Khutbah
Ustadz Zahir Yahya: Dari Ghadir ke Perlawanan dalam Menjaga Risalah Kepemimpinan Ilahi

Malang, 6 Juni 2026 — Tulisan ini diadaptasi dari ceramah panjang Ustadz Zahir Yahya yang disampaikan di Yayasan Al-Qurba, Malang, dan disiarkan secara langsung melalui kanal ALQURBA TV pada 4 Juni 2026. Naskah yang tersaji di sini merupakan rangkuman atas pokok-pokok gagasan yang disampaikan dalam khutbah tersebut. Karena itu, beberapa uraian, penjelasan, hadist dan konteks yang terdapat dalam ceramah asli tidak seluruhnya dimuat.
Pembaca yang ingin mengikuti pemaparan secara lengkap dapat merujuk pada tayangan berikut:🔗 [Live] Perayaan Ied Al-Ghadir Bersama Ustadz Zahir Yahya
A’udzubillahi minasy-syaithanir rajim. Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, habibina wa habibi ilahil ‘alamin, abil qasimil musthafa Muhammad. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad wa ‘ala ahlihit thayyibinath thahirin wa ashabihil mayaminil muntajabin.
Assalamu ‘ala shahibil wilayatil kubra wal imamatil ‘uzhma, Amirul Mukminin wa maulal muttaqin, Ali bin Abi Thalib, shalawatullahi wa salamuhu ‘alaih. Wa tsabbatanallahu wa iyyakum ‘ala wilayatihi wa mahabbatih. Walhamdulillahilladzi ja’alana minal mutamassikina bi wilayati Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib wa wilayati abna’ihith thahirin. Walhamdulillahi ‘ala ikmalid din wa itmamin ni’mah.
Ikhwani wa akhwati, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sambutan Idul Ghadir
Selamat berbahagia untuk kita semua, untuk kaum mukminin, terkhusus untuk para pimpinan agama, para marja’, waliyyul amril muslimin, Sayyid Ayatullah Mujtaba Khamenei, dan kepada segenap ikhwan dan akhwat yang hadir di tempat yang dimuliakan dan diberkati ini. Semoga Idul Ghadir pada tahun ini menjadi sumber kebaikan, sumber anugerah, sumber keberkahan, serta kemenangan, khususnya bagi para mujahidin di jalan Allah, Rasulullah, dan para imam Ahlul Bait ‘alaihimus salam di mana pun mereka berada.
Baca juga: Dari Ghadir ke Karbala, dan dari Karbala ke al-Quds: Satu Jalan, Satu Janji, Satu Poros
Haditsul Ghadir menurut Syekh Albani
Ikhwan dan akhwat sekalian, seorang muhaddits dari kalangan salafi bernama Syekh Albani, dalam salah satu kitabnya Silsilatul Ahaditsish Shahihah, membawakan haditsul Ghadir dalam beberapa redaksi dan juga beberapa jalur. Beliau menyebutkan tepatnya hadits dengan nomor urut 1750, menyebutkan riwayat dari Zaid bin Arqam.
Disebutkan bahwa sepulang dari Hajjatul Wada’ dan sesampainya kafilah haji yang dipimpin langsung oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa ‘alihi di sebuah tempat yang kemudian dikenal dengan Ghadir Khum, Rasulullah di hadapan khalayak bersabda: “Ka’anni du’itu fa ajabtu” – seakan aku dipanggil oleh Tuhanku dan aku akan mengijabahi panggilan tersebut.
Beliau melanjutkan: “Inni tariktu fikum ma in tamassaktum bihi lan tadhillu ba’di: ahaduhuma akbaru minal akhar: kitaballahi wa ‘itrati ahlabaiti. Fanzhuru kaifa takhlufuni fihima. Fainnahuma lan yatafarraqa hatta yarida ‘alayyal haudha.”
Beliau menyampaikan hadits yang sangat populer: aku tinggalkan bagi kalian dua hal berharga. Yang satu lebih besar dari lainnya, yaitu kitaballah dan Ahlul Baitku – keturunanku. Lihatlah apa yang akan kalian lakukan sesudah aku terkait dengan keduanya, dan bahwa keduanya tidak akan pernah berpisah sampai bertemu di telaga Al-Kautsar.
Kemudian beliau bersabda menegaskan posisi dirinya terhadap kaum mukminin, “Innallaha Maulaya wa ana maula kulli mukmin” – sesungguhnya Allah adalah pemimpinku dan aku adalah pemimpin setiap mukmin. Lalu mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib seraya berkata: “Man kuntu maulahu fa hadza ‘Aliyun maulahu. Allahumma wali man walahu wa ‘adi man ‘adah.”
Setelah menegaskan bahwa Tuhan adalah pemimpinnya dan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi setiap mukmin kemudian melanjutkan dengan mengangkat tangan Ali dan mengatakan, “Barang siapa yang aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.”
Kesahihan Hadits dan Titik Perbedaan
Ya, ikhwan dan akhwat sekalian, yang menarik adalah bahwa Syekh Albani setelah menyebutkan banyak jalur untuk riwayat haditsul Ghadir – tidak kurang dari 23 jalur dalam redaksi yang tentu sebagiannya berbeda-beda – dia mengatakan bahwasanya setelah meneliti sanad dari hadits tersebut, sungguh meyakinkan bahwa haditsul Ghadir adalah hadits yang shahih dan benar.
Dengan demikian, ikhwan dan akhwat sekalian, berkenaan dengan peristiwa Ghadir, berkenaan dengan haditsul Ghadir, tidak ada perbedaan di antara kaum muslimin tentang peristiwanya bahwa hal itu benar-benar terjadi dan bahwa haditsul Ghadir adalah hadits yang shahih dan benar. Seluruh perbedaan terkait dengan apa yang menjadi kandungan dan apa yang menjadi maksud dari haditsul Ghadir tersebut.
Baca juga: Ayatullah Mojtaba Khamenei: Ghadir Adalah Jalan Kepemimpinan dan Kebangkitan Umat
Dua Kelompok Besar Umat Islam
Di mana sebagian orang beranggapan bahwa haditsul Ghadir semata-mata hanya untuk menegaskan keharusan, mengapresiasi posisi Ali bin Abi Thalib dan mencintai Ali bin Abi Thalib. Tidak lebih dari itu. Sementara umat Islam yang lain dalam hal ini mereka yang dikenal dengan sebutan Syiah pada akhirnya mengatakan bahwasanya peristiwa Ghadir dan haditsul Ghadir adalah sebuah penegasan terhadap posisi Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin dan imam, sebagai khalifah dan pelanjut Rasulullah sepeninggal Rasulullah. Sallallahu ‘alaihi wa ‘alihi wasallam.
Dengan demikian, peristiwa Ghadir merupakan sebuah persimpangan jalan dalam sejarah umat Islam yang sampai membuat kaum muslimin terbelah menjadi dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama seperti yang saya katakan, mereka yang memahami dari haditsul Ghadir hanya sekadar keharusan penegasan terhadap keharusan mencintai Ali bin Abi Thalib. Sementara kelompok yang lain menegaskan masalah kepemimpinan.
Tentu masing-masing dari dua kelompok memiliki dalih dan argumentasinya sendiri.
Argumentasi Kelompok Pertama: Mencintai Ali Saja
Kelompok pertama yang hanya memahami masalah keharusan mencintai Ali bin Abi Thalib, mereka berdalil setidaknya dengan dua hal. Setidaknya dengan dua hal.
Yang pertama adalah fakta sejarah dan kejadian sejarah yang ternyata Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Bait ‘alaihimus salam – mereka tidak menjadi pemimpin bagi kaum muslimin. Itu faktanya bahwa yang terjadi menunjukkan bahwa Ali bukan pemimpin kaum muslimin sepeninggal Rasul secara langsung. Begitu juga para imam Ahlul Bait lainnya dari putra-putra Ali bin Abi Thalib.
Yang kedua dan ini yang tentu lebih mendasar adalah keyakinan bahwa kepemimpinan umat Islam adalah urusan bagi umat Islam itu sendiri. Mereka yang menentukan siapa yang mereka pandang sebagai sosok yang layak untuk memimpin mereka dan dengan cara dan proses apapun yang mungkin dilakukan oleh kaum muslimin untuk mengangkat dan memilih pemimpin mereka.
Metode kepemimpinan Menurut Kelompok Pertama
Ya, sekumpulan orang berkumpul di sebuah tempat bernama Saqifah Bani Sa’idah, memilih seseorang dan yang bersangkutan bersedia untuk dibaiat, maka orang tersebut sah menjadi pemimpin kaum muslimin. Pemimpin yang pertama mengangkat penerusnya tanpa melibatkan kaum muslimin – murni kehendak pribadinya untuk menjadikan seseorang sebagai pemimpin penggantinya – maka proses tersebut juga mengantarkan kepada kehadiran pemimpin yang juga dianggap sah.
Sekumpulan orang-orang terkemuka yang dalam istilah biasa disebut ahlul halli wal ‘aqdi – orang terkemuka di antara umat berhimpun, berdiskusi, rapat, memutuskan seseorang di antara mereka untuk menjadi pemimpin kaum muslimin, maka proses tersebut juga dianggap sah untuk mengantarkan kehadiran seorang pemimpin.
Keinginan publik yang lebih luas untuk menjadikan seseorang sebagai pemimpin – seperti yang terjadi ke atas Amirul Mukminin di era pasca khalifah yang ketiga – maka keinginan publik untuk menjadikan seseorang sebagai pemimpin juga sah untuk mengantarkan seseorang menjadi pemimpin kaum muslimin.
Seorang ayah yang menjadi pemimpin yang dianggap sebagai pemimpin kaum muslimin menghendaki anaknya semata-mata dikarenakan dia adalah anaknya – mengangkat anaknya untuk menjadi pemimpin – maka proses tersebut juga sah untuk menghadirkan seorang pemimpin bagi kaum muslimin. Dan lebih parah lagi, kepemimpinan umat Islam juga bisa secara sah diperoleh oleh seseorang dengan kekuatan pedang. Dia memiliki kekuatan menundukkan kaum muslimin. Apabila pada akhirnya ia dibaiat, maka dia juga sah menjadi pemimpin.
Itulah keyakinan sebagian kaum muslimin tentang kepemimpinan umat Islam dan cara atau metode yang dianggap sah untuk mengantarkan seseorang menjadi pemimpin.
Baca juga: Ustadz Miqdad: Ghadir Khum Kunci Penyelesaian Perselisihan Umat
Argumentasi kelompok kedua: nash dan penetapan Ilahi
Sementara ada kelompok lain dari umat Islam yang berkeyakinan bahwa kepemimpinan umat Islam hanya bisa diperoleh oleh seseorang dengan penetapan dan penegasan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu melalui nabinya bahwa kepemimpinan hanya sah apabila dikehendaki oleh Tuhan. Apabila ada nash yang tegas yang mengangkat dirinya sebagai pemimpin dan menolak proses apapun lainnya yang mungkin diyakini oleh kaum muslimin yang lain.
Itulah yang dipahami, itulah yang disimpulkan oleh para pengikut Ahlul Bait dari haditsul Ghadir bahwa hadits ini tentu melalui teks dan konteksnya serta situasi yang meliputi peristiwa tersebut menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Rasulullah tengah mengangkat pelanjutnya karena tidak mungkin peristiwa Ghadir hanya dan semata-mata untuk menegaskan masalah kewajiban mencintai Ali bin Abi Thalib. Bagaimana mungkin Rasulullah menghentikan seluruh kafilah yang membersamainya yang jumlahnya puluhan ribu dalam situasi yang cukup berat di tengah terik matahari sebelum kafilah mencapai titik persimpangan yang akan menyebabkan sebagian kafilah berpisah dari satu dan lainnya. Kemudian beliau mengawali seluruh penegasannya dengan warta berita tentang bahwa dirinya akan segera dipanggil oleh Tuhannya, bahwa Allah akan memanggil beliau dan beliau akan mengijabahi panggilan tersebut. Seluruh teks, konteks, dan situasi yang meliputi peristiwa Al-Ghadir tidak mungkin dimaknai kecuali bahwa beliau tengah melakukan pengangkatan dan pelantikan terhadap kepemimpinan Ali Ibnu Abi Thalib sepeninggal beliau.
Sikap terhadap Fakta Perbedaan
Ikhwan dan akhwat sekalian, fakta sejarah menunjukkan bahwa umat Islam terbagi ke dalam dua pandangan berbeda mengenai siapa pelanjut Rasulullah saw. setelah wafatnya beliau. Perbedaan ini telah mewarnai perjalanan umat Islam sejak masa awal hingga hari ini. Karena itu, pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah: bagaimana seharusnya sikap kita terhadap realitas perbedaan tersebut?
Bagi para pengikut Ahlul Bait yang meyakini peristiwa Ghadir sebagai penetapan kepemimpinan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as., sikap yang tepat perlu dibangun di atas dua prinsip sekaligus: keyakinan yang teguh dan kebijaksanaan dalam menyikapi perbedaan.
Kita meyakini bahwa setiap orang memiliki hak untuk meyakini, menyatakan, dan mengamalkan keyakinannya. Peringatan Idul Ghadir yang kita laksanakan merupakan bagian dari ekspresi keyakinan tersebut. Kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah hak mendasar yang dijamin oleh ajaran Islam, konstitusi negara, maupun prinsip-prinsip universal hak asasi manusia.
Namun, keyakinan yang kuat tidak berarti kita harus menghabiskan energi dalam perdebatan yang tidak berujung. Salah satu pelajaran penting dari Ghadir adalah bahwa para pengikut Ahlul Bait tidak semestinya larut dalam polemik yang hanya menguras tenaga dan melupakan berbagai tugas yang lebih mendesak bagi kemajuan diri, komunitas, dan masyarakat.
Diskusi ilmiah tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan oleh orang yang tepat, di forum yang tepat, dan dalam situasi yang tepat. Setiap komunitas memiliki tantangan besar yang harus dihadapi untuk menjaga keberlangsungan dan pertumbuhannya. Karena itu, potensi dan kapasitas yang dimiliki hendaknya tidak dihabiskan untuk perdebatan yang sering kali tidak menghasilkan kemaslahatan nyata.
Sikap ini juga tercermin dalam teladan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Beliau adalah sosok yang paling mengetahui kedudukan dan haknya. Namun, beliau lebih mengutamakan keselamatan Islam dan persatuan kaum muslimin daripada terus-menerus memperjuangkan hak pribadinya. Sebagaimana ungkapan beliau, “Selama urusan kaum muslimin tetap baik, aku akan bersabar atas apa yang menimpaku.”
Bahkan dalam Nahjul Balaghah, yang memuat puluhan khutbah, surat, dan hikmah beliau, pembahasan mengenai hak kepemimpinannya hanya muncul secara terbatas, terutama dalam Khutbah Asy-Syiqsyiqiyyah yang merupakan pengecualian, bukan prioritas utama perjuangannya.
Karena itu, para Imam Ahlul Bait sesudah beliau juga memperingatkan para pengikutnya agar tidak menjadikan perdebatan sebagai jalan utama dakwah. Imam Ja’far Ash-Shadiq as. mengingatkan bahwa perseteruan dan debat yang berlebihan sering kali justru melukai hati dan menjauhkan orang dari kebenaran. Hidayah pada akhirnya berada di tangan Allah, bukan hasil pemaksaan manusia.
Dalam riwayat lain, Imam Ash-Shadiq as. menasihati, “Apa urusan kalian dengan manusia? Uruslah diri kalian sendiri.” Maksudnya, fokuslah membangun kualitas diri dan komunitas, bukan menyibukkan diri dengan mempersoalkan keyakinan orang lain.
Namun, sikap ini bukan berarti pasif. Ketika Abu Bashir bertanya apakah ia boleh mengajak orang kepada keyakinannya, Imam menjawab tidak. Tetapi ketika ditanya bagaimana jika ada orang yang datang mencari penjelasan, Imam menjawab, “Ya, jelaskanlah kepadanya.” Artinya, kebenaran tetap disampaikan kepada mereka yang mencari dan ingin mengetahui, oleh orang-orang yang memiliki kapasitas dan kompetensi untuk menjelaskannya.
Karena itu, prinsip pertama yang harus dipegang adalah tidak larut dalam perdebatan yang tidak produktif. Prinsip kedua adalah menjaga etika dalam membahas persoalan-persoalan yang sensitif.
Baca juga: Ustadz Erwin: Al-Ghadir untuk Bersatu dalam Satu Kepemimpinan
Tidak setiap orang yang mampu berbicara layak berbicara di ruang publik tentang isu-isu yang rumit dan sensitif. Al-Qur’an sendiri mengingatkan agar perdebatan hanya dilakukan dengan cara yang terbaik: “Janganlah kalian berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik.” Ini menunjukkan bahwa diskusi memerlukan kedewasaan intelektual, emosional, dan akhlak.
Karena itu, menyampaikan keyakinan bukanlah perkara tanpa syarat. Ada kompetensi, adab, dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Jangan sampai cara penyampaian yang keliru justru menimbulkan kerugian, perpecahan, atau menyakiti pihak lain.
Atas dasar itu pula para marja’ dan ulama Ahlul Bait menegaskan pentingnya menjaga kehormatan simbol-simbol yang dihormati kaum muslimin. Perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk mencaci, menista, atau merendahkan tokoh yang dimuliakan oleh pihak lain. Bahkan ditegaskan bahwa menista simbol-simbol yang dihormati umat Islam adalah perbuatan yang tidak dibenarkan.
Dengan demikian, pengamalan Ghadir bukan hanya soal meyakini kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as., tetapi juga meneladani kebijaksanaan beliau: teguh dalam keyakinan, bijak dalam perbedaan, serta mengutamakan kemaslahatan umat dan akhlak dalam setiap interaksi.
Dua Sisi Ghadir: Peristiwa dan Kesinambungan
Ikhwan dan akhwat sekalian, kembali kepada momentum Idul Ghadir. Idul Ghadir adalah momentum yang sangat penting. Idul Ghadir adalah tonggak sejarah. Dalam hal apa? Dalam hal kelangsungan kepemimpinan Ilahi di muka bumi.
Di luar permasalahan yang mungkin menjadi kontroversi umat Islam tentang siapa pelanjut sesudah Nabi, ketahuilah bahwa Idul Ghadir salah satu dari sisi pentingnya adalah bahwa dengan event dan peristiwa Al-Ghadir, Rasulullah tengah menegakkan tonggak sejarah tentang apa? tentang kelangsungan kepemimpinan Ilahi di muka bumi.
Dan yang menarik untuk menjadi pelajaran bagi kita semua adalah bahwa proses tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan sikap perlawanan yang ditunjukkan oleh Rasulullah sebagai pihak yang menggelar peristiwa tersebut, maupun oleh para imam Ahlul Bait yang memiliki misi untuk mempertahankan pesan dan risalah Idul Ghadir sepanjang zaman.
Ikhwan dan akhwat sekalian, Idul Ghadir bisa dilihat dari dua aspek, dari dua sisi yang berbeda. Sisi pertama adalah sisi peristiwanya, kejadiannya yang terjadi pada tahun 10 Hijriah. Sepulang dari Hajjatul Wada’ dan seterusnya. Ini salah satu sisi dari Idul Ghadir, peristiwanya, kejadiannya. Sisi lain adalah sisi kesinambungan pesan dan risalah Al-Ghadir. Ada dua hal yang berbeda ya.
Dalam dua hal ini, baik terjadinya peristiwa yang seperti saya katakan diselenggarakan, dilaksanakan, dan dikelola langsung oleh Rasulullah, Rasulullah yang bertindak sebagai yang mewujudkan event dan peristiwa tersebut atau masalah kesinambungan di mana di situ ada peran para imam Ahlul Bait dan para pengikut mereka sepanjang zaman. Dalam dua aspek dari peristiwa Ghadir yang sangat menarik dan sangat edukatif, sangat mengandung pelajaran bagi kita semua adalah bahwa dalam dua aspek tersebut terdapat manifestasi ajaran tentang perlawanan.
Baik Rasul dalam menyelenggarakan peristiwanya maupun para imam Ahlul Bait dan para pengikut mereka dalam menjaga pesan deklarasi Ghadir. Dalam keduanya ajaran tentang perlawanan adalah manifestasi yang paling nyata dari dua aspek peristiwa Ghadir tersebut.
Aspek Perlawanan dalam Diri Rasulullah
Orang mungkin bertanya, “Jika sepeninggal Rasul mungkin terjadi banyak hal yang menyebabkan para imam harus melawan dengan berbagai cara yang sampai menyebabkan mereka gugur syahid dan seterusnya.” Bagaimana dengan peristiwanya dan peran Rasul di dalamnya? Apakah ada aspek perlawanan di dalamnya? Apakah ada sisi perlawanan di dalamnya? Ada ikhwan dan akhwat sekalian, peristiwa Ghadir terjadi hanya dikarenakan Rasulullah bersedia untuk melawan situasi yang tidak kondusif pada saat itu untuk mendeklarasikan kepemimpinan Ilahi di muka bumi dengan mengangkat Ali bin Abi Thalib. Peristiwa ini tidak mungkin terjadi apabila Rasulullah tidak menunjukkan perlawanannya terhadap keadaan yang menyulitkan, terhadap keadaan yang berisiko dan bahkan membahayakan.
Anda mau tahu dari mana keadaan itu bisa kita pahami? Bahwa Rasulullah terancam, bahwa Rasulullah menghadapi situasi yang – yang menyulitkan. Fakta ini bisa kita pahami dengan jelas dari pernyataan Allah yang di dalamnya juga terkandung peringatan dan juga janji Allah Subhanahu wa Ta’ala mengawali peristiwa Ghadir. Artinya yang disampaikan oleh Allah sebelum peristiwa Ghadir. Yaitu ayat yang dengan tegas: “Ya ayyuhar rasulu balligh ma unzila ilaika mir rabbik, fa illam taf’al fama ballaghta risalatah.”
Wahai Rasul, sampaikan apa yang Allah turunkan ke atasmu. Ancaman Allah “fa illam taf’al fama ballaghta risalatah.” Kasarnya rapot engkau wahai Rasul nol kalau engkau tidak menyampaikan yang satu ini. Kalau yang satu ini engkau tidak sampaikan maka seakan engkau tidak pernah menyampaikan seluruh risalah Allah sebelumnya, semua yang engkau lakukan menjadi tidak berarti. Ini adalah sebuah peringatan.
Namun selain peringatan, ayat ini juga mengandung fakta bahwa hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan oleh Rasulullah. Hal ini mengandung banyak risiko, mengandung banyak kemungkinan resistensi dari sebagian orang. Mengandung kemungkinan bahaya. Bahkan itulah kenapa Rasulullah perlu, itulah kenapa Allah perlu untuk memberikan janji khusus yang tidak pernah beliau sampaikan – yang tidak pernah Allah sampaikan ketika Rasul diperintahkan untuk menyampaikan apapun lainnya – khusus untuk yang ini. Karena ada potensi permasalahan, ada potensi ancaman, ada potensi risiko. Maka Allah merasa perlu untuk menenangkan kekhawatiran-kekhawatiran tersebut. Menenangkan Rasulullah dari kekhawatiran-kekhawatiran tersebut dengan menegaskan “wallahu ya’shimuka minan nas”. Artinya apa? Jangan khawatir, jangan takut. Engkau aman. Allah yang menjaminmu. Allah yang akan mengamankan engkau. Allah yang akan menjagamu. “Wallahu ya’shimuka minan nas”. Dari apa? Bukan dari setan, bukan dari kesalahan-kesalahan, bukan. Minan nas. Allah akan menjagamu dari manusia. Artinya apa? Ada potensi ancaman, ada potensi risiko yang akan muncul entah dari siapa. Sehingga Allah kemudian memberikan jaminan kepada rasul-Nya dengan mengatakan, “Allah menjagamu dari manusia.”
Itulah ikhwan dan akhwat sekalian, dengan keputusan Rasul untuk tetap menyampaikan pesan penting ini, untuk mendeklarasikan hal penting ini, pada hakikatnya Rasulullah melawan situasi, menunjukkan sikap perlawanan, mengabaikan semua potensi risiko dan ancaman. Peristiwa Ghadir terjadi karena sikap perlawanan, ikhwan dan akhwat sekalian, yang ditunjukkan oleh siapa? Oleh sosok Rasul sebagai penyelenggara, sebagai yang mengelola peristiwa tersebut.
Aspek Kesinambungan: dari Karbala hingga Para Imam Berikutnya
Bagaimana dengan aspek yang kedua? Aspek kesinambungan, kelanjutan pesan dari deklarasi Ghadir. Para imam Ahlul Bait ‘alaihimus salam satu persatu dari zaman ke zaman, misi utama mereka adalah memastikan bahwa deklarasi Ghadir, bahwa penegakan kepemimpinan Ilahi di muka bumi harus bisa diperjuangkan. Dan untuk itu mereka siap untuk melawan sistem apapun yang berhadap-hadapan dengan sistem Ilahi ini. Dan semua perhatian yang mereka berikan, mereka berikan dalam rangka menegakkan apa yang menjadi pesan Ghadir yaitu pesan kepemimpinan Ilahi di muka bumi dan pesan penolakan terhadap kepemimpinan-kepemimpinan apapun lainnya. Itulah yang dilakukan oleh para imam Ahlul Bait ‘alaihimus salam.
Sehingga pada tahun 61 Hijriah, artinya sekitar 50 tahun dari peristiwa Ghadir, muncullah peristiwa Karbala. Hadir Abu Abdillah Al-Husain untuk memperjuangkan apa yang menjadi pesan dan risalah dari Idul Ghadir, dari Ghadir – mempertahankan masalah kepemimpinan Ilahi di muka bumi dengan apa? Dengan perlawanan yang tiada taranya. Dengan jihad, dengan pengorbanan, dengan gugurnya syuhada. Meski berujung dengan sangat tragis sebagaimana yang kita ketahui bersama dari peristiwa Karbala, ketahuilah bahwa Karbala hendak mempertahankan deklarasi Ghadir. Karbala hendak menjamin keberlangsungan kepemimpinan Ilahi di muka bumi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah di peristiwa Ghadir.
Baca juga: Pidato Sekretaris Dewan Syura ABI tentang Peristiwa Ghadir Khum
Itu yang terjadi ke atas Imam Husein 50 tahun sesudah peristiwa Ghadir. Bagaimana dengan para imam Ahlul Bait lainnya? Sama, Ikhwan sekalian. Kira-kira 25 tahun setelah peristiwa Karbala – di tahun 95 Hijriah, setelah syahidnya Imam Muhammad Al-Baqir dan dilanjutkan oleh putranya Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq ‘Alaihimus Salam – dalam situasi di mana umat Islam kehidupan sosial politik mereka dikacaukan dengan situasi berbagai gerakan perlawanan atau gerakan penolakan terhadap dinasti Umayyah dan berujung dengan berkuasanya Bani Abbas, Al-Imam Muhammad Al-Baqir dan Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq ‘alaihimus salam – yang sebenarnya revolusi pemikiran dan budaya adalah misi utama kedua imam ini dengan menyampaikan berbagai kebenaran, dengan menyampaikan berbagai ilmu pengetahuan kepada umat Islam sebagaimana yang diketahui dalam sejarah. Namun jangan lupa bahwa keduanya memberikan prioritas yang sangat besar di dalam memahamkan kepada umat Islam tentang kepemimpinan Ilahi di muka bumi dan penolakan mereka dengan satu cara dan lainnya – meskipun tidak terbuka, meskipun tidak dengan cara menghunus pedang, tetapi semua orang tahu bahwa para imam Ahlul Bait termasuk di dalamnya Al-Imam Muhammad Al-Baqir dan Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq, beliau keduanya memperjuangkan tentang risalah deklarasi Ghadir, memahamkan kepada semua pihak tentang keburukan, tentang ketidakabsahan kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbas – itulah yang terjadi.
Apakah ini klaim para pengikut Syiah bahwa para imam mereka menentang kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbas? Tidak, Ikhwan sekalian. Itulah yang terjadi dan itulah yang ditunjukkan oleh musuh-musuh mereka ketika para penguasa dari Bani Umayyah dan Bani Abbas tidak segan-segan untuk menghadang misi para imam Ahlul Bait, bahkan untuk menghabisi nyawa mereka dengan satu cara dan lainnya. Kenapa Imam Muhammad Al-Baqir yang kesehariannya mengajar umat Islam? Kenapa Imam Ja’far Ash-Shadiq yang kesehariannya menyampaikan ilmu pengetahuan kepada ulama kaum muslimin tetap disasar, tetap dibunuh, diracuni, dihabisi. Karena mereka tahu bahwa para imam Ahlul Bait dengan cara yang khas bagi setiap imam dan setiap zaman, mereka pada hakikatnya tengah menguatkan masalah kepemimpinan Ilahi di muka bumi sebagai yang terbaik untuk memimpin kaum muslimin dan pada saat yang sama menunjukkan kekurangan, kelemahan, dan kesalahan dari penguasa yang hidup pada masa mereka. Itulah kenapa mereka sampai dihabisi.
Jadi, kesinambungan deklarasi Ghadir dilakukan oleh para imam Ahlul Bait di setiap zaman dalam rangka menjaga risalah Ghadir dan semuanya memiliki warna yang sama yaitu warna perlawanan terhadap keadaan terhadap sistem yang berbeda pada saat itu. Perlawanan adalah nilai yang paling unggul yang merupakan garda terdepan dari semua perjuangan yang ditunjukkan oleh para imam Ahlul Bait.
Perlawanan Hari Ini: Bulan Sabit Perlawanan
Dan itulah yang kini kita saksikan, para pengikut Ahlul Bait, para pengiman dan pengamal Ghadir Khum di berbagai daerah dan kawasan. Para pengikut Ali bin Abi Thalib dari Beirut hingga Teheran, dari Baghdad hingga Sana’a. Mereka juga hendak menegaskan hal yang sama.
Ketahuilah bahwa para pejuang di negara-negara tersebut bukan dalam rangka membentuk bulan sabit yang bersifat sektarian untuk menyebarkan ajaran tertentu, untuk mengajak umat Islam kepada mazhab tertentu. Jika ada bulan sabit, bulan sabit ini adalah bulan sabit perlawanan yang berusaha untuk menolak hegemoni para penguasa yang zalim di muka bumi ini – untuk menentang tirani dan aniaya, penindasan yang dilakukan oleh para penguasa terhadap kaum tertindas. Itulah yang terjadi. Itulah yang kita saksikan pada hari ini bahwa semua bergerak dalam konteks perlawanan kepada segala sesuatu yang menentang apa yang menjadi tonggak yang ditegakkan dalam peristiwa deklarasi Ghadir yaitu masalah kepemimpinan Ilahi.
Baca juga: Mengapa Ghadir Tidak Pernah Selesai
Penutup dan Pesan untuk Komunitas di Indonesia
Kita semua, ikhwan dan akhwat sekalian, sebagai para pengikut dan pecinta Ahlul Bait, seharusnya kita juga mampu memastikan bahwa hal ini – bahwa peristiwa dan risalah Ghadir adalah sesuatu yang memiliki kapasitas yang sangat besar yang bisa dilembagakan untuk kita sebagai komunitas, sebagai para pengikut – untuk melembagakan sikap perlawanan kita. Perlawanan terhadap apa? Terhadap semua bentuk aniaya dan penindasan. Perlawanan terhadap semua bentuk ancaman yang akan membatasi hak-hak kita sebagai manusia, sebagai muslim, sebagai warga negara.
Kita tidak boleh tinggal diam di hadapan berbagai rintangan dan kesulitan yang kita hadapi. Cukup kita memastikan bahwa kita siap melawan. Maka di situlah kesempatan kita untuk tumbuh, kesempatan kita untuk berkembang, kesempatan kita untuk mengaktualisasikan keberadaan diri kita dan komunitas kita di negeri tercinta Indonesia. Nilai-nilai Ghadir sangat kaya bagi kita semua dalam rangka kita bisa mempertahankan semua prestasi yang sudah kita raih sejauh ini dan juga mengembangkan di waktu-waktu yang akan datang.
Itulah yang seharusnya menjadi pelajaran dan hikmah terpenting dari peristiwa Ghadir yang kita peringati pada hari ini.
Doa Penutup
Selain kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar Allah tetap membuat kita teguh, membuat kita tegar dalam menghadapi semua bentuk rintangan, semua kesulitan – pada saat yang sama, semoga Allah membuat kita kuat untuk terus melawan, untuk terus mencintai dan mengikuti Ali bin Abi Thalib dalam hal penegakan kebenaran, dalam hal perlawanan terhadap berbagai bentuk penindasan. Ketahuilah, ikhwan dan akhwat sekalian, selama masih ada cinta kepada Ali bin Abi Thalib, selama masih ada Idul Ghadir, berarti Islam kita akan terus tegak berdiri sampai kapan? Sampai tumbangnya semua bentuk kezaliman dan sampai ketika dunia dipimpin oleh keadilan Ilahi yang menyeluruh. Semoga kita semua diberi kesempatan untuk hadir dan mengalami situasi tersebut sebagaimana yang dijanjikan oleh agama kita.
Washallallahu ‘ala Muhammadin wa alihi ath-thahirin, wa a’adallahu ayyamakum.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baca juga: Ayatullah Rashad: Ghadir Khum Realitas Eksistensial yang Terus Hidup







