadap sejarah, melainkan harus melahirkan keberpihakan kepada kaum tertindas melalui pengabdian nyata kepada bangsa dan negara. Ia menyampaikan:
“Peringatan Arbain dan Asyura sesungguhnya membangkitkan jiwa perlawanan kita terhadap para penzalim di mana pun dan kapan pun. Kaum yang terzalimi wajib kita bantu, siapa pun dia. Perlawanan ini mengacu pada petunjuk Imam Khamenei hafizhahullah, bahwa sebaik-baik cara melawan musuh Islam adalah pengabdian kepada bangsa dan negara.”
“Kita sebagai pengikut Ahlul Bait di Indonesia tidak mungkin menggulingkan pemerintahan dengan revolusi, karena pengabdian kita sesuai arahan beliau adalah mewujudkan sikap tegas terhadap Amerika dan Israel melalui kontribusi nyata kepada bangsa dan negara. Oleh karena itu, kita gencar melakukan kegiatan sosial. Itulah bentuk perlawanan kita yang sesungguhnya.”
Melalui peringatan Arbain tersebut, Ustadz Muhtar mengajak umat tidak berhenti mengenang tragedi Karbala, tetapi menerjemahkan nilai-nilai yang diwariskan Imam Husain ke dalam kehidupan melalui keadilan, kepedulian sosial, dan pengabdian kepada bangsa. []







