Pendidikan
Arbain Jalan Cinta

Oleh: Ustadz Muhammad Elyas
Ketua DPD ABI Bekasi dan Pengajar Hauzah Ilmiah Shiddiqah Zahra, Condet, Jakarta Timur
Ahlulbait Indonesia, 4 Agustus 2026 — Hari Arbain adalah empat puluh hari setelah kesyahidan Al-Husain, cucu Nabi Muhammad saw., di Karbala pada tahun 61 H. Mengapa empat puluh hari? Dan mengapa hanya pada Imam Husain as.?
Jawabannya telah diisyaratkan jauh sebelumnya. Imam Hasan al-Mujtaba as. pernah berkata kepada adiknya, Al-Husain as.:
لَا يَوْمَ كَيَوْمِكَ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ
“Tiada hari seperti harimu, wahai Aba Abdillah.”
Jauh sebelum peristiwa itu terjadi, Rasulullah saw. telah mengabarkannya kepada para sahabat. Sambil menangis, beliau menceritakan tragedi yang akan menimpa cucunya sepeninggal beliau. Seluruh orang yang berada di dalam masjid pun turut menangis.
Baca juga: Arbain: Ziarah Cinta di Tengah Badai Sejarah
Sabda Nabi itu kemudian dikenang oleh Imam Ali as. ketika dalam perjalanan menuju Shiffin. Di tepi Sungai Efrat beliau berucap:
صَبْرًا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ
“Bersabarlah, wahai Aba Abdillah Al-Husain.”
Pada hari Asyura, Karbala menjadi mimbar Al-Husain as. dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar. Demi tegaknya Islam dan terwujudnya islah di tengah umat Nabi saw., Imam Husain bersama keluarga dan para sahabatnya bangkit melawan kezaliman hingga mereka syahid.
Setelah itu, Sayyidah Zainab, Imam Ali al-Sajjad as., para wanita, dan anak-anak syuhada ditawan. Keluarga Rasulullah saw. digiring dari Karbala, diarak melewati dusun demi dusun menuju Kufah, lalu ke Syam.
Atas musibah yang menimpa Aba Abdillah Al-Husain as. dan pengorbanan agungnya itu, Rasulullah saw. dan Ahlul Bait beliau as. berduka cita. Umat yang mencintai mereka pun turut larut dalam duka tersebut.
Hakikat Cinta
Tanyakan kepada jutaan manusia yang datang dari berbagai negara itu, mengapa pada hari Arbain mereka berhimpun untuk berziarah kepada Al-Husain di Karbala?
Satu fakta menjawab: Hubbul Husain yajma’una.
“Cinta kepada Al-Husain menghimpun kami.”
Rasulullah SAW. telah bersabda:
حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا
“Husain dariku dan aku darinya. Allah mencintai siapa saja yang mencintai Husain.”
Umat Islam tentu mencintai Nabi Muhammad saw. Mereka juga mengaku mencintai cucu beliau, Al-Husain as. Namun sejarah meninggalkan sebuah pertanyaan: bagaimana para pecinta memperlakukan orang yang mereka cintai?
Mungkin Al-Husain hidup di hati sebagian kaum pada masa itu. Namun di Karbala, apakah mereka membelanya? Pada saat yang sama, pedang-pedang mereka justru dihunuskan ke leher Imam Husain as. Beliau beserta keluarganya menjadi asing di tengah umat kakeknya sendiri, kehausan di dekat Sungai Efrat. Beginikah cara umat membalas kebaikan Nabinya?
Bagi para pecinta pada zaman ini, cukupkah cinta diwujudkan dengan memperdengarkan kisah-kisah karamah dan qasidah-qasidah pujian kepada sosok yang dicintai?
Baca juga: Arbain Imam Husain: Menjaga Ingatan, Menyelami Kebenaran
Sementara itu, Sayyidah Zainab, putri Amirul Mukminin Ali as., pasca-Asyura tetap melawan meskipun berstatus tawanan. Di hadapan penguasa ia berkata:
“Kerahkanlah seluruh tipu dayamu! Demi Allah, kalian tidak akan mampu menghapus perkara kami, Ahlulbait Nabi.”
Imam Ali Zainal Abidin as. pun membungkam seluruh penghuni istana Syam dengan satu pertanyaan:
“Siapakah Muhammad yang disebut dalam azan itu?”
Dalam cinta, Qais memperlihatkan kerinduannya kepada Laila laksana seorang yang menanti bulan. Ketika siang ia menunggu malam, ketika malam tiba ia menunggu munculnya bulan. Seluruh hidupnya diisi dengan upaya menarik perhatian Laila.
Kadang-kadang ekspresi cinta tampak aneh di mata manusia. Namun bukankah cinta berawal dari mata lalu turun ke hati? Orang-orang berkata, “Dia telah menjadi majnun.”
Qais pun berkata:
أَمُرُّ عَلَى الدِّيَارِ دِيَارِ لَيْلَى
أُقَبِّلُ ذَا الْجِدَارَ وَذَا الْجِدَارَا
وَمَا حُبُّ الدِّيَارِ شَغَفْنَ قَلْبِي
وَلَكِنْ حُبُّ مَنْ سَكَنَ الدِّيَارَا
“Aku mendatangi rumah Laila, lalu kucium tembok-temboknya.”
“Bukan bebatuan rumah itu yang kucintai, melainkan penghuni yang tinggal di dalamnya.”
Demikian pula Jabir bin Abdillah al-Anshari. Meskipun matanya telah kehilangan penglihatan, hatinya seolah ditarik kuat oleh magnet pusara Al-Husain. Kerinduan itu menggerakkan langkahnya menuju Karbala, menempuh perjalanan sekitar 1.400 kilometer dari Madinah melintasi padang pasir yang panjang dan melelahkan.
Pada Arbain pertama, 20 Safar 61 H, sahabat setia Nabi saw. itu bersama Atiyah, sahabat Imam Ali as., tiba di Karbala dan menjadi peziarah pertama Imam Husain as. Sebelum berziarah, Jabir mandi di Sungai Efrat, mengenakan pakaian bersih, lalu memakai wewangian. Setelah itu ia berjalan sambil berzikir pada setiap langkahnya.
Sesampainya di pusara Imam Husain as., Jabir jatuh pingsan. Atiyah memercikkan air kepadanya. Ketika sadar, Jabir memanggil:
يَا حُسَيْنُ، يَا حُسَيْنُ، يَا حُسَيْنُ
Namun yang terdengar hanya desir angin gurun.
حَبِيبٌ لَا يُجِيبُ حَبِيبَهُ
“Sang kekasih tidak menjawab panggilan pecintanya.”
Mengapa demikian, wahai sahabat mulia?
Jabir menjawab:
وَأَنَّى لَكَ بِالْجَوَابِ وَقَدْ شُخِبَتْ أَوْدَاجُكَ عَلَى أَثْبَاجِكَ، وَفُرِّقَ بَيْنَ رَأْسِكَ وَبَدَنِكَ
“Bagaimana mungkin engkau menjawab, wahai putra Rasulullah, sedangkan darah telah mengalir dari urat-uratmu membasahi tubuhmu dan kepalamu telah dipisahkan dari jasadmu.”
Ziarah Arbain, Kongres Pecinta Al-Husain Sedunia
Arbain Imam Husain as. merupakan kongres pecinta Al-Husain sedunia. Umat yang berasal dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya berhimpun di Karbala dalam satu warna duka dan satu rasa.
Para pecinta dalam ziarah Arbain laksana dua lautan yang bertemu.
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian bertemu.”
Dua lautan itu adalah lautan napak tilas dan lautan pelayanan.
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ
“Di antara keduanya terdapat pembatas.”
Di antara kedua lautan nilai itu berdiri sosok Aba Abdillah Al-Husain as.
Baca juga: Arbain, Puncak Kesempurnaan Asyura
Dalam ziarah Arbain, jutaan manusia bergerak dari satu tiang ke tiang berikutnya yang berjarak sekitar lima puluh meter, berjalan kaki menuju Karbala sejauh sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh kilometer. Sebagian telah jauh di depan, sebagian berada di tengah perjalanan, dan sebagian lainnya masih melangkah dari belakang.
Mereka berjalan dan beristirahat tanpa khawatir kehausan ataupun kelaparan. Tidak ada yang dibiarkan terlantar. Penduduk Irak dengan penuh kemurahan hati menjamu para tamu Al-Husain as. Maukib-maukib didirikan di sepanjang jalan, menyajikan makanan dan minuman secara cuma-cuma. Para pelayan terus berseru:
“Ya hala’ biz zuwwar!”
“Selamat datang, wahai para peziarah. Silakan terimalah jamuan ini dari kami.”
Tempat-tempat istirahat pun disediakan tanpa dipungut biaya demi memperoleh keberkahan dari para peziarah Al-Husain as.
Itulah jalan cinta Husaini. Dalam perjalanan menuju Karbala, panji-panji Husaini berkibar, bait-bait ma’tam dilantunkan. Semakin dekat ke haram Imam Husain dan haram Abul Fadhl al-Abbas as., semakin padat lautan manusia yang berhimpitan dan bergelombang.
Fenomena ini mengguncang nyali musuh-musuh Islam pada zaman ini, Amerika dan Israel, sekaligus membuktikan bahwa darah pada akhirnya mengalahkan pedang.
Di pusara suci Imam Husain as., Jabir bin Abdillah al-Anshari mengucapkan salam:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَيَّتُهَا الْأَرْوَاحُ الطَّيِّبَةُ الَّتِي بِفِنَاءِ الْحُسَيْنِ أَنَاخَتْ بِرَحْلِهَا، أَشْهَدُ أَنَّكُمْ قَدْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَأَمَرْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَيْتُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَعَبَدْتُمُ اللَّهَ حَتَّى أَتَاكُمُ الْيَقِينُ.







